Cerpen Pilihan

Cerpen | Putriku Penderita Skizofrenia

7 Desember 2018   01:10 Diperbarui: 7 Desember 2018   01:42 283 10 1

Di luar hujan sangat deras, terpaksa Kelly mampir ke kedai Kopi ini walaupun Kelly bukan penikmat kopi. Kelly memilih duduk di sudut ruangan yang menghadap ke jendela, dari tempat duduknya ini Kelly bisa memandang keluar dan menikmati hujan dari dalam kedai

Alunan lagu A Groovy Kind Of Love nya Phil Collins mengalun lembut di dalam kedai kopi menambah sendu suasana hati Kelly yang memang sedang sedih, dan membuat matanya berkeaca-kaca, kemudian tanpa bisa dibendung air matanya mulai menetes, untung saat ini pengunjung kedai sepi, sehingga Kelly tidak menjad pusat perhatian. Di benak Kelly masih terbayang betapa cantik  putri sahabatnya dengan gaun pengantinnya yang indah, senyum bahagia tanpa menghiasi putri sahabatnya itu. Kehidupan putri sahabatnya itu berbanding terbalik dengan putrinya sendiri ,yang berusia 35 tahun, belum menikah, dan berjuang menghadapi Skizofrenia selama 10 tahun ini.

"Putri anda menderita Skizofrenia ." Ujar Psiakter kepada Kelly.

Suara Psiakter itu seperti petir disiang bolong di telinga Kelly dan membuat dunianya runtuh seketika  Walaupun perkataan dokter itu sudah 10 tahun tapi Kelly masih ingat benar rasa sakitnya, dan bagaimana dirinya masih tidak bisa terima dengan kenyataan itu,

 "Saya dan Papanya membesarkannya dengan banyak cinta, walaupun  Papanya sudah meninggal selagi Kiala masih kecil. Saya juga memberikan pendidikan iman dan agama yang baik,.dan keluarga kami tidak punya riwayat gangguan mental tersebut."  Ujar Kelly tersendat-sendat menahan tangis.

"Kenapa bisa menimpa anak saya dok?" Ujar Kelly dengan histeris,

"Banyak faktor yang menjadi penyebabnya seperti genetika, lingkungan sosial, gizi, hormonal, bahan kimia dalam rahim ibu selama kehamilan, dinamika sosial, pengalaman stres seseorang, paparan virus, penggunaan vitamin, pengguna narkoba, struktur kmia di otak." Dokter diam sesaat sambil menatap Kelly.

Dokter kemudian berbicara kembali:

"Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahuinya, tapi untungnya ibu cepat membawa putri ibu, karena putri ibu ini masih mengalami gejala tahap awal.

"Dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu pengobatan pasien penderita Skizofrenia, karena pasien cenderung menolak pengobatan."

Dokter masih menjelaskan banyak hal kepadanya, tapi telinga Kelly tidak sanggup lagi mendengarnya, pikirannya kalut. Ia keluar dari ruangan dokter dengan tubuh lunglai dan tidak ada gairah, ia tahu jalan sulit yang akan dilaluinya, seperti hari ini saja setelah berhasil membujuk putrinya untuk berobat ke psiakter, putrinya tidak tahan berlama-lama disitu dia keluar dari ruangan dokter sebelum sempat mendengar hasil diagnosanya.

 Sejak suaminya meninggal perekonomian keluarga  hanya mengandalkan pensiunan suaminya yang tidak seberapa, sementara Kelly harus menghidupi 3 orang anaknya. Putrinya, Kiala sebagai anak pertama mengerti kondisi orang tuanya tidak pernah menuntut banyak kepada dirinya, bahkan setelah tamat SMA, Kiala memilih bekerja, dan setelah setahun bekerja Kiala melanjutkan kuliah di Universitas negeri jurusan Teknik Sipil dengan biaya sendiri. Walaupun Kiala harus bekerja sambil kuliah tapi Kiala tetap lulus dengan predikat CumLaude.

Bekerja sambil kuliah, apalagi dengan tugas kuliah yang menumpuk, membuat Kiala tidak bisa menikmati banyak waktu untuk bersenang-senang bersama teman kuliah ataupun teman kerjanya, bahkan Kiala tidak punya waktu untuk pacaran, tulah yang membuat Kiala menolak banyak pria yang mendekatinya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, putrinya Kiala juga fokus mencari kerja, dan berkat kerja kerasnya selama ini, Kiala berhasil masuk ke sebuah perusahaan kontraktor besar. Baru satu tahun Kiala bekerja di perusahaan kontraktor tersebut, ketika Kiala didiagnosa dokter menderita Skizofrenia, dan membuat Kiala harus kehilangan pekerjaannya karena Kiala tidak fokus lagi dalam bekerja, mudah marah, senstif dan juga delusi yang dialaminya.

Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat putri yang memiliki kecerdasan, dan segudang talenta harus kehilangan segalanya karena Skizofrenia. Setiap kerja keras putrinya terbang bersama angin.

"Kenapa aku yang harus mengalami ini, Ma?" Ujar putrinya suatu hari ketika dia tahu bahwa dia adalah penderita Skizofrenia.

Mendengar perkataan putrinya hati Kelly seperti diiris sembilu.

Perjuangan panjang yang dilewati Kelly dan putrinya dari penolakan putrinya akan kondisinya sampai putrinya bisa berdamai dengan dirinya dan menerima kondisinya sebagai penderita Skizofrenia.

"Kecerdasan yang kumiliki sepertinya percuma. Apa yang kuperjuangkan juga sia-sia." Sampai sekarang aku belum menjadi apa-apa dan untuk kesekian kalinya aku harus kehilangan pekerjaan." Ujar putrinya sangat sedih ketika dia kembali harus kehilangan pekerjaan karena Skizofrenianya kambuh.

Kelly sekalipun sangat sedih terus berusaha menguatkan dan membangkitkan semangat putrinya, dan putrinya memang seorang pejuang tangguh sekalipun sering terjatuh dan kadang putus asa menyergap, putrinya Kaila tetap bangkit dan berjuang terus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2