Mohon tunggu...
Ircazan Arshana
Ircazan Arshana Mohon Tunggu...

Penulis pemula, Menyampaikan pandangan lewat kata

Selanjutnya

Tutup

Bola

Fanatisme Suporter Indonesia dan Melorotnya Prestasi Timnas

17 Juli 2018   18:57 Diperbarui: 17 Juli 2018   19:14 0 0 1 Mohon Tunggu...
Fanatisme Suporter Indonesia dan Melorotnya Prestasi Timnas
Petugas keamanan berusaha melindungi pemain Malaysia dari lemparan suporter Indonesia

Masih segar di ingatan kita, ketika timnas Indonesia sekali lagi harus memenuhi target menjuarai ajang AFF Cup 2018. Yang lebih menyakitkannya lagi, timnas Indonesia dikalahkan oleh musuh bebuyutan timnas Malaysia. Ini bukan yang pertama kali, mengingat pada ajang yang sama di tahun 2017, timnas juga kalah melawan Malaysia, di babak semi final dan setelah melakukan adu penalti.

Hasilnya tentu saja, masyarakat Indonesia merasa sedih. Bentuk kesedihan tersebut dapat dilihat dengan jelas di sosial media. Ada beragam bentuk komentar netizen mulai dari support agar timnas bisa lebih baik, hujatan, cacian, hingga tuntutan kepada PSSI untuk melakukan reformasi. Namun, yang membuat miris adalah perilaku yang ditunjukkan suporter yang hadir langsung menyaksikan timnas di Stadio Gelora Delta Sidoarjo, setelah babak adu penalti menghasilkan Malaysia berhak lolos ke babak final. 

Banyak suporter yang melemparkan botol bahkan batu ke arah pemain Malaysia. Hal ini membuat pihak kepolisian harus turun tangan dalam mengamankan pemain Malaysia agar dapat masuk ke ruang ganti stadion dengan aman. Namun, jauh sebelum babak adu penalty tersebu, suporter Indonesia telah menunjukan perilaku yang buruk dengan menyoraki lagu kebangsaan Malaysia. Hal ini telah menjadi perbincangan yang hangat bagi netizen Malaysia. Bahkan banyak juga yang meminta agar Indonesia tidak lagi dipercaya menjadi host ajang olahraga apapun.

Sungguhlah miris jika kita melihat perilaku tersebut. Terlebih lagi, tidak lama lagi kita akan menjadi host dalam ajang olahraga yang lebih besar, yaitu Asian Games. Jangan sampai perilaku yang mencoreng nilai sportivitas tersebut terjadi kembali.

Tindakan tidak terpuji tersebut juga sering kali terlihat di ajang liga lokal. Mulai dari liga tingkat tarkam, amatir hingga yang katanya terbaik di Indonesia, masih sering terjadi pertikaian antar suporter. Duel antara Persija melawan Persib merupakan salah satu duel yang dikenal memiliki potensi kerusuhan yang sangat tinggi. Pertandingan yang digembor-gemborkan sebagai "El Classico" Indonesia yang harusnya menjadi laga yang paling ditunggu justru menjadi laga yang paling diwaspadai. 

Hari pertandingan tersebut tak ubahnya medan perang dimana banyak apparat bersenjata siaga di sekitar lokasi pertandingan. Untuk mencegah kerusuhan pertandingan sering kali harus dilakukan di tempat netral dengan jumlah penontoh yang dibatasi. Yang lebih memprihatinkannya lagi adalah adanya suporter yang tewas saat menonton laga tersebut. Kondisi yang sama juga bisa dilihat pada duel-duel klasik lainnya.

Sungguh sangat disayangkan sebuah pertandingan yang sangat ditunggu dan tentunya menjanjikan keuntungan yang sangat tinggi harus diperlakukan sebagai pertandingan yang sebisa mungkin dihindari. Padahal kalau saja suporter dapat menjunjung nilai sportivitas dalam pertandingan,  bukan tidak mungkin liga Indonesia menjadi salah satu liga yang memiliki keuntungan komersial dan daya tarik yang tertinggi di sepak bola Asia.

Jika kita lihat perbandingan antara perilaku suporter Indonesia dengan hasil yang diraih, bisa dibilang tidakan anarkis tersebut merupakan perwujudan dari kesedihan suporter atas hasil yang diraih timnas. Namun, jika dilihat dari perkembangan dunia olahraga saat ini, saya menemukan ada hal yang menarik yang berkaitan antara suporter dengan hasil yang diraih timnasnya.

Timnas Jepang sebagai salah satu kekuatan sepak bola terkuat di Asia dikenal mempunyai suporter yang tidak kalah fanatik. Namun, suporter Jepang juga dikenal sebagai suporter yang memiliki perilaku yang sangat baik. Hal itu bisa kita lihat pada ajang Piala Dunia lalu, dimana setiap selesai pertandingan, suporter Jepang selalu bahu membahu dalam membersihkan stadion, terlepas dari hasil yang diraih timnasnya. Tidak ada protes berlebih bahkan sampai aksi lempar batu terhadap pemain lawan.

Contoh tersebut hendaknya dapat ditiru oleh suporter timnas. Selama ini kita selalu beralasan bahwa tindakan tidak terpuji yang kita lakukan merupakan bentuk kecintaan kita yang tinggi terhada timnas, selain itu juga sebagai balasan terhadap tindakan yang pernah dilakukan suporter timnas lain. Banyak juga anggapan yang menyatakan bahwa banyak suporter di Eropa dan Amerika Selatan yang menunjukkan fanatisme berlebihan.

Namun, sampai kapan kita mau mengikuti budaya yang salah dan membalas perbuatan yang buruk dengan hal yang sama buruknya. Bukankah budaya kita sendiri sudah mengajarkan perilaku sopan santun dan ramah tamah dengan orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x