J Ernawanti
J Ernawanti

Guru bagi Ibu Pertiwi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mewujudkan Generasi Cinta Baca

9 Agustus 2018   18:00 Diperbarui: 10 Agustus 2018   19:25 846 3 2
Mewujudkan Generasi Cinta Baca
Ilustrasi anak tidak suka baca buku (thinkstock/Muralinath)

Dr. Seuss, pengarang dan kartunis ternama Amerika, suatu kali mengatakan bahwa semakin banyak membaca semakin banyak yang diketahui, semakin banyak yang dipelajari semakin banyak tempat yang dapat dikunjungi. 

Ungkapan Dr. Seuss senada dengan apa yang dikatakan oleh seorang sastrawan Perancis penerima Nobel, Franois Charles Mauriac. Ia mengatakan membaca adalah pintu terbuka bagi cakrawala dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa membaca memberikan manfaat yang besar dalam hidup seseorang. Setidaknya ada dua alasan mengapa membaca itu sangat penting. Yang pertama, membaca menjadi faktor yang sangat penting dalam kesuksesan pendidikan seseorang. 

Membaca membuat siswa mendapatkan nilai yang lebih baik di semua mata pelajaran dan memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan mereka yang tidak suka membaca (Krashen 1993; Cunningham and Stanovich 1991; Stanovich and Cunningham 1993). 

Hal ini sangat mungkin karena membaca  memampukan siswa untuk mendapatkan informasi tentang dunia, masyarakat, dan berbagai kejadian dan ini dapat membantu cara berpikir dalam mengerjakan bahkan menganalisa sesuatu. Orang yang sukses dalam pendidikan mendapatkan kesempatan besar untuk menjadi sukses dalam hidup.  Yang kedua adalah membaca memungkinkan orang untuk lebih bijaksana dalam bertindak. 

Orang yang banyak membaca akan lebih banyak paham dan lebih berhati -- hati dalam mengambil keputusan serta tidak mudah percaya begitu saja dengan informasi yang beredar, akan tetapi dengan kritis mencari kebenarannya.

Sayangnya, kebanyakan generasi muda sekarang ini tidak begitu suka membaca dan lebih mengerjakan hal ini sehingga mereka kehilangan dua manfaat besar membaca seperti yang disampaikan di atas. Studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di  Britania Baru menemukan bahwa minat baca orang Indonesia menempati berada di peringkat 60 dari 61 negara (The Jakarta Post, Maret 2016). 

Ini tidak mengherankan karena kebanyakan orang Indonesia memilih menggunakan media sosial daripada membaca buku. Ini dapat dibuktikan ketika Indonesia menempati posisi 4 besar pengguna Instagram terbanyak di dunia, dan hampir menyamai negara maju, Amerika Serikat (The Statistic Portal, Juli 2018). 

Lebih dari 50 juta penduduk Indonesia menggunakan Instagram. Lebih miris lagi, survei penelitian yang dilakukan oleh perusahaan research market dunia, TNS, mengatakan bahwa mayoritas pengguna aktif Instagram di Indonesia adalah mereka yang masih aktif belajar di bangku sekolah (Tribuntechno, 15 Januari 2016). Mengapa minat baca generasi Indonesia begitu rendah sedangkan minat menggunakan sosial media begitu tinggi?

Setidaknya ada dua alasan mengapa minat baca generasi muda Indonesia rendah. Yang pertama, membaca tidak dijadikan sebagai gaya hidup atau kebiasaan. Keluarga tidak menjadikan membaca buku sebagai aktifitas yang menyenangkan di rumah. Akibatnya, televisi dan smartphone menjadi hal yang lebih menyenangkan. Ketika ada hal yang lebih menyenangkan, membaca menjadi sesuatu yang membosankan. 

Ketika anak masuk sekolah dan menemui banyak bacaan, mereka pun menjadi kesulitan sehingga belajar sama dengan membaca, sama -- sama membosankan. Yang kedua, akses mendapatkan buku yang berkualitas tidak begitu mudah. Sebagai contoh, bangunan perpustakaan tetap ada di sekolah namun tidak diperlengkapi dengan buku dan pustakawan yang berkualitas. 

Buku yang terdapat di pustaka adalah buku yang sudah using bahkan berdebu. Penjaga pustaka juga adalah orang yang tidak kompeten di bidangnya sehingga siswa tidak begitu tertarik masuk ke perpustakaan.

Perkembangan zaman dalam satu dekade saja begitu pesat. Teknologi informasi komunikasi berkembang begitu cepat sehingga dalam waktu yang singkat saja, satu teknologi dengan cepat digantikan oleh teknologi lain. 

Sebagai contoh, Blackberry Messengers dengan cepat ditiggalkan dan beralih ke Line dan Whatsapp, kemudian Facebook mulai ditinggalkan dan beralih ke instagram, twitter, snapchat, dll. Tidak hanya itu, media cetak sudah mulai beralih ke portal media online. Informasi ada di dalam gadget.

Banyak orang berlomba -- berlomba untuk memperkenalkan dirinya di media sosial untuk mendapatkan pengakuan. Tidak terkecuali dengan generasi muda. Mereka melakukan hal yang sama bahkan cenderung berlebihan. 

Elbert Hubbard seorang penulis Amerika yang terkenal suatu kali mengatakan persiapan yang terbaik untuk masa depan adalah melakukan hal yang positif pada hari ini. Kutipan ini sepertinya tidak begitu berlaku bagi kebanyakan remaja Indonesia yang tidak dapat mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial, Instagram. Tidak heran apabila Instagram menempati posisi tertinggi sebagai media "Cyber- bullying"(BBC News, 19 Juli 2017).

Masa puberitas yang berdampak pada emosi dan relasi sosial generasi muda sering membuat mereka jatuh dalam perilaku negatif. Kepekaan terhadap teknologi ini tidak diiringi dengan kepekaan terhadap kualitas diri. 

Banyak generasi ini menghabiskan waktu menggunakan teknologi ini dan kehilangan minat baca. Kehilangan minat baca sangat memungkinkan mereka akan gagal menghadapi tantangan global dan kalah bersaing dengan negara-negara lain. 

Generasi yang kehilangan minta membaca ini kelak akan menjalankan negara ini, itu artinya generasi dengan minat baca rendah dapat membahayakan bangsa ini.Tetapi tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, sebelum terlambat terlalu jauh, harus ada usaha-usaha yang dilakukan untuk membangkitkan minat baca generasi muda.

Usaha-usaha untuk memperbaiki minat baca siswa sudah dilakukan antara lain berupa naungan payung hukum di bawah UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Pencanangan Gerakan Membaca. 

Disusul dengan Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, bentuk implementasinya berupa penggunaan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran. Program pemerintah ini sangat baik sekali, hanya saja tidak banyak sekolah yang melakukannya dengan berbagai alasan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3