Mohon tunggu...
Humaniora Aesthetic
Humaniora Aesthetic Mohon Tunggu... Mengikat ilmu dengan menulis

pegiat literasi pemula, menuliskan segala hal tentang pernak-pernik kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pendidikan Indonesia Cantik tapi Tak Menawan

17 November 2019   14:35 Diperbarui: 17 November 2019   15:33 56 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan Indonesia Cantik tapi Tak Menawan
Sumber: merdeka.com

Penisbatan cantik terhadap sesuatu adalah penghargaan bahwa yang sesuatu yang dimaksud itu memiliki nilai , yaitu cantik. Pemberian label cantik biasanya karena sesuatu yang dinilai itu memiliki keunggulan atau keunikan tersendiri. Misal perempuan yang dikatan cantik, biasanya karena rupanya yang rupawan, wajahnya putih atau body tubuhnya yang seksi dan menarik bagi yang melihatnya. Dan karenanya melihat kecantikan itu banyak orang yang tertawan hati dan pandangannya lantas kemudian terkesan dan kagum serta ada hasrat untuk memilikinya atau menikmatinya atau bahkan membuatnya menjadi lebih cantik lagi sampai-sampai tidak ada yang menandinginya.

Maka, disitulah cantik dan menawan itu bersanding. Dimana cantik terlihat bagus karena fisik yang bagus juga dan menawan karena kecantikan dari dalam (inner beauty) Tapi, ada kalanya cantik dan menawan itu tak bisa bersanding. Bisa dikarenakan ia cantik diluarnya saja namun buruk di dalam misalkan akhlaq dan pribadinya yang buruk. Sehingga walaupun cantik dan berperas indah tidak ada orang yang memperdulikannya karena perangainya yang tak menawan. 

Ah...tapi sudahlah tulisan kali ini bukan sebuah ekspreksi jatuh cinta kepada si dia yang telah berada di pelaminan. Melainkan analogi bahwa pendidikan itu ibarat seorang perempuan. Karena pendidikan itu penting dan dibutuhkan. Penting karena setiap orang tidak ada yang pernah tidak dididik. Dibutuhkan karena ia seksi. Bahkan pendidikan juga hamil, karena darinya lahirlah manusia-manusia pintar dan beradab. Tetapi, penting dan dibutuhkannya pendidikan sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa, ada saja kekurangan. Ia harus cantik dan menawan.

Cantik itu menggunakan standar fisik dan sudut pandang visual, sedangkan menawan adalah pancaran aura psikis yang muncul berwujud sikap dan perilaku baik. Perumpamaan sederhana, cantik itu strukturalisme dan menawan itu fungsionalisme. Keduanya mirim tapi tidak sama. Perempuan cantik belum tentu menawan, tapi perempuan menawan biasanya cantik.

Pendidikan kita bisa dikatakan cantik. Banyak indikatornya seperti variasi konten pendidikan yang beragam, fasilitas yang beraneka macam, dan juga sistem yang senantiasa berubah-ubah. Ya, ibarat perempuan yang selalu berupaya tampil cantik dengan beragam kosmektik. Ada yang gemar pakai Wardah yang butuh kehalalan, Jafra yang bonafid dan ingin kulit kenyal, atau cukup pakai Kelly yang harganya setara se-ons cabe keriting saat ini. Kecantikannya bergantung pada kemampuan finansial dan juga kemampuan memposisikan diri.

Semuanya memiliki perspektif masing-masing dan pangsa pasar yang berbeda pula. Ibarat perempuan desa, pasti angannya tak jauh dari tradisi kampung yang murah meriah gurih, berbeda dengan wanita kota yang keinginannya melebihi perempuan desa. "Buat cantik dan menarik butuh modal", begitulah yang mereka katakan.

Cantiknya pendidikan kita itu ada pada ragam pendidikan. Respek pada kehidupan seorang teman yang masa mudanya ibarat murid 24 jam. Bangun subuh lalu mengaji, setelahnya pergi sekolah sampai waktu zhuhur, lalu sekolah Diniyah. Balum usai juga, waktu maghrib ngaji "Kalong" di pesantren sampai jam 9 malam. Akhirnya tidur pun harus di pondok atau masjid. Keren kan?

Satu teman lagi, sekolahnya di sekolah "favorit" kata orang-orang sih begitu. Mereka bilang sekolah favorit itu harus mahal, sekolahnya sampai sore hari atau ngetren disebut "fullday school", "plus","smart", atau "Islam terpadu". Ada duit jadi ya bisa saja milih-milih sekolah kaya itu. Ada satu kawan lagi, ia sekolah formal hanya sampai SD. setelah itu ayahnya mengirimnya ke pondok pesantren berbekal sekarung beras dan tas ransel yang entah muat berapa baju. Ia pergi ke pesantren dan lama tak melihat rupanya. Sejak saat itu sampai enam tahun berlalu. Pas pulang kampung langsung jadi khatib jum'at, penceramah, mimpin doa, atau diminta sambutan  mewakili sesepuh saat undangan. Padahal, ia juga tak sepuh-sepuh amat, ubannya saja belum muncul hingga hari ini.

Contoh di atas nampaknya cukup membuktikan bahwa pendidikan kita itu beragam sesuai dengan peruntukannya. Masyarakat diberi opsi yang banyak soal lembaga pendidikan untuk mendewasakan anak-anaknya. Ketersediaan banyak pilihan pendidikan itu cantik, karena ada pilihan-pilihan yang bisa diambil sesuai dengan kemampuan. Kalau berduit ya bersekolah yang biayanya  butuh banyak duit. Ingin negeri yang gratis ya silahkan, ingin yang fullday scholl atau plus nggak ada yang nglarang. Ingin ke pesantren juga tidak ada yang menghalangi. Bebas , luwes, fleksibel kan itu cantik?

Ingin menerawang indikator lain? Pendidikan kita itu cantik, terutama pesantren dan sekolah Islam terpadunya. Bukan karena keduanya hebat sih hingga mengalahkan pendidikan negeri, tapi karena unik dan indigenous saja. Pakar pendidikan luar negeri banyak berkunjung ke Indonesia bukan untuk meneliti Internatinal school-nya Indonesia atau sekolah yang bonafid. Mereka tertarik dengan orisinilitas pesantren hasil akulturasi agama dan budaya. Mereka juga sebenarnya bertanya-tanya mengapa pendidikan yang sedemikian unik itu tidak diadopsi langsung oleh pendidikan nasional Indonesia saja. Bingung? sama saya juga.

Pada akhirnya, pendidikan kita tidak menawan. Terminologi "menawan" itu tendensinya di depan supaya menarik, maka harus didepan. Jadi, apakah pendidikan kita menawan yang menyebabkan muncul daya tarik negara lain untuk mengikutinya. Saat ini tidak dan mustahil. Ada upaya pendidikan ala Islamic World Class dan Islam Nusantara yang dicanangkan menjadi brand image pendidikan Islam kita, namun ya itu kita tak tahu berhasil atau tidak. Soalnya  jelas pendidikan pendidikan kita bukan menjadi destinasi utama dalam kancah pendidikan global. Cantik sih ia, tapi tak menawan.

Kok bisa begitu? Ya ini menjadi pertanyaan. Banyak sebab dan faktor yang mempengaruhi. Kalau foktor-faktor itu saya paparkan sedetail-detailnya, nanti akan ada hati yang tersakiti mirip lagunya teteh Rossa itu. Saya paparkan subtantifnya saja. Pertama, politik pendidikan. Ini masalah sedari dulu, orang-orang yang mengurusi birokrasi pendidikan bukan orang yang berlatar belakang keahlian bidang pendidikan, atau orang yang mendesain kurikulum dipegang oleh yang tidak pernah mengajar sekalipun. Kan konyol, Sistem menjadi tidak ideal karena adanya deal-deal politik ala transaksional dan KKN. 

Kedua, idealisme guru. Manusia itu sulit untuk berubah, maka ketika guru yang merupakan manusia dituntut berubah menyesuaikan sistem yang baru tidak serta merta berubah. Apalagi perubahan yang dilakukan itu adalah hal yang fundamental. Misal. media pembelajaran yang asal mulanya board-spidol dituntut ke web-besed learning, maka semua itu menimbulkan shock and stress.

Guru mengalami tekanan, susah move on dan mencari kambing hitam atas ketidakcakapannya dengan sistem yang baru. Mereka bukannya tidak mau belajar, tetapi beban kebutuhan ekonomi yang harus terseok-seok dalam pemenuhannya. Bayangkan, gaji guru kecil,  biaya sekolah anak, istri belanja online terus, sumbangan nikahan, belum lagi pengawas galak, tuntutan pemerintah tinggi setinggi bintang di langit. Kan repot. Lah sekarang disuruh mengenal dan membuat pembelajaran digital, padahal menghidupkan laptop saja keluar keringat dingin.

Ketigawes embuhlah. Atau ya sudahlah, seperti yang sudah saya katakan kalo dilanjutkan akan ada hati yang tersakiti. Sebagai guru pun saya juga tersinggung. Tapi tak apalah ini sebagai auto kritik pribadi saya, cukup dua kritikan sudah membuat gerah banyak orang. Kalau dilanjutkan tiga, empat, atau bahkan lima. Bisa mbrebes mili air mata ini. Wes embuhlah, kritik tak sesedap ayam geprek. Pedasnya beda, yang satu pedas level gobyos yang mantap dimulut tapi nggak enak diperut, yang satu enak ditulisan nggak enak di hati seseorang. Hayo siapa?

Semoga berguna!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x