Ahmad Mina Ruhul Amin
Ahmad Mina Ruhul Amin

Pejalan kaki yang lebih suka sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Pengalaman Pertama "Solo Traveling" ke Pusuk, Sensasi Panorama Tembok Raksasa Cina dan "Selfiable Monkeys"

10 November 2018   21:44 Diperbarui: 10 November 2018   22:19 334 0 0
Pengalaman Pertama "Solo Traveling" ke Pusuk, Sensasi Panorama Tembok Raksasa Cina dan "Selfiable Monkeys"
dokpri

dokpri
dokpri
Ternyata menjadi solo traveler itu tidak se-boring yang orang bayangkan. Kalimat itu adalah ungkapan yang paling mewakili pengalaman pertama saya traveling seorang diri ke Taman Wisata Pusuk, Sembalun, Lombok Timur. Jika sobat adalah traveler pemula atau ingin solo traveling tapi masih mikir-mikir, cerita saya mungkin bisa sedikit membantu memberikan gambaran. Let's check it out!.

Seperti traveler low-budget pada umumnya, semuanya berawal dari suka duka menabung hingga perjuangan berburu tiket paling murah. Hanya bedanya traveling kali ini saya bepergian sendiri. Karena sudah sejak lama penasaran bagaimana sensasi solo traveling. Pada awalnya sempat akan mengajak teman untuk pergi bareng dengan berbagai pertimbangan bagaimana kalau ini, kalau itu dan banyak kekhawatiran yang membuat bimbang. Tetapi akhirnya tekad sudah bulat, saya harus coba.

Pada tahapan berburu tiket murah saya tergiur dengan perjalanan Surabaya-Lombok via laut dengan KM Legundi. FYI, tiket KM Legundi ini sangat terjangkau (Tarif tiket orang: ). Tetapi sangat disayangkan waktu itu KM Legundi sedang docking tahunan (istilah untuk perawatan kapal) yang katanya bisa memakan waktu sampai satu bulan. Artinya selama sebulan penuh tidak ada perjalanan laut via Surabaya-Lombok. Maka Pupus lah sudah harapan saya untuk berhemat.

Akhirnya pilihan terakhir dan satu-satunya yang cocok yaitu dengan menggunakan pesawat dari Surabaya ke Lombok. Sebetulnya masih ada alternatif lain yaitu dengan transportasi bis Surabaya-Mataram via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. 

Tetapi menurut saya ini tidak recommended. Dengan dua alasan, pertama biaya yang dikeluarkan tidak jauh lebih murah dari tiket peswat, kedua durasi waktu perjalanan cukup panjang dan sepertinya akan lebih menguras tenaga. Meskipun jika menggunakan pilihan ini sobat solo traveler bisa sekalian mampir ke Bali (hanya lewat).

Setelah berhari-hari mengintai, keluar masuk situs-situs travel dan maskapai murah, akhirnya saya mendapat tiket pesawat murah di www.pegipegi.com seharga Rp. 385 ribu untuk perginya saja. 

Alasan saya kenapa tidak langsung booking tiket PP karena pertama, harga tiket pesawat masih bisa turun lebih murah lagi, kedua agar kita bisa memastikan lagi itinerary selama traveling dan kapan pastinya tanggal harus pulang. Tips tersebut saya dapat dari travel blog www.pegipegi.com/travel yang banyak menshare info-info traveling menarik. 

Sekedar bocoran, Pegipegi ini meskipun tergolong pendatang baru, tapi pelayanan dan produk-produknya tidak kalah saing. Saran saya sobat traveler pemula jangan malas mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum pergi melancong agar tidak kebingungan.

Sampai pada titik ini salah satu kelebihan solo traveling kita bebas menentukan kehendak untuk memilih dari mulai tanggal, pesawat, destinasi yang akan dikunjungi, hingga tempat tinggal atau hotel. Tidak perlu repot dan ribet lagi berdebat dengan partner traveling kita. So you really do exactly what you want guys.

Okey sobat, sampai lah pada tahap bagaimana saya mengekseskusi solo traveling yang pertama kali bagi saya ini. Saya berangkat dari Ponorogo, kota dimana saya kuliah, ke Surabaya dengan menggunakan bus malam (Ongkos bus: Rp. 28 ribu). Ketika itu hari Kamis, 20 September 2018, tepat pukul 11 malam bus saya betolak menuju Surabaya. Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan, saya sampai di Terminal Bungur Asih Surbaya pas subuh. Lalu dilanjutkan dengan bus Damri menuju Bandara Internasional Djuanda (Ongkos Damri: Rp. 25 ribu). Hingga akhirnya pesawat yang saya tumpangi take-off pada pukul 06.30. I'm coming back Lombok!.

Tak terasa setelah 1 jam di udara, akhirnya saya sudah menginjak tanah Lombok. Meski ini kesekian kali saya ke Lombok, tapi perasaan senang dan antusias saya tetap tidak terbendung. Jujur, Lombok adalah salah satu tempat wisata di Indonesia yang selalu saya rindukan. Entah, magnetnya terlalu kuat. Lombok oh Lombok!

Traveling kali ini saya ke Lombok ingin lebih fokus menikmati keindahan alam pegunungannya. Maka dari itu saya prioritaskan untuk memuaskan diri di daerah Lombok Timur lebih tepatnya di Sembalun. Bisa dibilang kawasan Sembalun ini adalah kawasan kaki Gunung Rinjani. Salah satu gunung pencakar langit di Indonesia dengan ketinggian 3.726 Mdpl.

Lanjut lagi tadi setelah sampai Lombok saya menggunakan Damri menuju Masbagik, Lombok Timur (Ongkos Damri: Rp. 35 ribu). Pada traveling kali ini juga saya tidak memilih untuk menginap di hotel, tapi tinggal di rumah orang tua teman saya dulu di suatu acara di Jakarta. Saya beranikan diri ke sana setelah ada izin dari kedua orangtuanya (teman saya sedang studi di luar negeri). Ini tips hemat berikutnya sobat. Jika ada kenalan yang kita bisa numpang tinggal, kenapa tidak?. Dengan demikian budget hotel sobat bisa digunakan untuk keperluan yang lain. Seperti oleh-oleh dan dana kuliner selama traveling.

Keesokan harinya setelah saya istirahat sembari PDKT dengan keluarga teman saya di sana, saya pun dipinjami sepeda motor untuk pergi ke Taman Wisata Pusuk. Saya berangkat sendiri menuju lokasi dengan hanya mengandalkan Google Maps dan arahan ibunya teman saya. Sekitar pukul 10 pagi hari Sabtu, 22 September, saya meluncur menuju Pusuk.

Hari itu cukup terik dan membuat gerah apalagi saya berpakaian jaket. Tetapi setelah mulai masuk ke kawasan hutan hijau Pusuk, sentuhan-sentuhan dingin angin pegunungan terasa sengaja meniup wajah saya. Seakan menyambut dan berkata Welcome to the jungle. Sensasi sejuk yang sebelumnya tidak ada dalam benak saya. Selama ini yang ada di pikiran saya hanya bayangan alam pegunungan hijau terbentang. Padahal lebih daripada itu, nan menyejukkan. Rasanya seperti masuk ke dalam pintu gerbang sejuk lengkap dengan pepohonan rindang berbaris menyambut.

Kondisi jalan menuju Pusuk cukup baik, mulus, dan beraspal tebal. Tapi sobat harus ekstra hati-hati karena jalannya menanjak cukup curam bahkan hingga kemiringannya bisa sampai sekitar 45 derajat sepanjang 30 meter. Saya juga melewati banyak tanjakan curam yang langsung berkelok. Hal ini wajar karena Taman Wisata Pusuk sejatinya berada di puncak bukit. Jadi kendaraan kita memang mendaki menuju puncak itu. Bagi saya jalan curam di Pusuk ini sangat memacu adrenalin terlebih ketika pulangnya yang berarti tanjakan tadi menjadi turunan. Dalam hal ini kendaraan harus dipastikan prima, dari mulai kecakraman rem, tarikan mesin, bahan bakar dan lainnya. Safety is number one, Ok!.

But you know guys, setelah sampai di Pusuk mata saya langsung terbelalak melihat hamparan hijau pepohonan dengan gundukan bukit-bukit yang seperti sengaja ditata rapih. Saya berani sandingkan panorama Pusuk ini dengan Tembok Raksasa Cina. Hanya kurang tembok raksasanya saja. Pemandangan yang disuguhkan sangat memanjakan mata dan membuat sirna segala lelah. Recommended lah bagi yang ingin cuci mata sekaligus membersihkan paru-paru. Udaranya bersih dan sangat sejuk bahkan di siang hari.

Saya juga sangat menikmati solo traveling ini. Terasa lebih bebas. Aman dari rengekan-rengekan minta diambilkan foto atau minta diajak cepat pulang. Saya kebetulan bukan orang yang terlalu suka terhanyut berfoto hingga lupa tidak menikmati sajian alam yang jauh-jauh kita datangi. Just me and the nature.

Paket keindahan lainnya yang tersedia di Pusuk adalah kawanan selfiable monkey. Monyet di Pusuk seperti sudah terpengaruh oleh budaya narsis manusia. 

Ketika kita mengambil foto monyet di sana, mereka seakan paham untuk berpose menarik. Atau ketika kita selfie, secara otomatis mata mereka juga akan fokus ke lensa kamera kita. Sungguh menarik bukan?. Tetapi ada syaratnya. Kawanan monyet narsis tersebut harus kita sogok dulu dengan makanan atau minuman. Kalau tidak, mohon maaf kehadiran sobat akan tidak dianggap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2