Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Seks, Politik, dan Cuan

6 Februari 2020   14:25 Diperbarui: 6 Februari 2020   14:28 55 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seks, Politik, dan Cuan
Ilustrasi diperoleh dari pngguru.com

[Peringatan, bermuatan konten dewasa.]

Kala itu duduklah beberapa pria paruh baya. Dengan secangkir kopi, sebatang rokok dan sepiring besar kacang rebus. Di sebelah sana kirinya terdapat dua orang pria paruh baya yang tengah bermain catur, dengan masing-masing pendukungnya satu orang. Terkadang ia berbisik kepada sang pemain "majukan pion yang ada di depan raja, setelah itu pindahkan kuda untuk menggantikan posisinya". Sang pemain dan sang pendukung saling berbisik mengatur strategi demi memenangkan uang taruhan. Empat orang di depannya lagi asik bermian sam-gong.

Kala itu tidak ada uang taruhan, hanya sesekali terdengar kata yang dianggap porno keluar dari mulut empat orang tersebut. Sedangkan ada seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Hitam putingnya, kuning langsat kulitnya. Sesekali pria di pojokan jendela menggesekan tangannya ke penisnya, sembari membayangkan betapa lezatnya asi tersebut. Sesekali juga pria tersebut menghisap rokoknya. Ffuuhhhhhh, kepulan asap rokok manari di depan wajahnya. Sorot matanya menggambarkan kenafsuan ingin fufufu. Sesekali pria tersebut menoleh ke arah tv yang sedang menyiarkan berita, agar tidak ada yang curiga.

Semua aktivitas yang ada di warung kopi itu berhenti seketika, tatkala ada sebuah berita yang cukup menarik.

Setya Novanto dengan nyanyiannya, bergumam seakan dia-lah sang pemegang kunci kebenaran. Dengan mulutnya yang terus saja membeberkan beberapa nama tersangka korupsi e-ktp.

Sekumpulan pria paruh baya itu saling berbisik dengan teman semejanya. Membicarakan topik hangat seputar Setya Novanto. Mereka berbicara sesuai sudut pandangnya masing-masing. Secara bergantian mereka mengutarakan pemikirannya, argumennya. Tidak, tidak ada yang saling berkeras kepala, tidak ada yang saling ngotot, tidak ada yang saling serang.

Semuanya berjalan seperti mereka menikmati secangkir kopi. Mungkin bagi mereka sudah tidak lagi jamannya saling adu mulut. Mereka sudah sama-sama dewasa, mereka saling berteman, mereka saling bertukar pikiran. Mungkin bagi mereka, apa yang sedang terjadi pada perpolitikan negeri ini merupakan sebuah lelucon. Poli-tikus saling menyalahkan, saling mengumbar aib, saling menjatuhkan, saling mengancam, saling berlagak paling hebat. Bualan demi bualan yang keluar dari mulut poli-tikus bagi sekumpulan pria paruh baya tersebut tak ubahnya seperti opera. Ahhhh aku terluka, ahhh kamu pengkhianat, dasar kacung, dan lain sebagainya dengan nada suara kelas pemenang oscar.

Sekumpulan pria paruh baya tersebut terus saja berbicara mengenai politik. Sedangkan pemulung di belakang hanya bisa mendengarkan, mengamati, dan sesekali bergumam memperhatikan tingkah konyol poli-tikus. Sedangkan ibu-ibu yang ada di seberangnya juga melakukan hal yang sama. Diiringi hentakan tawa khas ibu-ibu PKK, mereka terus saja memperhatikan layar kaca, memperhatikan sebuah opera perpolitikan Indonesia.

Semua orang berbicara tentang politik. Semua mempunyai hak untuk membicarakannya. Tua, muda. Miskin, kaya. Pria maupun wanita. Semua menaruh perhatian terhadap perpolitikan. Sekumpulan orang tersebut hanya bisa menonton, mengamati. Terkadang juga mencaci. Bergumam untuk sebuah pertunjukan yang sedang mereka tonton.

Namun beda halnya dengan para wanita seksi di pinggir jalan, di tiap-tiap kamar. Bagi mereka tidak terlalu penting membicarakan tetang politik, terlebih terhadap poli-tikusnya. Justru terkadang mereka mengincar poli-tikus nakal. Meraba pahanya, mencengkram buah zakarnya, mengendus keringatnya. Tarian-tarian erotis kerap mereka tunujkan, demi mendapatkan cuan lebih. Mengusap bulu dadanya, bersender di bahunya, sesekali mengeluarkan kata andalan "aaahhh" dengan helaan nafas hangatnya setelah puas menikmati batang elastis milik pria.

Jika mereka beruntung. Mereka akan mendapatkan sebuah informasi, isu ataupun sebuah strategi di panggung perpolitikan. Namun rahasia tetaplah rahasia, uang yang berbicara. Mereka tidak akan mudah untuk berkhianat, untuk lawan dari majikannya. Tubuh tanpa sehelai benang itu tergeletak di atas dipan, dengan segepok uang di sebelahnya. Lalu merayaplah wanita tersebut, menciumi tangan pemakainya, menyentuhkan bibir merahnya, mengedipkan matanya, memberikan bibirnya sebagai tanda "datanglah lagi, maka akan kupuaskan lagi".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x