Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Paradoks Berpikir Manusia

14 Juli 2019   17:48 Diperbarui: 14 Juli 2019   17:54 0 0 0 Mohon Tunggu...
Paradoks Berpikir Manusia
image by rumahfilsafat.com

Ada banyak cara dilakukan orang untuk tetap bertahan hidup. Termasuk berbohong. Orang yang berbohong tidak pantas untuk mendapatkan kepercayaan, atau kawan. Orang yang berbohong akan memberikan pembelaan atas perbuatan yang merugikan orang lain. Tapi apakah semua orang yang berbohong layak untuk dicaci? Bagaimana dengan mereka yang berbohong demi terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Bagaimana dengan mereka yang berbohong agar terlihat kuat walau sebenarnya rapuh.

Apa yang ada di dunia ini, semua hal yang terjadi di dunia ini bagai dua sisi koin. Kamu akan melihat sisi A karena memang berada di depan A. Kamu akan melihat sisi B karena berada di depan B. Dan sangat sedikit orang yang berdiri di antara kedua sisi. Hingga jarang pula ada orang yang benar-benar bijak. Bahkan saking jarangnya, banyak orang percaya bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak memihak. Netralitas hanyalah omong kosong di segala masa.

Orang-orang mengenal hitam dan putih, benar dan salah, positif dan negatif. Ya, mereka hanya mengenal, dan memilih yang putih, benar, dan positif. Sedangkan hitam, salah, serta negatif, adalah pilihan yang tidak akan pernah mereka pilih. Padahal, untuk membuat warna abu-abu, dibutuhkan sedikit warna hitam. Untuk membuat stabilitas, tentunya membutuhkan sebuah kesalahan. Dan untuk membuat listrik diperlukan sebuah konvensi dari positif ke negatif.

Lantas, atas dasar apa manusia kudu berlandaskan 'yang baik' dalam hidup? Negara membutuhkan investor agar mendapatkan pemasukan. Sedangkan investor menghancurkan habitat flora serta fauna agar bisa memberikan pemasukan ke negara. Dan banyak orang berkata "negara kita membutuhkan investor demi kebaikan rakyat". Jika demi kebaikan, lantas mengapa ada petani yang harus rela dipukuli karena mempertahankan apa yang menjadi haknya? Itulah pokok bahasan saya di dalam tulisan yang sangat singkat ini.