Mohon tunggu...
Himawijaya
Himawijaya Mohon Tunggu... Administrasi - Pegiat walungan.org

himawijaya adalah nama pena dari Deden Himawan, seorang praktisi IT yang menyukai kajian teknologi, filsafat dan sosial budaya, juga merupakan pegiat walungan.org

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Membaca Langit Mengolah Bumi

10 November 2021   20:46 Diperbarui: 10 November 2021   21:00 208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Untuk menjawab ini, setidaknya membutuhkan telaah atas cara bertani dalam kurun belakangan ini. Sebelum revolusi hijau, bertani melekat dengan tradisi dan budaya. Bertani tak sekadar bertujuan tunggal : memperbesar hasil biomassa semata. Bertani adalah sebuah cara memelihara alam dan kehidupan. Bertani tak sekadar fokus pada tanaman tunggal semata, atau yang disebut monokultur. Hama, gulma, serangga, burung tak melulu dipandang pengganggu. Tapi sebuah mata rantai, sebuah ekosistem, jaring-jaring kehidupan yang jalin berkelindan.

Sampai kemudian cara bertani yang holistik ini mulai ditinggalkan dan bergeser. Revolusi hijau mengubah semuanya.  Revolusi hijau berangkat dari asumsi bahwa sumber pangan terbatas, maka perlu adanya revolusi cara bertani. Penggunaan input luaran  mulai diperkenalkan, benih unggulan, mekanisasi cara mengolah tanah dan pertanian monokultur yang memusnahkan keanekaragam hayati (biodiversity). Korporasi besar masuk ke dalam rangkaian proses bertani, mulai dari pupuk buatan, zat kimia pembunuh apa yang dianggap sebagai hama dan gulma sampai penyediaan benih.

Tentu saja dalih modernisasi dan penggunaan sains dan teknologi acapkali jadi dasar bagi pembelaan revolusi hijau. Lompatan besar pertanian, revolusi hijau, faktanya dimulai setelah Perang Dunia. Pabrik-pabrik kimia yang riset dan produksinya berlandaskan kebutuhan perang: mesin perang dan zat kimia pembunuh manusia. Ketika perang berakhir, mereka butuh target pasar. Dan itu adalah mahluk-mahluk hidup yang dianggap hama, di bidang pertanian.

Klaim revolusi hijau ditentang dengan gigih oleh seorang aktivis India, Vandana Shiva. Telaah dan riset multidisiplinnya :kajian sosial budaya dan saintifik dilakukannya. Risenya mengambil tempat di sebuah wilayah yang menjadi asal riset Revolusi hijau digalakkan di negerinya, yakni wilayah Punjab. Semua riset dan hasil penelitian perihal dampak revolusi hijau ia tuangkan dalam sebuah buku :  The Violence of Green Revolution.

Shiva mengukur bagaimana dampak setelah 20 tahun revolusi hijau digalakkan di wilayah Punjab. Implementasi revolusi hijau bisa disederhanakan : penggunaan pupuk kimia, pestisida dan herbisida, penggunaan benih unggilan hasil rekayasa labortaorium dan monokultur.

 Punjab adalah wilayah subur, karena dialiri lima sungai besar. Apa yang terjadi setelah beberapa dekade penerapan revolusi hijau? Tampakan permukaan, kehidupan sosial masyarakat Punjab seolah tak berkaitan dengan penerapan revolusi hijau. Punjab menjadi salah satu wilayah yang sarat konflik sosial. Ribuan orang mati meregang nyawa akibat konflik sosial tersebut. Dari mana sumber konflik sosial. 

Dengan jernih, di buku ini, Shiva menguraikan bagaimana, penerapan revolusi hijau, yang fokus pada input luaran: pupuk perstisida, benih yang dipasok korporasi besar, mengakibatkan segregasi sosial. Petani-petani kecil tak bisa beradaptasi. Yang miskin tak berdaya. Benih yang disebut unggulan sangat membutuhkan pasokan air dan pupuk kimia dalam jumlah besar. Rebutan sumber daya air, konsep irigiasi besar yang salah, semuanya mengerucut ke dalam satu hal : konflik di masyarakat. Punjab menyisakan kisah duka mendalam, wilayah kedua yang berkonflik setelah Kashmir, di negeri India.  Janji kesejahteraan dan kemakmuran hanya dinikmati milik korporasi pemasok pupuk, pestisida dan benih.  

Bisa saja kita menganggap apa yang Vandana Shiva  ungkapkan sebagai gerundelan seorang SJW.  Kita tahu, sebutan SJW menjadi negatif belakangan ini. Tapi faktanya tak bisa didustakan.  Kurang dari 30 prosen pangan dipasok industri besar. 70% lebih pangan dunia ditopang oleh petani skala kecil, skala rumahan. 

Dan tentu saja, industri dan korporasi besar itu, sumbangan akan pangan sangat sedikit, tapi  berkontribusi terhadap pencemaran air dan udara lebih banyak: lebih dari 80% pencemaran. FAO mulai menyadari  hal ini. FAO mulai mengubah kebijakan resminya. Ia mulai mensupport konsep petani skala rumahan, small framing dan family farming dengan pertanian yang terinetgrasi dan multikultur yang mengedepankan konsep keanekaragaman hayati.  

***

Manusia, kepadanya diembankan sebuah misi: menjadi pemakmur bumi. Mendefinisikan pemakmurkan bumi terkadang perlu dimaknai secara literal---adalah bagaimana senyata-nyata cara mengolah tanah. Cara mengolah tanah ini berkait erat dengan cara kita memandang tanah, memandang alam dan kehidupan. Tanah tidak bisa dilepaskan dari satu kesatuan sistem. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun