Hilman Fajrian
Hilman Fajrian Profesional

Founder Arkademi.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama featured

Internet Membuat Makin 'Bodoh'

9 Juli 2015   10:44 Diperbarui: 23 Agustus 2016   14:52 61527 51 48

[caption caption="(Salah satu meme kebodohan di internet/izilol.com)"][/caption]

"Of course it's true, because this is internet and posted by an anonym."

Jawaban kelakar sarkasme itu kerap ditemui di 9gag, sebuah situs humor. Diawali pertanyaan seseorang apakah meme yang dilihatnya berisi informasi yang benar atau tidak, maka responnya adalah jawaban itu. Lucu sekaligus ironis karena menggambarkan apa yang terjadi dengan kita semua, para pengguna internet.

BUBARNYA HIERARKI

Saat mampir ke SMA tempat saya bersekolah 17 tahun lalu, guru-guru berkeluh-kesah. Murid sekarang, kata guru saya, jauh lebih kritis dibanding zaman saya dulu. Bedanya, kritisnya murid zaman dulu kepada gurunya karena mereka punya buku bacaan yang lebih banyak dibanding buku pelajaran. "Sekarang murid-murid mendebat bahan pelajaran pakai sumber dari internet. Dari blog, situs berita, forum, bahkan Facebook dan Twitter. Padahal kita sebagai guru belum memeriksa validitas sumber mereka," keluh salah satu mantan guru saya. Saya ikut prihatin.

Membaca paper John Gehl dan Suzanne Douglas berjudul From Movable Type to Data Deluge, membuat saya makin prihatin. Laporan yang diterbitkan jurnal Educom Review itu menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. Di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. Di era internet, posisi itu berubah: pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang tetikus.

Internet, kata Gehl dan Douglas,telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. Dengan ketersediaan informasi sangat luas yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan si pembawa pesan.

Elias Aboujaoude, doktor ilmu kejiwaan klinis Standford University bercerita tentang Ashley dalam bukunya Virtually You. Ashley adalah seorang remaja yang dibawa ibunya berobat ke Elias. Ibunya menduga Ashley menderita depresi karena melihat tanda-tanda yang sesuai dengan yang ia baca di internet. Dari internet pula ibunya tahu bahwa obat antidepresan yang cocok adalah Wellbutrin. Maka datanglah mereka berdua ke Elias. Si ibu ngotot meminta Elias meresepkan Wellbutrin bahkan ketika Elias belum melakukan pemeriksaan.

Internet, ditulis Aboujaoude, meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. Fenomena ini mengancam runtuhnya hubungan hierarki sosial terhadap informasi seperti hierarki dokter-pasien, guru-murid, orangtua-anak, ahli-orang awam.

"Internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia," tulis Aboujaoude yang menyebutinternet sebagai The Great Equalizer.

Ketika Mayweather mengalahkan Pacquaio, orang-orang mendadak jadi pengamat tinju dalam semalam. Pernyataan pengamat tinju yang punya reputasi jadi tak penting dan tak populer. Ketika Polda Bali belum menetapkan Margriet sebagai tersangka pembunuhan Engeline, ramai orang jadi detektif dan menuduh polisi tidak kompeten. Ketika Air Asia QZ8501 jatuh, tidak sedikit yang merasa dirinya pakar penyelamatan.

KEPUNAHAN LITERASI

Mungkin kita menganggap membaca buku sama nilainya dengan membaca blog, atau membaca majalah sama dengan membaca situs berita. Nyatanya tidak. Dalam laporan British Library tahun 2008, pembaca buku dan pembaca digital punya perilaku berbeda. Otak pun bekerja dengan cara berbeda antara membaca buku dan digital. 

Pembaca digital cenderung tak menyortir, tak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. Rata-rata pembaca online hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik. Setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. 60% pembaca buku elektronik hanya membaca 3 halaman, dan 65% tidak pernah membaca ulang halaman sebelumnya. Di laporan itu juga disebut 89% mahasiswa Inggris menggunakan Google untuk mendapatkan informasi.

Sebenarnya, sebut British Library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi 'memindai' (scanning/skimming) halaman. Pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse: cepat dan melompat-lompat. Perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal: perlahan, sabar dan bersedia mengulang. Power browse berimplikasi pada kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. Yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat.

Hasil riset Nielsen Norman Group mengatakan pembaca online rata-rata hanya membaca 28% konten dari sebuah halaman. Pemindaian juga merupakan perilaku umum pembaca online. Menurut Buffer, seorang pembaca online hanya punya daya tahan maksimal 7 menit atau 1.600 kata saat membaca online.

Dikatakan pakar web usability Jakob Nielsen, 79% pembaca online melakukan pemindaian ketimbang membaca kata per kata. Hal ini beralasan, karena membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku dan lebih lambat 25%. Selain itu, pembaca online lebih berperilaku sebagai 'pengendara' ketimbang pencari pengetahuan. Sebagai pengendara, mereka ingin memutuskan sendiri bagian mana yang ingin mereka baca dan lompati.

"Pembaca online itu egois, pemalas dan zalim. Mereka tak mau menginvestasikan waktu mendapatkan pengetahuan berkualitas dengan cara membaca seperti membaca buku," tulis Nielsen.

Perilaku aneh pembaca online lainnya adalah inkonsistensi yang tak masuk akal. Mereka tak bergerak mencari informasi secara linear, tapi melompat-lompat ke sumber yang tak relevan. Misal, saat ini kita sedang giat membaca berita dan tulisan tentang terorisme di internet. Tapi kita bisa saja tiba-tiba membaca tulisan tentang resep masakan, lalu lompat lagi membaca resensi film.

Mensiasati ini, pengembang website dan konten online berjibaku dengan model-model data baru dan studi mutakhir psikologi pengguna internet. Misal, data page view sudah ketinggalan zaman dan digantikan heat map yang bisa mengetahui di paragrap mana yang lebih mendapatkan perhatian. Perilaku eye-scanning juga dicari tahu. 

Di antaranya bulleted list dan penebalan bisa menghentikan pemindaian. Penggunaan kalimat pendek, menghindari permainan kata sampai headline engineering adalah beberapa cara menghadapi pembaca online. Termasuk ilusi tautan (hyperlink). Tautan bisa membuat seolah-olah konten lebih kredibel, padahal pembaca juga tidak mengklik tautan itu. Ilusi ini saya pakai di beberapa tautan sebelum paragrap ini. Beberapa tautan itu tidak valid. Tapi toh anda tidak mengkliknya, kan?

Twitter dengan 140 karakter juga dianggap sebagai cara baru berkomunikasi. "It's not too many words, but that makes it great. Twitter means you do not ever have to read long messages," tulis Twitter di lamannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2