Mohon tunggu...
Hilman Fajrian
Hilman Fajrian Mohon Tunggu...

Founder Arkademi.com

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

41 Hari dan Mitos Verifikasi Biru

14 April 2015   13:42 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:07 0 23 17 Mohon Tunggu...
41 Hari dan Mitos Verifikasi Biru
Verifikasi Biru/Kompasiana

[caption id="" align="aligncenter" width="480" caption="Verifikasi Biru/Kompasiana"][/caption] Tadi pagi (14/4/2015) saya mendapatkan pesan di kotak surat Kompasiana dari Admin. Intinya saya mendapatkan verifikasi biru sebagai apresiasi kontribusi saya di Kompasiana. Alhamdulillah, akhirnya biru juga. Terima kasih Kompasiana. Verifikasi biru ini diliputi berbagai 'mitos', asumsi atau sangkaan dari Kompasianer, termasuk saya. Bagi saya pribadi, verifikasi biru ini penting karena menulis Kompasiana adalah salah satu cara saya membangun reputasi. Karena penting, maka saya ikut dalam kelompok yang mencoba memecahkan misteri verifikasi biru. Sama seperti saya yang saat ini masih berjuang memecahkan misteri verifikasi biru di Twitter. Banyak yang bilang mereka yang dapat verifikasi biru adalah Kompasianer yang sudah memiliki verifikasi hijau minimal setahun, aktif menulis setiap hari dan tulisannya bagus. Sampai di sini saya sudah menyerah. Tak mungkin saya bisa menulis setiap hari di Kompasiana karena saya punya tanggungjawab lain yang jadi prioritas. Paling banyak saya bisa menulis seminggu 3 kali. Di sisi lain, Kompasiana tidak pernah membuka indikator yang dipakai agar seorang Kompasianer bisa tercentang biru. Mereka membiarkannya tetap jadi misteri. Sebagai orang yang juga mengelola perusahaan media di Kalimantan, saya tidak percaya organisasi seperti Kompasiana tidak punya key performace indicator (KPI), dalam hal ini soal verifikasi biru. Pasti punya. Kompasiana sebagai anak kandung Kompas adalah entitas bisnis yang biasa bekerja ilmiah, bukan sekena hati. Masalahnya mereka tak membuka itu, maka jadi lah mitos. Hari ini saya mendapatkan verifikasi biru dan ini sangat berarti untuk membantu memecahkan mitos-mitos itu lewat statistik. Berikut statistik yang bisa saya berikan berdasarkan diri saya. * Saya tergabung di Kompasiana sejak 3 Juli 2014. Belum terverifikasi. Saya cuma iseng-iseng mencoba saja. Pada 4-5 Juli 2014 saya mempublikasikan 6 tulisan bidang politik dalam bentuk opini. Karena ini cuma iseng, maka tak perlu dihitung. * Saya memutuskan aktif di Kompasiana sejak 4 Maret 2015 dan mendaftarkan diri sebagai verifikasi hijau. Di hari yang sama saya mendapatkan verifikasi hijau. * Saya memutuskan untuk menulis sesuai dengan kompetensi dan profesi saya, yaitu bidang media massa, komunikasi dan social media. * Saya memutuskan menulis sesuatu yang bisa dijadikan referensi bagi orang lain, menawarkan alternatif jawaban atas sebuah peristiwa, analisa yang mendalam, dan disertai dengan referesi/data ilmiah. * Saya memutuskan tidak menulis soal kegundahan pribadi terhadap sebuah peristiwa atau topik. Saya berupaya tidak jadi kelompok 'penderita'. Tapi berupaya memberikan referensi dan analisa atas peristiwa yang tengah berkembang di masyarakat dan punya dampak luas -- dalam lingkup kompetensi dan profesi saya. * Saya juga memberi perhatian pada tulisan yang sedang trending di Kompasiana dan cukup awet di headline. Artinya, tulisan tersebut trending di Kompasiana. Saya punya 2 tulisan yang menanggapi tulisan headline. Pertama, Kontes Bayi Facebook dan Tuduhan Penipuan Itu. Kedua, Dengan Jurnalisme Warga dan Gosip, Kompasiana Membuat Perbedaan. Tulisan kedua ini juga menjadi headline. * Tulisan pertama saya di masa 'serius' ini, Social Media dan Homo Socialis, langsung menjadi headline. * Dari tanggal 4 Maret - 14 April, ada rentang waktu 41 hari. Dalam rentang itu saya memproduksi 21 tulisan. Artinya, rata-rata saya menulis 1 tulisan per 2 hari. * 21 tulisan itu berbentuk opini, bukan reportase. * 18 dari 21 tulisan adalah soal media, komunikasi dan social media. 3 sisanya adalah soal bisnis, bidang kompetensi saya saat masih aktif sebagai jurnalis. * Artinya, bila saya dianggap sebagai seorang yang kompeten di topik media, maka tulisan saya hanya 18. * 7 dari 18 tulisan itu, atau 40%, menjadi headline. * Tulisan saya tidak pernah singkat, bahkan beberapa panjang sekali. Ini adalah konsekuensi dari komitmen saya menuliskan sesuatu secara mendalam sehingga bisa jadi referensi yang cukup komprehensif. * 18 tulisan saya itu mendapatkan hit, vote dan comment dalam jumlah berbeda-beda. Mulai dari 0 sampai ratusan. * Saya aktif merespon comment di setiap tulisan yang sampai dengan usianya maksimal 3 hari. * Pengalaman saya sebagai jurnalis benar-benar membantu dalam berbahasa tulis yang baik. * Tulisan saya yang berjudul Pembunuh Kompasiana berisi kritik dan saran kepada Kompasiana. Tulisan ini berhasil memancing perhatian pengelola Kompasiana termasuk Pepih Nugraha yang belakangan menulis di Facebook-nya bahwa Kompasiana sangat memperhatikan kritik dan usulan tersebut. KESIMPULAN: * Saya yakin verifikasi biru yang diberikan ini adalah karena kontribusi saya di rubrik media, topik yang menjadi kompetensi dan profesi saya. Maka, pilih lah topik sesuai kompetensi dan profesi untuk membangun reputasi. * Panjangnya waktu keanggotaan tidak mempengaruhi verifikasi biru. Menurut saya 41 hari adalah waktu yang sangat singkat. * Jumlah tulisan tidak mempengaruhi verifikasi biru. Saya hanya punya 18 tulisan topik media dalam 41 hari. * Kategori tulisan opini atau reportase tidak mempengaruhi verifikasi biru. * Jumlah hit, comment, dan vote tidak berpengaruh. Namun hit, comment dan vote otomatis menjadi tinggi bila masuk headline. * Aktif lah berinteraksi dengan Kompasianer yang berkomentar di tulisan kita. * Headline adalah kunci penilaian kualitas tulisan. Jadi untuk mendapat verifikasi biru, kejarlah headline sebanyak-banyaknya pada topik yang kita kuasai. Meski saya baru menayangkan 18 tulisan, tapi 7 di antaranya atau 40% masuk headline. Sehingga, headline adalah sesuatu yang harus anda kejar untuk verifikasi biru ketimbang jumlah tulisan atau lamanya keanggotaan. * Memancing perhatian pengelola Kompasiana dalam bentuk kritik dan saran yang disampaikan terbuka juga penting. Ini akan membuat kita masuk ke area on-spot. Tentu kritik dan masukan itu disampaikan dengan referensi yang cukup. * Lengkapi prasangka, bukan menambahi prasangka. Tawarkan jawaban, bukan memperkaya dugaan. Jadi lah referensi, bukan bahan gunjingan. Jadi lah orang yang datang berbagi manfaat, bukan sama-mata datang menularkan kebingungan atau kecemasan. * Jangan takut berpendapat berbeda atas tulisan yang sedang headline atau trending. Ketimbang meresponnya dalam bentuk komentar berpanjang-panjang, tayangkan dalam bentuk tulisan yang berisi lebih lengkap dan komprehensif. Itu lah kesimpulan yang bisa saya tarik atas verifikasi biru berdasarkan pengalaman diri saya sendiri. Saya tidak tahu apa kah ada Kompasianer lain dari 'golongan orang umum' yang mendapatkan verifikasi biru kurang dari 41 hari lewat tulisan kurang dari 18 di topik yang ia kuasai. Tulisan ini tidak otomatis membuat mitos verifikasi biru usai. Namun saya harap bisa jadi referensi bersama untuk melengkapi prasangka kita terhadap misteriusnya verifikasi biru. [*]

KONTEN MENARIK LAINNYA
x