Mohon tunggu...
HIDAYATUS SHOLIKAH
HIDAYATUS SHOLIKAH Mohon Tunggu... Mahasiswa - pemula literasi

-

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bayangan di Bawah Bulan Purnama

9 November 2023   22:02 Diperbarui: 9 November 2023   22:16 113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Bulan purnama menerangi langit malam di negeri yang penuh sejarah dan rahasia. Namun, di balik keindahan bulan purnama tersebut, terdapat bayangan tragedi kemanusiaan yang tersembunyi dengan rapat. Kisah ini berlatar di tanah yang disebut "Ardha," sebuah negeri yang tengah dilanda konflik yang merenggut kedamaian dan menghancurkan kemanusiaan.

Di desa kecil Ardha, hidup seorang anak laki-laki bernama Amir, yang tumbuh dalam bayang-bayang konflik yang tak kunjung usai. Meski Ardha merupakan negeri yang indah, namun perasaan tak aman menyelimuti setiap sudutnya. Pagi-pagi, Amir sering melihat ayahnya pergi dengan senjata di pundaknya, meninggalkan ibu dan adik perempuannya di rumah.

Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar begitu terang, terdengar suara ledakan dahsyat di kejauhan. Desa Ardha diguncang oleh kekuatan yang tak terbayangkan. Amir dan keluarganya segera berlindung di tempat persembunyian yang mereka siapkan. Bayangan-bayangan kegelapan datang begitu cepat, meninggalkan Ardha dalam keheningan yang mencekam.

Dalam kegelapan malam, Amir berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menemui teman-temannya yang juga mencari keluarganya. Bersama-sama, mereka menjelajahi puing-puing desa yang hancur akibat konflik yang tak pernah berkesudahan. Amir dan teman-temannya menemukan bahwa sepanjang garis konflik, ada banyak kisah tragis kemanusiaan yang tak terdengar oleh dunia luar. Mereka menemukan keluarga-keluarga yang terpisah, rumah-rumah yang hancur, dan hati-hati yang terluka.

Dalam perjalanan mereka, mereka menemui seorang perempuan tua yang kehilangan anaknya akibat konflik. Dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu bercerita tentang masa lalu yang damai dan kehidupan yang dihancurkan oleh kekerasan. Amir dan teman-temannya merasa terpanggil untuk mengubah nasib Ardha. Meskipun mereka masih muda, semangat kemanusiaan memandu langkah-langkah mereka. Bersama-sama, mereka membangun tempat perlindungan untuk anak-anak yang menjadi korban konflik, memberikan bantuan medis bagi yang terluka, dan menjadi suara bagi yang tak dapat bersuara.

Bulan purnama terus bersinar di langit Ardha, menjadi saksi bisu dari perjuangan Amir dan teman-temannya dalam merestorasi kedamaian. Mereka membentuk kelompok sukarelawan yang terdiri dari anak-anak muda, lansia, dan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, semua bersatu demi satu tujuan yaitu mengakhiri konflik dan membangun kembali kehidupan yang damai.

Di tengah upaya mereka, mereka menemukan seorang guru tua yang memiliki mimpi besar untuk membangun sekolah bagi anak-anak yang terdampak konflik. Bersama-sama, mereka merintis sekolah kecil di tengah reruntuhan desa. Meskipun sederhana, sekolah itu menjadi tempat perlindungan dan pembelajaran bagi anak-anak yang selama ini kehilangan hak mereka untuk pendidikan.

Namun, perjalanan mereka tidaklah mudah. Mereka menghadapi tantangan dari berbagai pihak yang ingin memanfaatkan konflik untuk kepentingan pribadi. Terkadang, bulan purnama menjadi saksi bisu dari pertemuan-pertemuan rahasia di malam hari, di mana Amir dan teman-temannya merencanakan strategi untuk melawan kekuatan yang menghalangi misi kemanusiaan mereka.

Selama musim semi, ketika bunga-bunga mulai mekar kembali di ladang-ladang yang dulu subur, gerakan kemanusiaan di Ardha semakin mendapatkan dukungan. Mereka mengadakan acara penggalangan dana, mengundang orang-orang dari berbagai penjuru negeri untuk bergabung dalam upaya mereka. Semakin banyak orang yang menyadari bahwa di balik konflik yang merusak, ada kekuatan manusiawi yang mampu menyatukan dan menyembuhkan.

Pada suatu malam di bawah bulan purnama, Ardha dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang melambangkan harapan. Sebuah konser amal diadakan di lapangan terbuka, di mana musik, seni, dan cerita-cerita inspiratif menggema di udara. Ucapan terimakasih dari orang-orang yang merasakan dampak positif dari gerakan kemanusiaan mulai terdengar, memotivasi Amir dan teman-temannya untuk terus melangkah maju.

Walaupun bayangan tragedi kemanusiaan masih ada di antara reruntuhan dan luka, kehidupan perlahan pulih di Ardha. Bulan purnama yang tetap bersinar setia di langitnya menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang ini.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun