Hidayat Harsudi
Hidayat Harsudi Mahasiswa

Tinggal di Indonesia. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Kita Tidak Butuh Transportasi, Kita Butuh Teleportasi

14 September 2018   22:24 Diperbarui: 14 September 2018   22:38 366 2 0
Kita Tidak Butuh Transportasi, Kita Butuh Teleportasi
ilustrasi : thenextweb.com

100 mobil bertemu di perempatan sempit akan membuat macet yang cukup panjang. Untuk  mengurai kemacetan jalan dibuat lebih lebar dan lampu lalu lintas dipasang di tiap sudut. Jalanan akhirnya jadi lebih lancar.  Semua orang senang.

Tapi, selang beberapa tahun, mobil bertambah banyak dan terus bertambah banyak. Jalan yang tadinya lancar kini macet kembali. Orang kembali mengeluh dan marah. Jalan kembali mau diperlebar. Tidak semudah sebelumnya, kali ini jalan agak sulit diperlebar. Bangunan sudah terlalu dekat dengan jalan sehingga harus merobohkan bangunan. Jalan kini tambah luas, pemilik mobil senang kembali, dan pemilik bangunan protes dan marah.

Lima tahun kemudian, mobil menjadi lebih murah. Orang-orang berbondong-bondong ke dealer mobil. Mobil bertambah banyak dan memenuhi jalan. Macet tidak terhindarkan. Pengemudi kembali  protes karena harus menghabiskan waktunya menunggu lampu hijau di perempatan. Lagi-lagi jalan akan diperlebar dan bangunan harus digusur kembali. Pemilik bangunan protes. Pemerintah diminta mencari solusi selain memperlebar jalan.

Pemerintah membangun halte dan membawa bus untuk mengangkut warganya. Imbaun naik bus terpampang di kaca belakang bus hingga papan iklan di jalan lebar.  Pemerintah pikir rakyat akan memarkir mobilnya di garasi dan naik bus ke tempat kerja. Tapi beberapa bulan berselang bus tidak kunjung dapat penumpang hingga merugi. Bus kini menghilang dari kota. Mobil kembali mengantri untuk sekedar melewati perempatan.

100  mobil yang bertemu di perempatan sempit akan menimbulkan macet cukup panjang, tapi 100 orang yang bertemu di perempatan yang lebih sempit tidak akan menimbulkan kemacetan apapun. Orang tidak sadar kalau mereka membawa mobil yang besarnya berkali-kali lipat dibanding ukuran etubuhnya sampai mereka dipersulit olehnya untuk sekedar menembus perempatan.

 Mobil diciptakan untuk mempermudah mobilitas, memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Tapi siapa sangka hanya beberapa abad sejak Karl Benz membawa mobil pertama melaju di jalanan, kini mobil malah menyulitkan manusia berpindah tempat. 

Mobil membuat orang-orang harus antri di perempatan karena ukurannya yang berkali-kali lebih besar dari tubuh manusia. Mobil memaksa manusia membawa besi berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dari tubuhnya untuk berpindah dari rumah menuju pasar atau tempat kerja.

Kita harus berpikir dan mencari benda baru untuk mengatasi masalah ini. Sebuah benda yang membuat kita tidak lagi harus sabar menunggu lampu hijau menyala. Benda yang tidak membuat kita membayar 2000 rupiah karena memarkir dan beli mijon untuk  mengisi ion tubuh yang habis karena kelelahan menunggu lampu hijau. Benda itu sudah pernah kita lihat. Benda itu keluar dari kantong seekor kucing kalau bukan seekor tikus. Benda itu bernama pintu ajaib.

Doraemon meski cuma cerita fiktif dan hanya berdasarkan imajinasi liar penulisnya saja mampu mengilhami kita. Salah satu  kehebatan doraemon adalah mengeluarkan benda-benda canggih dari kantongnya untuk mengatasi semua masalah nobita. Nobita kadang membutuhkan alat untuk membuatnya berpindah dari kamarnya menuju rumah sizuka. 

Doraemon paham apa kebutuhan Nobita dan segera mengeluarkan pintu kemana saja sehingga tidak cukup satu detik, Nobita  kini berada di depan rumah sizuka. Pintu kemana saja adalah alasan Nobita tidak pernah naik mobil dan menunggu lampu hijau di perempatan.

Khayalkan  bagaimana sebuah pintu ajaib mengatasi masalah mobilitas kita!. Kita tidak perlu lagi  antri di perempatan. Kita tidak perlu  lagi antri di jalur premium untuk mengisi bahan bakar. Kita bahkan bisa beli mijon di minimarket tanpa perlu bayar 2000 rupiah. 

Sungguh pintu  ajaib akan mengatasi masalah kita. Tapi bagaimana jika ada pemuda menggunakan pintu ajaib untuk masuk secara illegal  kerumah kita dan menculik anak gadis kita? Itulah fungsi dari pemerintah untuk membuat regulasi penggunaan pintu ajaib agar tidak ada penyalahgunaan. Lagipula pintu ajaib akan  bisa diatur agar tidak memasuki ruang privat.

Tapi bukankah pintu ajaib adalah sebuah imajinasi yang mustahil diciptakan?. Internet juga adalah kemustahilan bagi firaun dan Musa yang telah diciptakan oleh manusia abad 20. Firaun tidak bisa pamer hartanya di facebook dan Musa tidak dapat mengupload video pertemuannya dengan tuhan di youtube. Tapi kita yang hanya manusia biasa-biasa saja kini bisa melakukan keduanya.

Pemerintah hanya perlu mengalihkan uang yang dipakai untuk membangun jaringan transportasi ke riset pembuatan pintu ajaib. Di masa depan, pemuda pasca pintu ajaib akan menertawai kelakuan Jokowi karena menghabiskan uang untuk membangun tol laut, trans papua, trans Sumatra, dan trans-trans lainnya. 

Pintu ajaib pertama mungkin akan seharga triuliunan atau ratusan triuliun. Tapi pintu ajaib kedua akan jauh lebih murah. mirip seperti butir Promag pertama yang harganya miliaran tapi promag kedua, ketiga, dan seterusnya cuma seharga 6000 rupiah, itu pun sudah dapat 12 butir. Cukup untuk mengisi  perut di kala krisis financial di akhir bulan.