Mohon tunggu...
Herumawan P A
Herumawan P A Mohon Tunggu...

Asli wong Yogya. Pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Menyukai olahraga sepakbola, sedang belajar menjadi citizen Juornalism dan suka menulis apapun. Mulai dari artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak hingga cerita misteri (mistik/serem)

Selanjutnya

Tutup

Puisi

[Cernak] Bermain Wayang

23 Agustus 2011   22:47 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:31 0 4 0 Mohon Tunggu...

“Malam ini Ibu mau menemani Ayah kalian mendalang”.

“Mungkin, Ayah dan Ibu pulangnya besok pagi”, kata Ibu Tono yang seorang sinden.

“Iya, Bu”, sahut Tono sambil asyik bermain playstation dengan Adiknya, Tini.

“Kamu juga hati-hati di rumah”.

“Jangan lupa kunci semua jendela, pintu rapat-rapat”.

“Dan berhubung Mbok Sri sedang pulang kampung jadi kamu jaga baik-baik Adik kamu, Tini di rumah ya”, pesan sang Ibu. Tono yang baru duduk di bangku kelas satu SMP ini mengangguk. Lalu melepas kepergian kedua orang tuanya.

Satu jam berlalu, Tono dan Tini masih asyik bermain playstation.

“Peet”, tiba-tiba listrik padam. Suasana berubah menjadi gelap gulita. Tini yang takut gelap mulai menangis. Mendengar Tini menangis, Tono segera menyalakan beberapa batang lilin. Tangisan Tini pun mereda.

“Kak, ayo main playstation lagi”, rengek Tini.

“Tidak bisa, listriknya kan padam”, jelas Tono. Tini mulai menangis lagi. Tono pun dibuat kebingungan. Tiba-tiba Tono mendapatkan ide.

“Iya, Kakak punya sesuatu yang lebih bagus daripada playstation tapi kamu jangan nangis lagi”, bujuk Tono. Tini hanya mengangguk.

“Kakak mau apa?”, tanya Tini sambil memperhatikan Tono yang sibuk mengeluarkan beberapa Wayang dari kotak penyimpanan Wayang milik Ayah.

“Kakak mau bermain Wayang”, jawab Tono.

“Kamu mau?”, ajak Tono.

“Asyik!!”, sahut Tini bersemangat.

“Kak, ini siapa?”.

“Bentuk mukanya kok aneh?, tanya Tini sambil menunjuk Wayang yang dipengang Tono.

“Oo ini namanya buto cakil, bentuk mukanya memang aneh karena dia orang jahat”, jelas Tono. Tini tampak mangut-mangut.

“Kalau Wayang yang gendut ini siapa, Kak?”, tanya Tini lagi.

“Ooo ini namanya Bagong, anggota Punakawan”, jawab Tono.

“Ih, lucu ya Kak”, Tini tampak senang melihat Wayang Bagong yang bertubuh gendut.

“Punakawan itu siapa, Kak?”, Tini lagi-lagi bertanya.

“Punakawan itu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong”.

“Keempatnya sering memberikan petuah bijak kepada Wayang-Wayang yang lain”, jawab Tono.

“Terutama kepada kelima wayang ini”, Tono mengeluarkan lima Wayang dan menyadarkannya di tembok.

“Lha, kalau kelima Wayang ini siapa, Kak?”, tanya Tini.

“Ooo, kalau ini Pandawa Lima”.

“Mereka ini Yudistitira, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa”, jelas Tono.

“Kok mirip Power Rangers ya, Kak”, celoteh Tini.

“Iya, bedanya kalau Pandawa itu laki-laki semua”, kata Tono.

“Oooooo”, sahut Tini.

Dengan diterangi cahaya lilin, keduanya asyik bermain wayang hingga tidak menyadari listrik sudah menyala kembali. Tono lantas mematikan beberapa batang lilin yang masih menyala. Dilihatnya Tini, Adiknya sudah tertidur pulas karena kelelahan bermain wayang. Tono segera membopong Tini ke dalam kamar tidur dan menyelimutinya.

“Selamat tidur, Adik”.

“Mimpi yang indah ya”, gumam Tono di telinga Tini.

Setelah itu, Tono membereskan Wayang-Wayang yang tampak berserakan sehabis dipakai bermain oleh keduanya. Lalu menaruhnya kembali di kotak penyimpanan Wayang milik Ayah.

“Akhirnya selesai juga”, Tono bisa bernafas lega melihat ruangan terlihat bersih kembali. Tono lantas membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tak lama kemudian, Tono tertidur dengan pulasnya hingga pagi menjelang.

Salam Kompasiana.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x