Herman Hidayat
Herman Hidayat

Peminat Kajian-Kajian Filsafat dan Spiritualitas. Penikmat Musik Blues dan Jazz. Menyukai Yoga & Tai Chi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Al Hikam, Mengingatkan Diri

17 Mei 2018   08:00 Diperbarui: 17 Mei 2018   08:00 309 0 0

Hikmah #1 : Salah satu Tanda Bergantung pada Amal adalah Berkurangnya Harapan tatkala Gagal. Berdo'alah, untuk apapun; hal-hal besar, tapi juga segala hal-hal kecil apapun. Untuk hal-hal yang sangat engkau inginkan setengah mati, atau sekedar keinginan-keinginan samar. Berdo'alah, untuk menegaskan keyakinan bahwa segala sesuatunya adalah dari Allah, dan bukan dari dirimu sendiri.

Berdo'alah, saat-saat engkau Yakin kepada-Nya, tapi lebih-lebih, berdo'alah saat-saat engkau hampir kehilangan Keyakinan pada-Nya. Berdo'alah, saat-saat segala sesuatunya berjalan serba lancar dan mudah, tapi lebih-lebih, berdo'alah di saat segala sesuatunya serba buram, sulit dan terasa berat bagimu.

Berdo'alah, karena kebenarannya, segala sesuatunya memang hanya karena Karunia-Nya, dan tidak sedikitpun karena upaya-upaya dirimu sendiri yang serba kerdil dan fana ini.

Bahkan, misalnya engkau tengah terjebak pesimisme intelektual, sehingga engkau sebenarnya sedang tidak yakin dengan manfaat Do'a, atau bahkan sebaliknya, engkau tengah terjebak keangkuhan intelektual, sehingga engkau justru sangat yakin bahwa segala sesuatunya adalah karena upaya-upaya manusiawimu sendiri; tetaplah ber-Do'a. Apa salahnya meluangkan waktu 1 atau 2 menit ber-Do'a, sekedar seperti ber-bisik-bisik pada diri sendiri; tidak menghabiskan waktu, dan juga tidak mengganggu siapa pun juga. Ber-Do'a sajalah; untuk apapun.

Ajaran manteg niat dalam ibadah-ibadah yang hendak kita lakukan, sebenarnya adalah juga tepat untuk apapun yang hendak kita lakukan. Dan manteg niat, pada hakekatnya adalah Do'a yang kita panjatkan, untuk keberhasilan apapun yang kita lakukan. Amalan mengucapkan Bismillah di awal setiap tindakan yang hendak kita lakukan, juga adalah untuk memperkokoh niat, dan sekaligus sebuah Do'a.

Inti dari Do'a adalah penegasan bahwa Dia adalah Allah, dan bahwa engkau, aku, adalah hambanya. Inti Do'a sungguh bukan pada mobil yang engkau minta, atau rasa sakit yang hendak engkau hilangkan.

Inti Do'a adalah hadir meng-Hadap-Nya, dan ber-Dialog dengan-Nya. Berbincang dengan-Nya. Menghaturkan permohonan, atau menghaturkan Syukur, atau Bertanya Mohon Bimbingan, atau sekedar Curhat dan bercerita. Dan bukankah, dalam setiap hubungan, apa pun itu, hubungan dapat ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, memasuki wilayah akrab, karib, selalu dimulai dengan memperbanyak frekwensi Bincang-Bincang? Saling Berbincang, lalu Saling Percaya, lalu semakin akrab dan akrab, menjadi Sahabat dan seterusnya?

Conversation -- Friendship -- Communion with God. Insya Allah.

***

Bahkan, sangat boleh jadi, Allah pun selalu memanggil-manggil kita, untuk menghadap-Nya, untuk berbincang dengan-Nya dan ber-Do'a kepada-Nya;  melalui kehilangan-kehilangan kecil yang kita alami, yang mungkin karena tidak selalu kita hiraukan, lalu Dia panggil-panggil lagi kita dengan lebih keras, dengan kehilangan-kehilangan yang lebih besar dan besar. Kehilangan milik, kehilangan kesempatan, kehilangan kegembiraan hidup, dan seterusnya dan seterusnya.

Allah selalu menunggu kita untuk menyapa-Nya, bahkan melalui permohonan-permohonan kecil sekalipun; nyeri sendi yang ingin kita hilangkan, swing golf yang kita harapkan indah dan sempurna, atau sekedar tidur lelap dan nyenyak yang kita dambakan.

***

Dan, Do'a, alangkah mudah: tinggal menundukkan kepala, mengangkat dan mengatupkan tangan, dan menghadirkan hati penuh harap. Dan bahkan kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan-pun: alangkah sederhana, dan mudah. Hanya Sholat, Dzikir, Sedekah, Puasa dan berbuat baik pada semua orang, khususnya ibunda sendiri.

Sedangkan balasan yang engkau mintakan dari Allah: hati yang penuh cinta dari wanita yang menyenangkan hatimu, kekayaan yang tiada habisnya, pangkat yang begitu tinggi: alangkah tidak mudah jika engkau harus lakukan sendirian. Bahkan alangkah tidak mungkin.

***

Do'a, dapat dilakukan kapan saja, dan bisa dikatakan dimana saja; seenakmu, sesempatmu. Benar-benar mudah. Tapi, mengusahakannya secara khusus, di tempat-tempat khusus, pada waktu-waktu khusus, dengan cara-cara khusus; sungguh lebih menunjukkan kesungguhanmu, sungguh menunjukkan rasa hormatmu. Layaknya seorang hamba, kepada Tuhannya.

Tempat seperti Baitullah, Masjid, Majelis Ilmu dan semacamnya; adalah tempat-tempat khusus, yang Allah sudah janjikan akan mustajabah berdo'a di dalamnya. Waktu seperti sepertiga malam sesudah Tahajjud, waktu sesudah matahari terbit sesudah Dhuha, saat turun hujan, sesudah mendengar adzan, dan banyak lagi; adalah waktu yang Dia janjikan akan mustajabah juga. Cara atau Laku khusus seperti puasa, entah Senin-Kamis, atau sunnah-sunnah lain, adalah Cara atau Laku khusus yang juga mustajabah untuk do'a. Bahkan praktik mohon di-do'a-kan orang lain, seperti Ibunda sendiri, atau para Alim, atau orang yang sedang berziarah ke Makkah dalam Haji atau Umroh.

Boleh jadi bukan karena kekhususan tempat, atau waktu, atau cara atau Laku itu sendiri sebenarnya; Dia menjadikan semua itu khusus untuk Do'a, sekedar agar Dia dapat melihat kesungguhan dan rasa hormat kita dalam mengajukan Do'a.

Dan Kita sungguh berharap; dengan kesungguhan dan rasa hormat kita itu, Dia akan berkenan Ridha atas upaya-upaya kita itu.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4