Mohon tunggu...
Herman Susanto
Herman Susanto Mohon Tunggu... Chinese, Muslim, Suka film,musik dan kuliner

Chinese Muslim.Asal Medan. Management Support perusahaan outsorcing di Surabaya.Suka sepakbola,suka nonton film, penggemar U2,suka kuliner (Rendang sapi,dendeng sapi, tauco udang/ikan, ayam goreng sambal,sambal ati, sup labu, sup ayam, bakso ayam, sate kambing, gulai ayam, opor ayam, cap cay, soto Medan, rawon,tahu tek, nasi Krawu,Lontong Balap,Bebek Sinjay, coklat, emping, kerupuk balado,coklat,bistik,es krim, MC Donald, Carl's Jr, Wendys,)

Selanjutnya

Tutup

Film

Review "Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini"

14 Januari 2020   07:45 Diperbarui: 16 Januari 2020   09:36 86 1 0 Mohon Tunggu...

"Bagaimana caranya bahagia? Kalau sedih aja enggak tahu rasanya kayak apa,"

Narendra - suami yang memimpin istri dan ketiga anaknya dengan ketat, kaku tanpa kompromi, karena takut merasakan kembali kehilangan yang pahit.

Ajeng - istri yang hanya diam selama belasan tahun merasakan perih karena sebuah rahasia.

Angkasa - anak sulung yang belasan tahun hidup di bawah kendali sang ayah, nyaris kehilangan karir dan kekasih, juga demi menunaikan tanggung jawab dari sang ayah.

Aurora - anak kedua yang belasan tahun merasa terabaikan sejak kelahiran sang bungsu yang selalu dinomor satukan sang ayah.

Awan - anak bungsu yang bosan didikte oleh ayah, menemukan kebebasan dalam memilih tanggung jawab dan cita citanya....disinilah konflik dimulai.

Sutradara dengan cermat dan hati hati menampilkan konflik yang dialami tiap karakter secara sendiri yang lalu bermuara kembali ke rumah, yang terlihat diisi oleh keluarga yang seolah tanpa masalah,namun ternyata menyimpan kepahitan yang tidak dimengerti oleh anak -- anak.

Film ini saya akui bukanlah puitis seperti yang dikatakan beberapa reviewer (saya belum pernah baca novelnya), namun memang dalam momen tertentu memberikan ketukan pada sisi emosi kita. Akting semua castnya begitu solid, chemistry nya terjalin alami.

Lebih dari setengah jam pertama film berjalan dengan flashback yang terkesan agak berantakan, dan dengan kilas balik itu kita terpaku menunggu apa yang sebenarnya terjadi 16 tahun yang lalu, ketika si bungsu lahir dan apa hubungannya dengan apa yang sedang terjadi di rumah yang terlihat damai.

Mantan remaja akhir 1980 an yang kangen Donny Dhamara (khususnya kaum hawa) ,bisa melihat kekuatan aktingnya sebagai ayah yang begitu strenght tanpa kompromi -- bukan kasar, tapi begitu tanpa empati,namun semua itu tak lain hanya bentuk self defense atas jiwanya yang juga dirundung kepedihan.

Rio Dewanto, Sheila Dara, Rachel Amanda menampilkan 3 bersaudara yang tenggelam dalam perasaan pahit yang tidak mereka pahami. Atau Susan Bachtiar sebagai istri yang dialognya sangat minim, namun gesturenya memberikan gambaran betapa dia menahan kesedihan segitu lama tanpa bisa berbuat apa apa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x