Mohon tunggu...
Heri Purnomo
Heri Purnomo Mohon Tunggu...

Tak ada kata terlambat dalam belajar, kecuali jika jantung telah berhenti berdetak.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Adakah yang Lebih Baik dari "Saya"? Yang Lebih Korup Banyak

3 Juni 2013   10:32 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:36 0 2 5 Mohon Tunggu...

Adakah Yang Lebih Baik Dari "Saya"? Yang Lebih Korup Banyak. Kalimat serperti ini sering diucapkan dalam obrolan atau tulisan berbau politik. Mungkin lontaran kalimat ini sah-sah saja dalam dunia politik karena berpolitik itu seperti mengiklankan barang dagangan. Memang tidak ada yang salah dalam berdagang menyebut diri lebih baik dibanding yang lain. Namun dilihat dari sisi moralitas agama terutama dalam ilmu tasawuf, bahwa mengganggap diri lebih baik itu adalah sangat dekat dengan kufur. Inilah yang sering kali hinggap di hati kita tak terkecuali para penuntut ilmu agama bahkan ulama sekalipun.  Merasa lebih baik dari yang lain atau bahasa arabnya “ana khoiru minkum” bisa mengakibatkan  kematian hati, tumpulnya akal, dan hilangnya cahaya keimanan karena tertutup hatinya lantaran meremehkan orang lain yang tidak seperti dirinya. Inilah yang tanpa disadari bisa menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran karena Tuhannya berubah menjadi hawa nafsunya sendiri. Kalimat seperti dalam judul di atas sering saya dengar dan terasa mengganjal di hati. Kalimat ini banyak dilontarkan oleh teman-teman yang teramat sangat mencintai sebuah lembaga politik yang rasanya melebihi kecintaannya terhadap Islam itu sendiri. seolah-olah lembaga politik itu ya Islam itu sendiri. Banyak kritik yang membangun tak dianggap apalagi kritik yang memojokkan lebih-lebih lagi dicurigai sebagai bagian dari konspirasi menghancurkan lembaga politik itu. Jadi, jika masih ada hati cobalah untuk tidak merasa menjadi paling baik dibanding yang lain. Karena saat klaim paling baik itu dilontarkan, secara etika dan moralitas agama itu adalah bentuk dari penuhanan diri sendiri. Berhati-hatilah untuk tidak mengatakan diri lebih baik atau paling baik. Karena apa? Karena perasaan ini bisa menggiring dan menjerumuskan  ke dalam rasa takjub pada diri sendiri, angkuh dan sombong. Sifat inilah yang membuat setan dahulu saat di sorga divonis masuk neraka karena merasa lebih baik dari Adam. Semua kebaikan itu dari Tuhan, bukan dari diri kita. Sungguh tak layak menyebut diri baik dan yang lain lebih jelek. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Omjay, dengan judul yang hampir sama. Salam Jakarta , 3 Juni 2013

KONTEN MENARIK LAINNYA
x