Heri Kurniawansyah
Heri Kurniawansyah Pemimpi

Menulis, Baca, Traveling, Pemimpi, Bermanfaat untuk semua

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Mencerna Fakta Baru dari Hasil Pilkada NTB dan Jawa Barat

12 Juli 2018   18:20 Diperbarui: 15 Juli 2018   17:10 2444 1 1
Mencerna Fakta Baru dari Hasil Pilkada NTB dan Jawa Barat
trentech.id

"Pilkada NTB telah menunjukan terjadinya penguatan rational choice seiring dewasanya usia demokrasi. Eksistensi partai politik tidak lagi menjadi mesin buas pendulang suara, melainkan paradigma tersebut telah bergeser ke personal branding" (HK).

Back to the history bahwa sejarah perpolitikan di Indonesia sejak orde baru sampai pertengahan reformasi masih didominasi oleh para elite nasional yang bernaung di partai-partai besar dan mengakar dominan di senayan. Para elite yang dimaksud masih menempatkan dirinya sebagai "orang spesial" yang begitu kaku dalam perbauran sosial dengan masyarakat. 

Proses yang demikian telah memunculkan kebosanan publik terhadap sepak terjang para elite yang belum memberikan perubahan signifikan kepada masyarakat.

Munculnya kebosanan ini telah menggeser paradigma politik sebagian besar masyarakat untuk memunculkan tokoh-tokoh baru yang dianggap lebih fleksibel dan sederhana dalam dinamika politik nasional maupun daerah.

Kemunculan Jokowi dalam pusaran politik nasional telah memotong mata rantai dominasi para elite partai politik negeri ini dan menjadi sejarah pergeseran paradigma politik nasional yang bergeser ke paradigma personality, fleksibel, dan bahkan ke kesederhanaan.

Padahal jika dilihat dari kacamata matematika politik, elite nasional seperti Prabowo Subianto yang sudah lama berkecimpung di kancah politik nasional dan sekaligus menjadi ketua partai politik seharusnya menjadi pemenang dalam pertarungan Pilpres empat tahun lalu. 

Namun faktanya, munculnya tokoh daerah karena faktor fleksibility sosial, adanya prestasi di daerah, serta perbauran dengan masyarakat yang sangat melekat telah membalikkan keadaan sejarah politik nasional (Raharjo, 2016).

Faktor itu menjadi determinan penting arah politik Indonesia ke depan dalam memetakan kekuatan dan kemenangan setiap ajang demokrasi lokal di setiap daerah. Faktor tersebut juga bisa dijadikan rujukan atas munculnya pemilih rasional. Secara empiris, perubahan yang demikian telah berpengaruh sampai kepada dinamika politik lokal (politik daerah). 

Hal ini dapat dilihat dari berbagai proses Pilkada di sejumlah daerah, termasuk di Pilkada NTB.

Pilkada NTB 2018 menjadi sejarah baru pondasi politik primordial menjadi begitu cair, di mana selama ini posisi gubernur sepanjang berjalannya demokrasi langsung selalu didominasi oleh ketokohan elite Pulau Lombok, yang didukung oleh keunggulan jumlah penduduk serta kekuatan primordial dan masih melekat.

Namun, kekuatan primordial tersebut harus berakhir dengan keunggulan tokoh politik putra daerah Pulau Sumbawa, yaitu Dr. Zulkiflimansyah yang berpasangan dengan Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah dan menjadi pemenang dalam perhitungan cepat Pilkada NTB 2018 maupun real count oleh KPU NTB. 

Branding of Personality, capability, track record akademik dan politik, visioner (rational choice) adalah kompleksitas keunggulan yang dimiliki Dr. Zulkiflimansyah dan sekaligus menjadi determinasi kemenangannya dalam Pilkada NTB, di samping faktor eksistensi HJ. Siti Rohmi Djalilah sebagai salah satu tokoh Nahdatul Wathan (NW) di pusaran Pulau Lombok. 

Dukungan Dr. TGH. Zainul Majdi (TGB) sebagai tokoh sentral NTB yang juga sebagai Gubernur NTB saat ini pun sangat memberi poin penting atas kemenangan pasangan tersebut. Padahal dalam sudut pandang politik, pasangan tersebut hanya didukung oleh dua partai politik, sementara ada pasangan lain yang didukung oleh banyak partai besar pun tidak mampu menyaingi perolehan suara pasangan Dr. Zulkflimansyah -- HJ. Siti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi).

Prediksi sebagian besar masyarakat pun meletakkan kekuatan besar ada pada pasangan Ahyar-Mori yang notabenenya didukung oleh gabungan partai besar (PDIP, Gerindra, PAN, PPP, Hanura, dan PBB) yang secara ril mempunyai infrastruktur politik unggul sampai ke akar rumput, yang kemudian secara logic diasumsikan bahwa pasangan inilah yang akan menjadi pemenangnya. 

Tetapi faktanya pasangan itu tidak mampu mengungguli perolehan suara pasangan Zul-Rohmi yang hanya didukung oleh dua partai politik (PKS dan Demokrat). Lalu muncul pertanyaan, apakah mesin dan struktur partai pengusung dan partai pendukung tidak bekerja? Maka jawabannya adalah bahwa publik tidak lagi melihat partai sebagai faktor penentu kemenangan.

Posisi branding of personality telah menghipnotis suara publik dan mengalahkan mesin partai yang selama ini selalu dianggap senjata kemenangan paling manjur.

Kemenangan tersebut pun telah mencairkan kekakuan primordial yang selama ini sangat melekat di NTB, di mana konteks "politik kedaerahan" selalu menjadi kekuatan politik pada setiap perhelatan politik lokal di NTB.

Di sisi lain, konteks jumlah penduduk pulau Lombok atau Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah 70,85% begitu dominan jika dibandingkan dengan seluruh DPT Pulau Sumbawa yang hanya berjumlah 29,15%.

Tidak dengan saat ini, di mana faktor-faktor klasik tersebut mulai melebur seiring dewasanya pemahanan publik tentang demokrasi dan adanya kemauan serta kepedulian publik terhadap kepentingan daerahnya  (Kurniawansyah, 2015), sehingga faktor visioner, personality, capability, dan track record menjadi pilihan terbaik sebagian besar publik dalam menentukan pilihannya.

Selain Pilkada NTB, sejumlah daerah yang melaksanakan Pilkada serentak tahun 2018 pun memiliki kohesi yang sama dengan konten Pilkada NTB.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2