Muda

Generasi Milenial Kedepankan Perdamaian, Bukan Permusuhan

7 Desember 2017   07:02 Diperbarui: 7 Desember 2017   07:10 280 1 1
Generasi Milenial Kedepankan Perdamaian, Bukan Permusuhan
Perdamaian - (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Di era yang modern, ketika gadget dan internet menjadi hal yang dekat dengan generasi muda, terkadang anak muda kehilangan teladan di dunia nyata. Mereka tak jarang mencari teladan di dunia maya. Hal semacam ini lumrah, tapi juga tidak ada pemahaman yang benar, berpotensi bisa salah dalam memahami. Salah satu contoh yang paling mudah terlihat adalah, ketika anak muda berbicara tentang khilafah. Ketika anak muda pergi  berjihad, dan berani melakukan tindakan toleran, bahkan tindakan persekusi atau teror. 

Hal ini bisa terjadi karena salah dalam meneladani seseorang, salah dalam memahami sebuah ajaran, dan merasa paling benar sendiri. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang tidak mau menerima masukan orang lain, karena merasa pemahaman yang dia anut yang paling benar.

Sebagai generasi penerus bangsa, anak muda harus bisa mencari teladan yang bisa diterapkan di era yang serba modern ini. Jika kesulitan mencari teladan, meneladani segala perilaku Rasulullah SAW merupakan solusi yang tepat. Meski Nabi ada di era yang telah lampau, tapi segala ucapan dan tindakannya masih saja relevan untuk diterapkan di jaman now seperti sekarang ini. 

Dan salah satu teladan yang patut kita pegang adalah, semangat untuk tetap menjaga perdamaian dengan siapa saja. Bahkan, dengan yang berbeda agama atau pihak yang memusuhinya sekalipun, Nabi tetap menghormati tidak mencari permusuhan dan mengedepankan perdamaian.

Teladan ini perlu diterapkan di jaman sekarang ini, karena ujaran kebencian begitu masif terjadi. Tidak hanya di dunia nyata, tapi juga terjadi di dunia maya. Ideologi kebencian telah menyusup ke setiap lini dunia maya, yang bisa berdampak pada menyebarnya permusuhan. Padahal, dalam budaya Indonesia tidak mengendal budaya permusuhan atau saling membenci. 

Namun karena masifnya provokasi kebencian di dunia maya, membuat sebagian orang mudah saling membenci hanya karena persoalan yang sepele. Jika kita meneladani sifat Rasulullah SAW, tentu tidak ada kekerasan, kebencian, atau permusuhan yang mengatasnamakan agama atau apapun, seperti yang sering terjadi saat ini.

Tidak mudah memang untuk tetap sabar ditengah cacian. Tidak mudah untuk tetap memaafkan dan mendoakan pihak yang memusuhi, meski ancaman itu datang setiap hari. Itulah teladan Rasulullah SAW yang harus kita ikuti di era yang serba modern sekarang ini. Seperti firman Allah dalam Al Quran, "dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui." (QS Al-Anfal: 61).

Yang terjadi saat ini, permusuhan tidak hanya melanda generasi muda, tapi juga generasi tuanya. Tidak hanya masyarakat biasa, para pemimpin dan elit politik tak jarang juga mempertontonkan permusuhan itu. Padahal, permusuhan merupakan tindakan yang bisa berdampak pada perbuatan tidak terpuji lainnya. 

Dan saling memusuhi itu lagi-lagi tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dan permusuhan itu merupakan tindakan yanag dilarang, karena bisa menyebabkan konflik dan mengancam persatuan. Dan tidak dipungkiri, bibit kebencian dan permusuhan itu ada disetiap diri manusia. Namun, bibit negatif itu tetap bisa dihilangkan, jika kita mengedepankan semangat perdamaian, seperti yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.