Mohon tunggu...
Henri Satria Anugrah
Henri Satria Anugrah Mohon Tunggu... Blogger di pikirulang.id

Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada. Saat ini, bekerja sebagai Chief Marketing Officer di PT Amira Heksa Internasional (amiraheksa.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dunia Berkembang karena Ahli Bisa Dibantah: Belajar dari Ilmu Filsafat, Psikologi, dan Kedokteran

3 Oktober 2019   12:14 Diperbarui: 3 Oktober 2019   15:41 409 2 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dunia Berkembang karena Ahli Bisa Dibantah: Belajar dari Ilmu Filsafat, Psikologi, dan Kedokteran
sumber: pixabay.com

Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Setiap satu era, atau setidaknya setiap satu abad, akan ada cendekiawan-cendekiwan yang berperan vital dalam berkembangan ilmu. Tentu, cendekiawan-cendekiawan tersebut pada umumnya ialah tokoh-tokoh yang namanya tertulis dalam buku-buku sejarah

Biasanya, karya atau pemikiran mereka terdokumentasi dalam bentuk buku, yang kita kenal dengan sebutan "buku klasik". Sebutlah Sigmund Freud sebagai tokoh klasik ilmu psikologi pada satu abad lalu dengan karyanya yang berjudul "A General Introduction to Psychoanalysis", atau Adam Smith sebagai tokoh klasik ilmu ekonomi pada tiga abad lalu dengan karyanya yang berjudul "Wealth of Nations". Bidang ilmu lain pun pasti memiliki tokoh klasik juga. Karya-karya itulah yang kita pelajari sekarang dan kita terapkan pada abad ke-21 ini.

Dengan mengaplikasikan ilmu yang cendekiawan lama tulis, ilmuwan zaman setelahnya akan membangun peradaban baru dan menjadi cendekiawan pada masanya. Inilah siklus historikal yang terus berlaku sepanjang peradaban manusia, bahkan sejak zaman Plato yang menurun ke Aristoteles pada tahun 300-an SM (sudah lama sekali, kan? Saya yakin, tahun-tahun sebelumnya pun siklus historikal ini sudah berlaku). 

Pada perkembangan zaman, cendekiawan pada zamannya selalu membantah tulisan/ajaran dari cendekiawan zaman sebelumnya. Sebagai contoh, Apakah Aristoteles pernah membantah Plato? Pernah, salah satunya terkait eksistensi benda. 

Plato beranggapan bahwa benda tidak memiliki eksistensinya sendiri, kecuali hanya "ide" yang terbentuk di pikiran kita, sedangkan Aristoteles beranggapan bahwa benda memiliki eksistensinya sendiri karena tanpa eksistensi, benda tidak mungkin ada. 

Dengan bantahan Aristoteles terhadap Plato inilah, ilmu bisa berkembang, bahkan sampai zaman sekarang. Coba bayangkan apabila Aristoteles adalah "murid penurut yang tidak pernah membantah gurunya", apakah ilmu filsafat akan berkembang?

Setelah sukses membantah gurunya, Plato, apakah Aristoteles sudah menjadi hebat sehingga "kebal" terhadap bantahan? Tentu saja tidak! Aristoteles pernah mencetuskan Teori Abiogenesis yang menyatakan bahwa sesungguhnya makhluk hidup berasal dari benda mati. 

Aristoteles mencetuskan Teori Abiogenesis karena melihat kemunculkan ikan dan cacing ketika hujan, yang dia percaya bahwa makhluk itu terbentuk secara langsung dari tanah. Teori ini dipercaya luas oleh cendekiawan-cendekiawan di zaman setelahnya hingga akhirnya dibantah secara mutlak oleh ilmuwan abad ke-17. Lalu pada zaman ini, kita semua bisa menertawai Teori Abiogenesis karena menganggap bahwa teori itu tidak masuk akal.

Hal serupa juga masih terjadi sampai saat ini, setidaknya pada disiplin psikologi, ilmu yang penulis pelajari secara formal di universitas. Mulanya, pada awal ke-20, aliran yang paling populer di psikologi ialah psikoanalisis, yaitu teori kontroversial dari Sigmund Freud yang beranggapan bahwa dasar dari mental manusia ialah dorongan seksual yang ada dalam alam tidak sadar pada setiap manusia. Bahkan, Freud beranggapan bahwa seluruh aktivitas manusia, bahkan sesederhana merokok, melukis, berolahraga, bahkan mungkin menulis di Kompasiana dimotivasi oleh dorongan seksual (aneh banget kan?). 

Salah seorang murid Freud, Alfred Adler, dengan tegas dan keras membantah teori dari Freud, bahkan sampai Adler enggan mengakui bahwa dirinya adalah murid dari Freud. Menurut Adler, dasar dari mental manusia ialah dorongan menuju superior yang ada dalam alam tidak sadar pada setiap manusia. 

Adler beranggapan bahwa ketika lahir di dunia, manusia berada dalam keadaan inferior (lemah) dan memiliki dorongan untuk menuju superioritas. Nama Alfreid Adler memanglah tidak terkenal, sangat tidak sebanding dengan ketenaran Sigmund Freud. Akan tetapi, murid dari Adler ada yang mampu menyaingi ketenaran dari Bapak Psikonalisis itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN