Mohon tunggu...
Hennie Engglina
Hennie Engglina Mohon Tunggu... Pelajar Hidup

HEP

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Netizen +62, "DPR dalam Jaringan"

26 Maret 2021   06:06 Diperbarui: 26 Maret 2021   08:59 168 28 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Netizen +62, "DPR dalam Jaringan"
ilustrasi: heiweite

Saya tidak perlu menyebutkan lagi seperti apa kekuatan warganet Indonesia atau populer disebut Netizen +62 di jagat virtual.  Silakan Googling saja dengan mengetik "kekuatan netizen Indonesia", maka Anda akan menemukan fakta-fakta apa saja yang membuktikan bahwa jempol Netizen +62 itu bukan hoaks bila disebut "sakti".

Yang menarik adalah mereka tidak pernah dipilih oleh rakyat untuk mewakilkan suara rakyat dan mereka juga tidak menyebut dirinya "wakil rakyat" tetapi mereka benar-benar bisa merepresentasikan suara hati rakyat Indonesia pada posisinya masing-masing, pro atau kontra.

Akan tetapi, dua kubu yang berbeda seketika bisa bersatu membentuk kekuatan The Power of Netizen +62 seraya mengutus dirinya sendiri laksana pasukan Indonesia yang secara serentak bergerak maju menggempur pihak luar, siapa pun itu, yang dipandang telah melecehkan bangsanya dan negaranya.

Lepas dari klaim diri "Maha Benar" yang sungguh tidak benar dan penyematan label "Barbar" yang dibuktikan kebenarannya oleh mereka sendiri serta segala bentuk kebablasan mencampuri urusan pribadi, keluarga, dan rumah tangga orang lain, bahkan entah salah atau pun benar, satu yang pasti dan membuktikan, bahwa Indonesia tidak pernah memecah belah bangsanya sendiri. Yang terlihat adalah politiklah yang bisa melakukan itu dan apa pun yang ditunggangi oleh politik.

Netizen +62 menguak jiwa nasionalisme masih begitu kuat dimiliki oleh anak-anak bangsa ini padahal dari segi usia tidak sedikit mereka adalah generasi milenial dan generazi Z yang mungkin dianggap tidak tahu sejarah.  Akan tetapi, mereka telah membuktikan dengan cara mereka sendiri: WE LOVE INDONESIA.

Dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) muncul istilah "DPR Jalanan" ketika rakyat turun ke jalan menyuarakan aspirasinya. Kini tidak perlu lagi harus ke jalan. Cukup dengan gawai dan kuota internet, Indonesia punya "DPR dalam Jaringan". Tanpa kepentingan, tanpa anggaran, tanpa nasi bungkus.

Salam. HEP.-

VIDEO PILIHAN