Mohon tunggu...
Media

Pengalaman Berkesan Live In di Desa Sendang Mulyo

27 November 2018   21:30 Diperbarui: 27 November 2018   21:37 396 0 0 Mohon Tunggu...

Mahasiswa program studi manajemen Unika Atma Jaya akan menjalani kegiatan live in di Desa Sendang Mulyo, Yogyakarta. Segala persiapan yang diperlukan untuk mendukung kelangsungan kegiatan live in tersebut sudah dilakukan sebelum live in dimulai. Persiapan tersebut sudah termasuk pencarian dana untuk membayar biaya live in yang akan dilaksanakan. Pencarian dana dilakukan dalam rangka mengurangi biaya yang harus dikeluarkan tiap peserta untuk kegiatan live in yaitu Rp 500.000. Mahasiswa kelas C manajemen melakukan pencarian dana secara bersama-sama dengan cara menjual minuman dan snack saat berlangsungnya Car Free Day pada hari Minggu. Pencarian dana tersebut mengurangi biaya sekitar Rp 25.000 dari biaya yang seharusnya dikeluarkan tiap mahasiswa untuk mengikut live in. Beberapa minggu sebelum kegiatan live in dilaksanakan, Pak Bambang sebagai dosen mata kuliah pengembangan diri menjelaskan secara rinci tempat live in akan dilaksanakan, kondisi wilayah Desa Sendang Mulyo, kondisi rumah yang akan ditinggali, teknis keberangkatan dan kepulangan, sampai pada hal-hal kecil seperti tidak boleh jajan (harus makan makanan yang disediakan induk semang), dll. Semua hal mengenai live in telag dijelaskan secara jelas dan rinci sehingga pada hari-H semua peserta live in sudah siap menjalani kegiatan live in ini dengan baik.

Pada hari-H yaitu Jumat, 19 Oktober 2018, seluruh mahasiswa berkumpul di hall Karol Wojtyla untuk mengikuti briefing dari panitia sebelum berangkat menuju Yogyakarta. Para mahasiswa peserta live in berkumpul sekitar pukul 12.00. Setelah briefing oleh panitia telah selesai, sekitar pukul 15.00 para peserta dan panitia serta dosen masuk ke dalam bis masing-masing lalu berangkat ke Yogyakarta. Perjalanan dari kampus Semanggi menuju Desa Sendang Mulyo di Jogja memakan waktu kurang lebih 15 jam. Seluruh peserta live in sampai di tempat tujuan pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018, pukul 05.00 pagi. Sesampainya di sana kami peserta live in berkumpul bersama dengan panitia, tim dosen, dan pimpinan atau perwakilan dari Desa Sendang Mulyo di balai desa untuk diberikan briefing dan arahan sebelum pergi ke rumah induk semang masing-masing. Pukul 07.00 setiap peserta pergi ke dusun masing-masing didampingi oleh setiap kepala dusun. Peserta berkumpul di rumah kepala dusun untuk pembagian rumah berdasarkan kelompok yang telah dibuat sebelumnya. Setelah itu akhirnya kami pun pergi ke rumah induk semang masing-masing.

Induk semang saya bersama dengan Jason teman adalah sepasang suami istri yang sudah lumayan lanjut usia. Mereka ialah bapak dan ibu Paidjan. Pak Paidjan dan istrinya mempunyai 3 buah anak. Anak pertamanya ialah seorang laki-laki. Ia tinggal di Jakarta bekerja pada suatu perusahaan yang ada di sana. Lalu anak kedua tinggal di daerah Jelambar, Jakarta Barat, dan bekerja sebagai satuan pengamanan. Anak mereka yang terakhir adalah seorang perempuan. Ia sudah menikah sedangkan kedua kakaknya belum menikah. Ia tinggal di Daerah Istimewa Jogjakarta bersama suaminya. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang berarti merupakan cucu dari pak Paidjan dan istrinya, bernama Berto. Sedangkan bapak Paidjan sendiri berprofesi sebagai petani dan pengrajin kayu. Pak Paijan membuat barang-barang mebel seperti meja, kursi dan lemari. Namun beliau tidak terlalu menekuni pekerjaannya secara serius lagi, beliau mengatakan hal itu disebabkan karena usia beliau yang sudah tidak muda lagi, tenaga yang sudah tidak memadai dan ingin menjalanin hidup dengan lebih santai.

Saya dan Jason melakukan kegiatan sehari-hari bersama keluarga pak Paidjan. Kami pergi ke sawah membantu pak Paidjan membersihkan semak-semak liar di sekitar tanaman padi dan membawa batang kayu tua untuk dijadikan kayu bakar, membantu ibu Paidjan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci piring dan membersihkan rumah. Lalu saya beserta para peserta live in yang lain juga mengikut acara-acara yang diadakan oleh desa Sendang Mulyo.

Beberapa jam sesudah melakukan kegiatan rumah tangga bersama keluarga pak Paidjan di hari Sabtu, saya beserta para peserta live in lainnya mengikuti acara kirab budaya yang diadakan oleh Desa Sendang Mulyo. Tujuan diadakannya acara ini ialah sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Acara kirab budaya ini dilaksanakan oleh masyarakat desa. Mereka melakukan pawai dengan membawa 4 gunungan sambil mengelilingi desa menggunakan kendaraan bak terbuka. Tidak hanya itu, banyak mayarakat lain yang meramaikan acara dengan mengenakan pakaian daerah dan kostum-kostum menarik lainnya, menari, bernyanyi, memainkan gamelan. Kami ikut meramaikan pawai bersama para peserta lainnya, dengan mengikuti perjalanan pawai sampai kembali lagi ke balai desa menggunakan sepeda motor. Pada malam harinya, diadakan acara wayangan di balai desa. Acara wayangan ini menampilkan pertunjukan wayang yang dimainkan oleh masyarakat desa Sendang Mulyo. Pertunjukkan ini dimulai dari sekitar pukul 7-8 malam hingga subuh. Di luar balai desa pun ramai jajanan-jajanan yang menarik, sehingga para penonton wayang pun dapat membeli jajanan sembari menonton wayang di balai desa. Keesokan harinya, Minggu, 20 Oktober 2018, kami bersama keluarga pak Paidjan pergi ke Gereja yang berada dekat dari desa. Malam harinya, kami beserta beberapa peserta dan panitia live in pergi berziarah dan berdoa ke Gua Maria Sendang Jatiningsih yang jaraknya tidak jauh dari desa Sendang Mulyo. Setelah berziarah dan berdoa kami semua pulang kembali ke rumah induk semang kami masing-masing.

Hari Senin, 21 Oktober 2018, merupakan hari terakhir kami berada di desa Sendang Mulyo. Sebelum itu pada pagi harinya, beberapa dari peserta bekerja bakti membersihkan balai desa. Setelah itu kami berberes-beres dan berkumpul kembali di balai desa untuk persiapan pulang kembali ke Jakarta.

Dari kegiatan live in yang sudah saya jalani dari selama beberapa hari tersebut, saya mendapat suatu pesan yang tersirat yang dapat diambil hikmahnya untuk kehidupan. Pelajaran pertama yang saya dapat dari kegiatan ini adalah bahwa kita bisa belajar untuk hidup lebih sederhana. Kita harus bisa melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, misalnya dalam hal ekonomi. Kita bisa melihat masyarakat-masyarakat desa yang selalu bersyukur terhadap apa yang telah mereka punya dan menjalani hidupapa adanya. Selama ini mungkin sebagian besar dari kita masih sangat banyak yang sudah terbiasa dengan hidup berkecukupan. Maka dari itu, kita bisa belajar kepada masyarakat di desa yang selalu mensyukuri keadaan yang mereka alami dan terus menjalani hidup apa adanya.

Saya merasakan kebudayaan yang masih kental dan sangat dijaga serta di lestarikan di desa Sendang Mulyo. Tradisi seperti Kirab Budaya dan Wayangan membuat saya tersadar bahwa budaya yang kita punya sangatlah banyak dan beragam. Generasi muda termasuk saya sebenarnya harus bangga dan ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya yang sangat beragam di Indonesia ini, salah satu contohnya ialah budaya yang ada di desa Sendang Mulyo ini.

Satu hal lain yang juga saya sangat salut dengan kehidupan di desa Sendang Mulyo ialah sifat kekeluargaan dan tenggang rasa antar masyarakat yang masih sangat tinggi. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat kota yang lebih bersifat individualis dan tidak mementingkan tetangga ataupun sesamanya. Maka dari itu, kita juga dapat mempelajari hal tersebut supaya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena tidak ada salahnya kita untuk bersikap sopan, tenggang rasa terhadap orang lain di sekitar kita sehingga tumbuh rasa kekeluargaan.

Dibuat oleh : Hendry S. Wibowo | 2018-0101-0112 | 12018003217

Manajemen 2018 seksi C

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x