Mohon tunggu...
Hendra Fokker
Hendra Fokker Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Sosial

Buruh Kognitif yang suka jalan-jalan sambil mendongeng tentang sejarah dan budaya untuk anak-anak di jalanan dan pedalaman. Itu Saja.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengenang Kelahiran The Grand Old Man

8 Oktober 2022   05:30 Diperbarui: 8 Oktober 2022   07:13 1094 21 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
H. Agus Salim bersama Soekarno (wikipedia)

Mengenal lebih dalam sosok diplomat sejati Indonesia sejak masa pra kemerdekaan. Ialah H. Agus Salim, yang terkenal dengan julukan The Grand Old Man. Memiliki nama lahir Masyhudul Haq, ini lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Selain dari kemampuannya dalam menguasai enam bahasa internasional, seperti Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Arab, dan Turki.

Dunia internasional mengenal dirinya karena kepiawaiannya dalam berdiplomasi. Bukan karena masyhur dalam strategi angkat senjata, melainkan karena strategi berdialog yang memang benar-benar mampu membuat lawan bicara takjub. Ya, kepiawaian dalam berbicara inilah yang membuatnya menjadi lulusan terbaik dari Hooger Burgerschool (HBS) se Hindia Belanda.

Pahlawan Nasional yang lahir pada 8 Oktober 1884 ini, pada tahun 1906 sempat bekerja di Kedutaan Besar Belanda di Jeddah, Saudi. Sepulangnya dari belajar di Saudi pada 1912, beliau turut serta dalam pembukaan sekolah berbahasa Belanda HIS. Di tahun 1915, hobby dalam bidang jurnalistik ia kembangkan dengan turut bergabung bersama koran Harian Neratja dan Fadjar Asia.

Nah, koran Fadjar Asia inilah yang dianggap sebagai puncak karirnya dalam kejurnalistikan. Hal ini karena koran tersebut adalah bagian dari organisasi pergerakan Sarekat Islam besutan H.O.S. Cokroaminoto. Khalayak makin mengenalnya dalam berbagai peran penting dalam propaganda Indonesia merdeka. Khususnya bagi kalangan politisi Indonesia kala itu.

Selama masa-masa pendudukan Jepang, kiprahnya dalam dunia perpolitikan tidak berhenti begitu saja. Selain tergabung dalam Panitia Sembilan, beliau pun turut aktif dalam memberikan pembelajaran-pembelajaran politik bagi para politisi muda, seperti Syahrir hingga Wikana. Baik bersama dengan Bung Karno atau Bung Hatta, diskusi tentang masa depan Indonesia kerap bergulir.

Beberapa waktu usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, struktural kementerian luar negeri menjadi kursi penting yang diemban olehnya. Selama berjuang sebagai Menteri Muda Luar Negeri, beliau adalah kunci utama dari hadirnya dukungan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan Indonesia. Jadi, karena beliaulah, kemerdekaan Indonesia dapat diketahui oleh negara lain.

Jabatan yang senantiasa melekat hingga akhir hayatnya, ya apalagi jika bukan Menteri Luar Negeri. Selaku Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia, kritik tegasnya terhadap kebijakan-kebijakan nasional, selalu dikoreksinya sebagai kode etik yang tidak dapat ditolerir. Baginya, berapresiasi harus melalui koridor dan batasan yang secara konsisten dan dijunjung tinggi.

Sang Diplomat Seratus Persen ini pernah beberapa kali membuat malu delegasi Belanda kala berdiplomasi. Hal ini terkisah ketika Volksraad mengadakan sidang dengan perwakilan dari Belanda.  Seorang Belanda bernama Bergmeyer menyindirnya dengan memberi pertanyaan, "apa kata ekonomi dalam bahasa Melayu?".

Fyi, pada sidang tersebut ternyata bahasa Indonesia pertama kali dipergunakan lho. Lantas apa jawaban dari H. Agus Salim? "Coba tuan sebutkan apa Belandanya sebelum saya menjawab". Hal ini adalah cara beliau dalam memberikan balasan terhadap Bergmeyer. Karena ia tahu, bahwa istilah ekonomi dalam bahasa Belanda tidaklah ada.

Begitupula ketika beliau berhadapan dengan Kuupers, seorang Belanda dari Sarekat Sekerja. Belum sempat H. Agus Salim memberi pidatonya, Kuupers menginterupsi untuk meminta salinan pidatonya dalam bahasa Perancis. Nah, seketika H. Agus Salim menjawab permintaan Kuupers, "Tidak perlu disalin, karena saya akan membacakannya dalam bahasa Perancis".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan