Mohon tunggu...
Hendra Fokker
Hendra Fokker Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Sosial

Buruh Kognitif yang suka jalan-jalan sambil mendongeng tentang sejarah dan budaya untuk anak-anak di jalanan dan pedalaman. Itu Saja.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menembus Sekat Pandemi Demi Literasi Anak Negeri

11 September 2021   01:24 Diperbarui: 11 September 2021   01:25 283
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Generasi muda saat ini tentu sudah jauh memahami semangat berliterasi dalam segala kegiatannya. Khususnya bagi kalangan pelajar yang ada di kota-kota besar Indonesia. Era digital pun menandai lahirnya generasi yang selalu update dalam teknologi masa kini. Walau ditengah keterbatasan dalam mengakses pendidikan secara langsung.

Ya, wabah Covid-19 memberikan ruang terbuka bagi kegiatan pembelajaran berbasis virtual. Tetapi tidak untuk anak-anak di daerah luar kota. Keterbatasan mengenai fasilitas dan sinyal sudah lumrah menjadi soal. Tentu hal ini tidaklah menjadi tanggung jawab para pemimpin semata.

Nalar pendidik bagi para pegiat sosial ataupun aktivis pendidikan sudah seharusnya menjadi area gerakan yang dapat meringankan persoalan ini. Walau telah banyak guru-guru penggerak yang menembus keterbatasan di daerah-daerah pedalaman di Indonesia. Nyatanya tidaklah dapat dibilang cukup perjuangannya, apabila tidak dibarengi dengan semangat yang sama bagi segenap pemangku kebijakan.

Dukungan modal-modal sosial juga tidaklah cukup apabila tidak ada kesepahaman bersama mengenai pentingnya pendidikan di era industri 4.0. Ketertinggalan dalam mendapatkan askes ilmu dan pengetahuan yang cukup tentu akan memberikan dampaknya bagi generasi yang akan datang.

Walau saat ini sekat-sekat keterbatasan itu ditambah dengan masalah pandemi, tentu saja dapat membuat pendidikan bagi anak-anak di desa semakin tertinggal jauh. Kesetaraan pendidikan sebaiknya dilihat dari kebutuhan generasi masa depan. Dukungan dari segala pihak sudah sepatutnya dikonsolidasikan secara bersama.

Tidak sekedar bersifat program pemberdayaan, tetapi lebih kearah membangun mentalitas dan semangat berliterasi bagi generasi muda saat ini. Mereka inilah yang kelak menggantikan kita saat ini. Sudah tentu membawa nama besar bangsa Indonesia yang mempunyai cita-cita luhur dalam budayanya, dalam hal ini khususnya pendidikan.

Tanpa pendidikan, maka keluhuran sebuah budaya tidak akan ada pengakuan. Justru yang hadir adalah stigma kuno dan dianggap sebagai bangsa yang tertinggal. Tentu pernyataan yang tidak ingin kita dengar bukan?

Rumah Baca Sebagai Alternatif Penyelesaian

Bukan hal yang tidak mungkin menyelesaikan persoalan ini apabila kita mampu mengejawantahkan arti dari semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kepedulian terhadap persoalan pendidikan sepatutnya menjadi kepedulian bersama. Tidak terbatas, dan terbuka dalam realisasinya.

Beberapa waktu selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia, gerakan pendirian rumah-rumah baca yang dimotori oleh para pegiat sosial dan pendidikan sebaiknya mampu memberikan pencerahan bagi semua elemen. Para aktivis muda lintas ilmu pengetahuan pun sudah bergerak dalam upaya menyelesaikan persoalan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun