Mohon tunggu...
Budi Hatees
Budi Hatees Mohon Tunggu... Penulis

Budi Hatees seorang pecinta buku, menulis menjadi satu-satunya medium berbagi.

Selanjutnya

Tutup

Film

"Demi Waktu", Film tentang Lafran Pane

10 Oktober 2019   19:56 Diperbarui: 10 Oktober 2019   20:10 0 1 0 Mohon Tunggu...

Semula saya kira film "Demi Waktu" yang menggarap riwayat hidup Lafran Pane itu diangkat dari novel A. Fuadi, yang terbit belum.lama ini. 

Novel A Fuadi berkisah tentang Lafran Pane yang sedih karena kurang kasih sayang dari ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane--seorang ayah yang terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan politik.

Nyatanya, skenario "Demi Waktu" yang ditulis Jujur Prananto menyajikan cerita yang berbeda tentang Lafran Pane, sisi romantis seorang tokoh Pahlawan Nasional yang jatuh cinta pada kekasihnya. Cinta, memang, luar biasa dalam memautkan manusia yang berjauhan menjadi hidup serumah sebagai suami istri. 

"Demi Waktu" bagi saya adalah upaya menampilkan Lafran Pane sebagai laki-laki yang setia,  yang hidup dan cintanya selalu utuh. Film ini memakai sudut pandang Lafran Pane, yang berkisah kepada kekasihnya, lewat surat-suratnya. Alur cerita menjadi hamparan kilas balik, maju  mundur.  

Cerita diawali dengan surat yang ditulis Lafran Pane, yang dibaca kekasihnya, seorang guru yang bekerja di wilayah pedalaman.  Lafran berkisah tentang masa kecilnya, tentang hal-hal yang kelak membangun karakternya. Di dalam cerita itu, dia mengungkit soal ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane,  yang keras, disiplin, dan sangat menyayanginya. 

Lafran Pane adalah anak terakhir, bungsu, dari lima bersaudara. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, seorang sastrawan, penulis buku, intelektual, budayawan, tokoh pergerakan, dan pengusaha yang tekun.  

Dia menikahi paribannya, Gondo, yang bermarga Siregar dan berasal dati wilayah Koeriahoof Sipirok -- masih keturunan keluarga raja pamusuk marga Siregar di Bagasnadogang.  Dari pernikahan itu, lahir Siti, Sanusi Pane, Armijn Pane, Siti Angat, dan Lafran Panr.

Lafran Pane lahir ketika saudara saudaranya telah dewasa, ada yang merantau dan ada yang menikah. Sementara ibunya sudah almarhum.

Ayahnya relatif tak punya waktu luang untuk memperhatikannya. Lantaran itu, Lafran Pane dekat dengan neneknya, ibu dari ibunya. Dia didik neneknya, dan mendapat epngajaran agama dari kakeknya, Syekh Bafurrahman Siregar-- tokoh penyebar agama Islam yang menolak politik zending Belanda di wilayah Sipirok.

Tidak mendapat perhatian orang tua, Lafran Pane tumbuh sebagai anak yang sulit diatur. Kurang kasih sayang mrmbuatnya mencari pengalihan, dan hal itu membuat saudara-saudaranya lecewa. 

Armijn Pane, kakaknya, sengaja datang dari Jakarta ke Sipirok, hanya untuk mengingatkannya agar menjadi anak baik. Tapi, tidak, Lafran nakal. Armijn Pane kemudian membawa Lafran ke Sibolga, tinggal di rumah kakak sulung yang menikah dengan seorang dokter bermarga Siregar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x