H.Asrul Hoesein
H.Asrul Hoesein Pemerhati Sampah

Pemerhati Persampahan dan Menginisiasi Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation Jakarta http://asrulhoesein.blogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Perbedaan Sikap Megawati pada Pilgub Jatim dan Sulsel

16 Oktober 2017   00:20 Diperbarui: 16 Oktober 2017   01:31 2844 3 1
Perbedaan Sikap Megawati pada Pilgub Jatim dan Sulsel
Pilkada 2018 Beraroma Pilpres 2019 (dok-Asrul)

Ketua umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri secara bersamaan mengumumkan dua pasang bakal calon gubernur dan wakil gubernur untuk provinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Untuk pemilihan gubernur Jawa Timur 2018, PDIP mengusung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas (AAA), koalisi antara PKB dan PDIP (cukup kursi). Sementara untuk Sulawesi Selatan, PDIP mengusung pasangan Prof. Nurdin Abdullah (NA) dan Andi Sudirman Sulaiman (ASS) tanpa koalisi (belum cukup kursi). Pengumuman calon PDI Perjuangan berlangsung di Kantor DPP PDIP di Jakarta Pusat, Minggu 15/10.  

Gus Ipul terlebih dahulu diputuskan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai bakal calon gubernur Jatim (11 Oktober 2017), tanpa pasangan, padahal PKB Jatim sesungguhnya bisa mengusung pasangan tanpa perlu berkoalisi. Namun pada ahirnya PDIP menggabungkan diri dan berkoalisi pada PKB untuk mengusung Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jawa Timur) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi Jatim).

(Baca disini: Megawati: Gus Ipul Anak Angkat Saya, Anas Generasi Milenial)

Membaca gerakan politik Megawati menghadapi pilgub Jawa Timur ini, bisa diprediksi terjadi perbedaan sikap dan strategi politik dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menghadapi Pilpres 2019. Kenapa demikian ??? karena jelas Jokowi akan mendukung Khofifah Indar Parawansa, dimana pada hari ini pula, DPP Partai Golkar resmi mendukung Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa untuk maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 mendatang. Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Idrus Marham di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta, Minggu (15/16/30/2017). 

Sangat jelas bahwa Jokowi pasti lebih mempercayai Khofifah Indar Parawansa (Timses Jokowi-JK pada Pilpres 2014) dari pada Gus Ipul yang pada waktu Pilpres 2014 berseberangan dengan Jokowi. Dengan ikutnya Khofifah, secara otomatis pula suara Nahdlatul 'Ulama (NU) Jatim pasti terbelah antara Gus Ipul dan Khofifah. Yang struktural lebih condong ke Gus Ipul. Yang kultural, terutama majelis-majelis perempuan NU ke Khofifah. 

Selain itu, Khofifah juga memiliki daya magnet elektoral yang bisa membuat partai lain mendukung dia. Begitupun sebaliknya, bila ada cagub Jatim selain Gus Ipul dan Khofifah, maka bisa jadi mengambil untung dari perpecahan suara NU di Jatim tersebut, siapa bisa memanfaatkan peluang ini, bisa jadi kuda hitam pada pilgub Jatim, terkecuali terjadi head to head antara Gus Ipul dan Khofifah.

(Baca disini: CSIS: Jika Khofifah dan Gus Ipul Maju Pilgub Jatim, Suara NU Pecah)

Lain Pilgub Jawa Timur, lain pula Megawati dengan PDIPnya menghadapi Pilgub Sulawesi Selatan. PDIP pada ke dua provinsi ini tidak memiliki suara cukup atau tunggal untuk mengusung jagoannya. Tapi kenapa Megawati berbeda sikap mengahadapi Jatim dan Sulsel ??? Jatim memang menjadi lumbung suara PDIP, sementara Sulsel bukan wilayah "lumbung suara" PDIP (Sulsel merupakan lumbung suara Partai Golkar), maka sepertinya Megawati lebih hati-hati ke Jawa Timur dibanding ke Sulsel. 

Faktanya Megawati mengalah dan mendukung jagoan PKB (Gus Ipul) dengan menempatkan Kader PDIP, Bupati Banyuwangi (Abdullah Azwar Anas) untuk posisi calon wakil gubernur saja. Pertanyaannya, kenapa Megawati tidak mendukung Khofifah untuk satu strategi dengan Jokowi ?!. Ataukah jangan sampai Megawati tidak mendukung Khofifah, karena Partai Demokrat mendukung Khofifah ?! Masih adakah dendam membara Megawati dan SBY, sampai mengorbankan Khofifah yang lebih dipercaya oleh Jokowi dari pada Gus Ipul !!! Hanya Tuhan YMK dan Megawati yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Sikap lain yang dimunculkan Megawati untuk Pilgub Sulsel, yaitu langsung memilih NA dan ASS sebagai pasangan cagub-cawagub Sulsel 2018. Padahal posisi PDIP Sulsel sama saja PDIP Jatim (belum cukup kursi untuk mengusung pasangan cagub-cawagub) dan harus berkoalisi. Sepertinya PDIP untuk Pilgub Sulsel, mengambil langkah beresiko tinggi, khususnya terhadap NA-ASS. Harus kerja keras membujuk partai berkoalisi dengan PDIP. Bila tidak mampu, NA-ASS akan gigit jari. Megawati sendiri yang membuka lebar-lebar peluang "opportunity" partai lain untuk memainkan roda "politik" koalisi bagi pasangan NA-ASS.

Bagaimana pasangan NA-ASS selanjutnya, antara lain:

Pasangan NA-ASS belum tentu final, bisa jadi ada perubahan signifikan pada detik-detik terakhir (ingat pada saat PDIP mengusung Ahok-Djarot pada Pilgub Jakarta 2017) oleh Megawati atau terlebih perubahan kandidat oleh partai-partai koalisi. Keputusan final setelah terdaftar di KPUD Sulsel atau masing-masing partai sudah menentukan sikapnya dalam satu koalisi.

Pasangan NA-ASS, bisa jadi tidak ikut bila ngotot berpasangan, karena partai lainnya bisa lain sikap dengan PDIP, terlebih bila partai lain mengambil patron perpisahan NA dan Tanribali Lamo (TBL). Bisa saja NA diterima tapi ASS ditolak dan kembali menerima TBL, atau bisa jadi ada partai menerima NA tapi hanya pada posisi cawagub (seperti terjadi pada kader PDIP Jatim yang menempatkan AAA sebagai bacawagub), ataukah NA harus menerima bacawagub selain ASS atas permintaan partai koalisi PDIP yang secara otomatis Megawati harus menerimanya). Justru Megawati sendiri menciptakan penguatan "kandidat" pada dan/atau oleh partai lain.

Dulu NA-TBL ditengarai terancam dan hanya akan jadi penonton Pilgub Sulsel 2018. Maka ahirnya NA lepaskan TBL (dengan alasan permintaan partai) kalau permintaan koalisi partai masih masuk akal politik, tapi kalau cuma alasan satu partai (PDIP) saja menolak TBL, itu baru wowww. Namun pastinya pasangan NA-ASS ini juga perlu hati-hati, karena jangan sampai terjadi kondisi yang sama dengan NA-TBL. Partai koalisi bertahan mengajukan kandidat lain. Terjadilah buah simalakama.

Pasca pengumuman PDIP memilih NA-ASS, NA-ASS akan dihadapkan pada kondisi "tersulit" mencari dan menggandeng partai koalisi, semakin berat dan dugaan logistik akan berlipat ganda yang harus disiapkan oleh NA-ASS (partai koalisi PDIP akan diuntungkan) baik internal maupun eksternal. Pada point inilah, saya prediksi Megawati menjadikan Pilgub Sulsel sebagai uji coba strategi(cerita kiri masuk kanan) dan merupakan langkah lunak Megawati setelah menunjukkan langkah kerasnya di pilgub Jatim dalam menghadapi Pilpres 2019 ?!

PDIP tidak bisa ngotot mengunggulkan jagoannya untuk posisi gubernur Sulsel, apalagi hendak berkoalisi Partai Golkar, sangat tidak mungkin Partai Golkar akan mengalah di basis suaranya (Sulsel), sama juga partai lain (partai-partai bisa saja menahan laju jagoan PDIP tersebut). Ataukah Partai Gerindra akan berkolisi PDIP, ini juga langkah berat bagi PDIP. Tentu tidak semulus yang dibayangkan. 

Posisi Megawati dimata Jokowi untuk Sulsel masih tanda tanya besar, apakah akan sinergi atau tidak. Walau diketahui ASS adalah adik kandung Menteri Pertanian A.Amran Sulaiman (Timses Jokowi-JK pada Pilpres 2014). Karena Partai Golkar juga semakin solid mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

Analisa "perbedaan" sikap politik antara Megawati dan Jokowi tersebut diatas, lebih kepada pembacaan situasi politik menjelang Pilpres 2019. Dimana Jokowi kelihatan lebih cenderung memilih Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dibanding Puan Maharani sebagai cawapres Jokowi untuk 2019-2024. Sedikit terbaca Megawati akan mendorong Puan Maharani mendampingi Jokowi, atau bisa jadi "ambisi" untuk mengganti Jokowi. Bisa diperkirakan bahwa menjelang Pilpres 2019, Puan Maharani akan menduduki posisi sebagai Ketum PDIP menggantikan Megawati, sebelum berlaga pada ajang Pilpres 2019.

(Baca disini: Gus Ipul-Azwar Anas Belum Tentu Dukung Jokowi di Pilpres 2019)

Sangat dipastikan pada Pilkada Serentak Jilid 3 Tahun 2018 ini sungguh strategis menghadapi Pemilu dan Pilpres 2019. Maka wajarlah seluruh partai-partai (khususnya partai papan menengah atas) ini sangat ekstra hati-hati dalam menentukan sikapnya memilih pasangan pemimpin daerah, baik bupati atau walikota maupun gubernur, karena akan berimplikasi langsung terhadap strategi politik pada pilpres 2019.

Berita Terkait:

1. Megawati Umumkan Bakal Cagub Jatim dan Sulsel.

2. Golkar Resmi Dukung Khofifah di Pilkada Jawa Timur 2018

3. Cawapres Jokowi Versi Aktivis Ini: Muhaimin, Gatot, Setya Novanto

4. NA-TBL Terancam Hanya Jadi Penonton Pilgub Sulsel


AsrulHoeseinDiary