Regional Pilihan

Eksistensi Tradisi "Lufu Kie'' Tidore pada Era Modern

7 Desember 2017   23:13 Diperbarui: 8 Desember 2017   02:26 1995 2 1
Eksistensi Tradisi "Lufu Kie'' Tidore pada Era Modern
sumber foto: deddyhuang.com

Tradisi dalam era modern sekarang adalah barang mahal yang sukar dipertahankan. Warisan para leluhur yang dititipkan ke generasi selanjutnya menemui berbagai tantangan zaman. Tradisi sebagai warisan masa lalu mempunyai jangka waktu yang mengharuskannya perlahan-lahan lenyap dari peradaban. Layaknya manusia, tradisi memiliki umur yang ditentukan oleh manusianya.

 Jika tradisi mulai dilupakan dan digantikan dengan kebiasaan baru yang lebih marak di zamannya, maka tradisi sebelumnya segera hilang. Oleh sebab itu, yang mampu menjawab tantangan zaman mengenai tradisi yang tetap bertahan adalah manusianya sendiri.

             Globalisasi ikut campur tangan dalam kebudayaan dan tradisi yang dipertahankan. Misi yang dibawa dari globalisasi, yaitu tidak terbatasnya interaksi yang secara menyeluruh dapat menghubungkan manusia di dunia. Globalisasi terbangun oleh interaksi sosial yang melibatkan nilai-nilai sosiokultural individu atau kelompok yang melintasi batas komunikasinya untuk berhubungan dengan entitas lain (Rahmawati, 2010: 110). 

Tidak dapat dihindarkan bahwa gejolak globalisasi yang merambat ke segala pelosok negeri memengaruhi sistem budaya yang berlaku sejak dahulu. Termasuk Indonesia dan semua daerah telah dirombak oleh produk globalisasi. Informasi dan komunikasi serta kemajuan teknologi sebagai senjata dalam menerobos kemurnian budaya suatu daerah merupakan salah satu dampak globalisasi. Peningkatan kualitas dan kuantitas interaksi sosial yang ditemukan dalam globalisasi pun sangat dipengaruhi oleh temuan-temuan penting di bidang teknologi terutama teknologi komunikasi (Rahmawati, 2010: 111). 

Kemajuan teknologi menjadi alat yang berperan penting dalam merubah sikap manusia, seperti penemuan telepon genggam yang sekarang menjadi alat komunikai praktis yang biasa disebut gagdetatau smartphone.Dengan adanya gadgetkebutuhan manusia bisa terpenuhi dalam beberapa sisi, misalnya berkomunikasi dengan tidak perlu bertemu secara langsung (menggunakan video call), memesan tiket pesawat lewat online,dan yang sekarang sedang hangat yaitu kendaraan online,seperti go-jek, uber, serta grab. 

Tentu saja tidak dapat ditolak karena globalisasi seperti tradisi baru yang memperbaharui manusia di generasi sekarang. Sebab itulah masyarakat terpaksa berpartisipasi menyesuaikan dengan arus kebudayaan baru yang dibawa oleh globalisasi. Globalisasi budaya yang melibatkan diri dalam budaya masyarakat pada daerah tertentu menyebabkan akulturasi budaya atau bisa jadi pengorbanan budaya/tradisi sebelumnya. Artinya, masyarakat dalam suatu daerah tersebut harus memilih untuk menjaga tradisi terdahulu atau meleburkan budayanya dalam globalisasi yang menyebabkan pembaharuan atau sedikit penghilangan atas budaya tersebut.

            Zaman modern dianggap sebagai hal yang lumrah dalam peradaban. Mempertahankan tradisi dan menyesuaikan diri dengan zaman merupakan sebuah tantangan. Akan tetapi, budaya-tradisi yang telah ada sebelumnya juga butuh pengamalan. Perubahan ideologi serta tusukan informasi dari berbagai segi menyebabkan beberapa kalangan menolak untuk mempertahankan tradisi dan mengedepankan inovasi. 

Oleh karena itu, sebagian loyal terhadap budaya, sedangkan sebagian lainnya memilih untuk merubah dan menenggelamkan budaya tersebut. Daerah-daerah Nusantara telah dijejaki arus global yang menelenjangi kebudayaan sebagai sesuatu yang tidak pantas berada dalam peradaban masa kini. Namun, di sisi lain, pariwisata kebudayaan meraup keuntungan lewat pameran budaya yang digelar di setiap daerah. Hal ini menunjukan bahwa peminat budaya atau hal yang unik masih banyak, dan tampak haus akan tradisi serta keunikan budaya-budaya yang ada di Indonesia.

            Salah satu daerah di Indonesia yang menjadi target globalilasi dan modernisasi, yaitu Tidore, Maluku Utara. Menurut sejarah, Tidore adalah salah satu kerajaan Islam yang berdiri sekitar abad ke-13, sedangkan menurut catatan Kesultanan Tidore, kerajaan ini berdiri sejak Jou Kolano Sahjati naik tahta pada 12 Rabiul Awal 502 H atau pada tahun 1108 M. 

Pada tanggal 12 April kemarin, Tidore baru saja merayakan ulang tahun yang ke-909. Dalam usia yang terbilang tua, tentu saja Tidore sudah melewati berbagai tantangan zaman untuk mempertahankan tradisi dari para leluhur. Salah satu tradisinya, yaitu ritual "Lufu Kie". Zaman kian berubah, masihkah tradisi "Lufu Kie" tetap dilakukan oleh generasi sekarang? Atau telah terjadi akulturasi dan berbagai pengorbanan tradisi karena serangan arus globalisasi? Berikut pembahasannya.

Lufu Kie

foto: flickr.com/igaleri
foto: flickr.com/igaleri

            Lufu kie adalah ritual mengelilingi pulau Tidore lewat jalur laut menggunakan kapal-kapal Kesultanan dan menyinggahi beberapa tempat keramat sebagai bentuk ziarah terhadap leluhur. Menurut Yakub Husein, Lufu Kie ialah perjalanan Sultan Nuku dengan pasukannya untuk merebutkan kembali kekuasaannya dari Sultan Kamarullah yang diangkat oleh Hindia Belanda sebagai Sultan Tandingan demi Kepentinga Kekuasaan Belanda yang dikenal dengan Revolusi Tidore pada ratusan tahun lalu tanpa penumpahan darah (dikpora-tidorekepulauan.siap.web.id). 

Pendapat ini didukung oleh sumber lain yang mengatakan bahwa Lufu Kie adalah gelar armada perang untuk menakuti Kompeni Belanda. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Lufu Kie adalah perjalanan armada perang Kesultanan mengelilingi pulau Tidore dan berziarah ke tempat keramat para leluhur.

            Prosesi Lufu Kie merupakan ritual yang ada sejak masa pemerintahan Sultan Nuku, yaitu pada tahun 1797-1805. Namun, diberlakukannya ritual ini belum dapat dipastikan kapan tanggal dan bulannya. Oleh karena itu, ritual ini diperkirakan dilakukan di masa pemerintahan sultan Nuku. 

Ritual tersebut kemudian diabadikan oleh Pemerintah Kota Tidore sebagai salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati hari jadi Kota Tidore, yaitu pada 12 April. Tradisi Lufu Kie dilakukan setiap tahun dengan misi mengenalkan budaya kepada generasi muda akan pentingnya sejarah dan budaya. Dengan demikian Pemerintah Kota Tidore mengambil kebijakan tersebut dan disetiap tahun selalu dirayakan.

            Tradisi Lufu Kie menggunakan 12 perahu yang diawali dari keraton kesultanan, Sultan didampingi Jou Boki (istri Sultan) bersama para bobato dan imam syarah, keluar dari keraton diiringi shalawat oleh Imam Ngofa dan Imam Togubu. Sultan dan rombongan berjalan kaki dari keraton menuju Dora Kolano (dermaga Kesultanan Tidore). 

Armada yang digunakan mengubah formasi barisan berbentuk lingkaran dan melakukan tawaf sambil membaca doa memohon perlindungan kepada Allah SWT. Kemudian mengelilingi pulau Tidore serta berziarah ke beberapa titik yang dianggap sebagai tempat keramat. Para rombongan Sultan berhenti di tempat-tempat keramat sekitar 15 tempat untuk melakukan ritual-ritual, seperti doa-doa guna mempersembahkan kepada leluhur Tidore yang telah memperjuangkan Tidore pada masanya. Selain itu, Sultan dan rombongan juga menyinggahi Dodoku Ali (Dermaga Kesultanan Ternate) sebagai bentuk persaudaraan yang telah terikat ratusan tahun lalu. Perjalanan tersebut ditutup dengan kembalinya Sultan dan para rombongan ke Dora Kolano.

Tradisi Lufu Kie di Zaman Modern

           Berkembangnya zaman memengaruhi sistem sosial yang berlaku sejak dulu. Gencarnya globalilasi dan apatisnya generasi baru terhadap kebudayaan lokal menjadi ancaman yang serius. Tradisi Lufu Kie yang diadakan setiap tahun di bulan April semakin melemah. Hal tersebut ditandai dalam prosesi perayaan Hari Jadi Tidore yang ke 909 pada April 2017 lalu, yaitu ritual Lufu Kie diganti dengan Parade Juanga oleh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dan Kesultanan Tidore. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3