Angiola Harry
Angiola Harry Jurnalis

Seorang jurnalis biasa

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Prestasi Olahraga dan Balasan Negara

12 Oktober 2017   14:06 Diperbarui: 14 Oktober 2017   04:41 1581 0 0
Prestasi Olahraga dan Balasan Negara
Sumber foto: Telegraph.co.uk

Sehat karena sering olahraga -secara teori yang telah terdukung oleh banyak hipotesis, merupakan suatu keniscayaan. Hanya sehat jasmani sajakah? Ini memang perlu bukti lebih lanjut. Namun bila kita kembali menoleh ke sejarah olahraga, ada kisah luar biasa dari olahraga lari. Ada seorang atlet dari Amerika Serikat (AS) yang sepak terjangnya mencoba mengajari kita bahwa lari tak hanya menyehatkan badan tapi juga mampu memupuk cinta pada negara. Bagaimana bisa? Mari simak.

Sudah sering kita melihat beberapa orang merasa putus asa atas kondisi di negaranya dan ingin segera angkat kaki ke negara orang lain alias pindah hidup keluar negeri. Yang umum ditemui adalah lantaran mereka merasa teraniaya oleh negaranya sendiri. Apakah ini solusi bagi yang mereka merasa teraniaya oleh negaranya atau bukan, mungkin bisa menengok apa yang dilakukan oleh Jesse Owens.

Jesse Owens

Dia adalah bintang olimpiade kulit hitam Amerika Serikat (AS) pada 1936. Owens membawa harum negaranya setelah mengalahkan Jerman di tiga kejuaraan atletik, lari cepat, jarak jauh, lompat jauh, yang diselenggarakan di Berlin, Jerman. Bahkan tak hanya juara, Owens yang di bawah asuhan pelatih kulit putih Larry Snyder, juga mencetak rekor dunia olimpiade saat itu. Bahkan rekor yang dia ciptakan baru bisa dilewati orang lain setelah 25 tahun kemudian!

Oleh Owens, Jerman menjadi pecundang di kandang sendiri, hingga Kanselir Jerman Adolf Hitler ogah memberi ucapan selamat padanya. Namun Hitler bersedia mengucap selamat justru pada Snyder, sang pelatih. Hitler melakukan itu karena sebagai sesama kulit putih.

Owens tak kecewa. Baginya, ucapan selamat tak penting, karena yang utama adalah kecintaannya pada Tuhan yang menganugerahi kekuatan diri. Namun peristiwa mengecewakan itu rupanya belum lebih menyakitkan lagi. Karena ternyata prestasi Owens malah tak diakui AS, negara asal dirinya sendiri! Ini terjadi karena isu rasis yang kental saat itu. AS hanya mengakui prestasi para atlet kulit putih.

Tapi lagi-lagi Owens tak mau kecewa akan hal itu. Dia menganggap, apa yang sudah dicapainya tak perlu jadi sesuatu yang harus dipuja. Karena yang terpenting buat dia adalah meski negara bahkan tak mengakuinya, tapi torehan prestasinya memang harum bagi dunia atletik. Kecintaannya bukan pada apa yang bisa membuat orang lain kagum, namun dia cinta pada bagaimana bisa menjaga anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Hingga kapanpun Owens tak membenci negaranya, padahal banyak negara lain yang siap menerimanya. Dia hanya merasa bersyukur dengan kehidupan dan kesempatan yang dia dapat, yang tentunya diberikan oleh negara. Setidaknya, dia menganggap negara telah memberinya kesempatan bisa berlaga di olimpiade, meski dia mewakili negara yang telah menganggap sebelah mata.