Mohon tunggu...
Harry Cahya
Harry Cahya Mohon Tunggu... Konsultan, Trainer dan Motivator SDM

Harry Cahya, Konasultan, trainer dan Motivator SDM, tinggal di Yogyakarta. Penulis Buku. Quantum Asset Pendiri dan Kepala Laboratorium Edukasi Dasar Pancasila ( sampai sekarang ) Pendiri dan pembina Yayasan Moroji Dwija Nareswara Pendiri Kampung Pancasila Gowongan Kota Yogyakarta (2011) Presenter (Host) Dialog Kebangsaan Pro. 1 RRI Yogyakarta ( 2013-2020) Anggota Dewan Pakar Vox Point Indonesia, DPD DIY Ketua Umum Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia ( 2012-2020)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Mengenalkan Alternatif Pembelajaran di Tengah Dilema Antara PJJ dan Tatap Muka

3 September 2020   17:12 Diperbarui: 3 September 2020   18:38 184 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenalkan Alternatif Pembelajaran di Tengah Dilema Antara PJJ dan Tatap Muka
Pengenalan Piranti Pendidikan PETA INTERAKTIF di Aula Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta  ( 02/9/2020)

Dilema situasi pendidikan di masa pandemi yang kita rasakan bersama adalah memilih antara PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau memilih pembelajaran tatap muka dengan membuka sekolah.      

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), kita maklumi  masih terdapat banyak masalah teknis, berikut implikasi kejiwaan anak,  sedangkan tatap muka dengan membuka sekolah masih riskan, tidak aman apalagi bagi daerah daerah di atau dekat Zona Merah.

Apa yang terjadi saat ini bagi anak anak siswa sekolah khususnya di usia dasar sd 10 tahun. Kid Stress  adalah kondisi yg dirasakan  anak-anak setelah lebih dari 5 bulan tidak bebas bermain dan tidak berinteraksi langsung dengan Guru.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) via daring (online) adalah cara belajar yang tidak ideal. Ada risiko besar yang berbahaya bagi anak-anak generasi pandemi COVID-19.

"Ada risiko krisis pembelajaran dan lost generation, ini risiko yang cukup menyeramkan," kata Mas Nadiem dalam webinar 'Sistem Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19' yang diselenggarakan oleh DPD Taruna Merah Putih Jawa Tengah, akhir Agustus lalu.

Dampak nyata dari satu generasi yang terpotong fase belajarnya tidak bisa langsung dirasakan. Dampaknya baru nyata terasa pada tahun-tahun mendatang, saat generasi yang terpotong itu mulai tumbuh dewasa.

"Apa itu dampaknya? Kita tidak tahu karena baru setelah bertahun-tahun ke depan kita akan tahu. Tapi yang pasti, risiko itu sangat besar, semua badan riset sekarang menyebut itu juga," kata Mas Menteri Nadiem.

"Prioritas kami di Kemdikbud yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan ke sekolah tatap muka seaman mungkin. Itu adalah prioritas kita. Prioritasnya bukan untuk memperpanjang PJJ, tapi prioritas yang terpenting adalah bagaimana kita bisa secara aman mengembalikan anak-anak kita ke pembelajaran tatap muka".

MENANGGAPI SITUASI

Apa yang dikatakan Mendikbud di atas,  menggambarkan potensi  hilangnya  hakikat dan hak  sebuah generasi ketika di usia dini tidak mendapatkan asupan dasar berupa  kegembiraan bermain dan kasih sayang melalui interaksi tatap muka. Memory dasar internalnya seakan kosong (blank), nir aktivasi apapun. Sedangkan pembangunan dasar karakter, termasuk Life Skill  dimulai dengan mengaktivasi memory internal perdananya.

Pembangunan karakter dan Life Skill  setidaknya  diproses awal  melalui 4 prinsip dasar aktivasi perdana yaitu :

  1. Aktivasi  Kesadaran Jati diri & Posisi Yaitu mengenali diri:  siapakah aku "who am I"   dan mengenali  keberadaan diri (posisi) di mana saat ini aku berada.,  di mana dan dengan siapa.
  2. Aktivasi rasa bersyukur,  atas hal positif yg disandang serta kebaikan kebaikan yang dirasa mengitarinya.
  3. Aktivas Semangat ber cita cita tinggi,  baik sebagai pribadi maupun sebagai warga bangsa NKRI, menjadi diri dalam versi terbaiknya dan
  4. Aktivasi Benih benih baik yaitu penumbuhan kerelaan berbagi atau bergotong royong yang dimulai dari ukuran paling sederhana

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN