Hariadhi
Hariadhi Desainer, Penulis

Ya har har

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Menolong Petani dengan Membeli

19 September 2018   00:03 Diperbarui: 19 September 2018   07:31 1498 2 0
Menolong Petani dengan Membeli
dok pri

"Saya ga akan pilih Jokowi tahun ini, soalnya harga-harga pada turun sejak dia jadi presiden!" Demikian teriak salah seorang petani dan pedagang produk pertanian di Ketapang, Banyuwangi. Sebut saja namanya Bapak Mamat.

Pak Mamat mengundang rasa penasaran saya, "Kenapa bisa turun, Pak? Sebabnya apa?". "Ya itu.. kemarau panjang. Cabe aja sekarang jadi murah, turun harganya. Pokoknya ganti saja presidennya. Terserah mau siapa."

Ya, jadi Presiden di Indonesia sungguh berat, cuaca pun jadi beban kesalahan yang harus dipikul. Entah kita ini sebenarnya tiap lima tahun sekali memilih kepala negara apa pawang hujan.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Ada banyak problem yang dihadapi petani di seluruh penjuru Indonesia. Di Langsa, Aceh, saya menghadapi peternak tambak udang yang bercerita bahwa setiap tiga bulan ia panen, paling Rp 9 juta dari 3 hektar yang mesti ia kelola. Alias 3 juta per bulan. Berat sekali, tak sampai UMR sebulan.

"Kenapa bisa gitu Bang?" tanya saya. "Ya karena harganya ditentukan tengkulak. Mereka sudah punya list sendiri. Tapi ini jangan sampai direkam ya." Takut sekali tampaknya seolah ini adalah sebuah mafia kejahatan besar. 

Tapi ya kalau dari standar moral saya sih, praktik mencekik ini sebenarnya memang jahat. "Tapi enaknya dengan tengkulak itu, kita tidak perlu terjerat utang dan riba," lanjutnya. "Lah kok bisa? Emang abang dikasih apa?"

"Ya dikasih bibit, pakan, obat, dan yang kita perlukan. Tidak usah bayar. Jadi tidak utang, tidak riba." jawabnya yakin. Lalu saya tanyakan berapa harga kebutuhan yang diberikan oleh tengkulak-tengkulak itu. Saya cek di Google. "Wah.. itu mah 50%nya lebih besar Bang!". Lalu saya iseng bertanya bertanya harga udang yang ditetapkan di pasar. Jawabannya lucu, lebih rendah dari pasar. Saya hitung 50 persen juga.

Dari sanalah kenapa pekerjaan bertani tambak udang miliknya jadi lebih sulit, hanya tersisa Rp 9 juta sekali panen dalam 3 bulan.

"Harusnya berapa kalau Abang modal sendiri semua?"

"Rp 50 juta lah kira-kira kotor."

Oke kita tidak usah hitung terlalu rumit. Percayai saja informasi harga yang dia berikan. 50 persen lebih tinggi untuk modal tambak, lalu 50 persen lebih rendah saat menjual. Si tengkulak menjeratnya dengan hutang berbunga 100 persen dalam 3 bulan.

"Kenapa tidak ambil kredit saja di BRI, Bang? Kalau tidak salah bunganya cuma 7%, daripada dijerat begitu.."

"Ya kalau bunga kan saya sudah bilang, takut riba. Takut dikejar debt collector," jawabnya polos. Di titik ini saya ingin ketawa, keras dan panjang sekali.

"Lah kan bisa Abang minta asuransi pertanian.. aman lho Bang. Kalau gagal panen asuransi yang menggantikan. Tapi bapak memang ga boleh malas. Pasti dapat."

Dia termenung lama. Lalu saya tanya lagi "Kalau Abang gagal panen, sama tengkulak diapain?"

"Ya ga ditagih." Saya jadi penasaran, saya buru, apa iya ga ditagih. Lalu ke mana utangnya kalau tak terbayar?

"Diteruskan saja ke musim penebaran berikutnya. Dibayar ke panen selanjutnya, dicicil."

Ya ampun. Utang itu sebenarnya tidak hilang. Tapi terus berlanjut. Dan kalau dia meninggal, tentu anak-anaknya yang harus meneruskan, dengan porsi tanah makin lama makin kecil karena dibagi warisan. Kebutuhan makin besar, hutang yang harus dicicil makin besar. Bagaimana tidak makin sengsara petani kita?

Petani kita makin tertindas oleh boikot CPO yang tak pernah diurus sejak zaman Pak Mantan. Kita sama-sama mengerti sejak awal tahun 2000an, sawit produksi kita sudah diblack campaign oleh negara-negara Eropa. 

Negara ini sebenarnya kecil saja kebutuhannya, namun efeknya keseluruhan permintaan dunia terhadap CPO Indonesia turun drastis, sehingga harga pun terbanting, walaupun status kita tetap penghasil sawit nomor 1 di dunia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4