Mohon tunggu...
Hardiriyanto
Hardiriyanto Mohon Tunggu... Hardiriyanto, staf pengajar di SMP MARSUDIRINI Bogor.

Terus berusaha dan mencoba.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Korelasi Aktivitas, Prinsip, dan Motif Ekonomi dengan Hobi

6 April 2021   06:30 Diperbarui: 6 April 2021   10:16 136 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Korelasi Aktivitas, Prinsip, dan Motif Ekonomi dengan Hobi
Koleksi tanaman bonsai Pakde (dokpri)

Motif ekonomi bagi manusia sebagai mahluk sosial cenderung berkaitan dengan perubahan yang berarti dalam hidup maupun kehidupan. Segala sesuatu atau hal dalam berbagai aspek kehidupan sering memengaruhi keinginan dalam diri seseorang untuk dapat mewujudkannya. Di satu sisi, terkadang seseorang memiliki hasrat untuk segera memenuhi kebutuhan atau bahkan keinginan personal dalam jangka waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, terkadang seseorang memiliki hasrat untuk menunda pemenuhan kebutuhan atau bahkan keinginan tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama.

Bagi kebanyakan orang yang mampu memenuhi segala kebutuhan maupun keinginan dalam waktu yang relatif singkat, maka pada kesempatan mendatang akan terdapat kecenderungan ia akan selalu mengulang hal yang sama. Apalagi kalau upaya pemenuhannya sangatlah mudah, sangat sederhana, bahkan sangat menyenangkan hati. Tentunya bagaikan membalikkan telapak tangan. Sementara itu bagi kebanyakan orang yang belum mampu memenuhi segala kebutuhan maupun keinginan dalam waktu yang relatif singkat, maka pada kesempatan mendatang akan terdapat pula kecenderungan ia akan selalu mengulang hal yang sama. 

Lalu apa bedanya seseorang yang mampu dengan yang belum mampu memenuhi kebutuhan maupun keinginan personal? Jelas, waktu pemenuhannyalah yang berbeda meskipun motifnya sama. Kegiatannya bisa jadi relatif sama. Seandainya pun berbeda, bisa saja terjadi karena ia telah menemukan upaya unik lain agar mampu mewujudkannya. Tentunya, sekilas pengetahuan umum tersebut pernah kita pelajari ketika masih menjadi siswa atau siswi SMP pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Rupanya, hal tersebut sungguh terjadi pada diri seorang wirausahawan jamu tradisional di Kampung Cilangkap, Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Setiap hari, ia melaksanakan aktivitas ekonomi dengan menjajakan jamu berkeliling di sekitar perumahan dekat tempat tinggalnya. Hampir setiap hari ia memiliki pelanggan. Rata-rata pelanggannya antara lain  ibu-ibu, bapak-bapak, kaum remaja, maupun anak-anak. Oleh karena kegigihan dalam menekuni usaha tersebut, jamu tradisiomal ramuan sang istri seringkali habis terjual sekitar pukul 10 setiap harinya ketika belum adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun saat mulai adanya pemberlakuan PSBB sebagai konsekuensi untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19, beliau terpaksa harus menambah waktu 2 jam setiap hari untuk berkeliling menjajakan dagangannya. Tentunya dengan menaati dan menjalankan protokol kesehatan sambil mencuci mata.

"Sambil jualan jamu, kadang-kadang mata saya jelalatan kalo lihat tanaman bagus di kanan-kiri jalan," katanya.

Selepas Shalat Ashar, kembali Bapak seorang anak itu kembali melanjutkan aktivitas dagangnya. Sedikit berbeda cara menjajakannya dengan yang dilakukan pada pagi hingga siang hari. Ia bersama dengan putra semata wayangnya melanjutkan kegiatan berjualan jamu pada sore hingga malam hari pada sebuah lapak kecil kurang lebih berukuran 3 x 3 meter di kampung sebelah. Sepeda motor dan pemiliknya tidaklah lagi berkeliling menghampiri pelanggan, melainkan pelangganlah yang menghampiri kios jamunya. Jika kita cermati, rupanya beliau telah melakukan dua aktivitas ekonomi yang sama dengan upaya  dan kurun waktu yang berbeda.

Terlepas dari aktivitas tersebut, beliau pun memiliki prinsip ekonomi. Segelas kecil jamu beras kencur dan kunyit asem dijualnya Rp. 3.000,00 kepada para konsumen. Selebihnya jamu-jamu dengan merk tertentu untuk pelanggan dijualnya secara bervariasi. Mulai Rp. 10.000,00 jika tanpa telur ayam kampung.  Rp. 15.000,00 jika memakai telur ayam kampung. 

"Dijual segitu aja udah ada untungnya kok," kata Pakde, panggilan akrabnya.

"Biasanya paling cepat jam empat atau setengah lima sore, Bapak udah jualan jamu lagi," kata sang asisten pramusaji, putranya.

Motif ekonomi pun ternyata menjadi faktor pemicu baginya untuk selalu gigih dalam menafkahi istri dan anaknya. Rupanya di sela-sela waktu senggang, beliau masih menyempatkan diri untuk menyalurkan hobi. Kolektor tanaman bonsai lebih tepatnya sebagai predikat bagi pria kelahiran 1971 itu. 

Di sekitar pekarangan depan rumah kontrakannya, banyak koleksi tanaman bonsai yang lain daripada yang lain. Banyak orang yang semula merasa aneh dengan hobinya tersebut. Bisa jadi karena hobi tersebut terbilang langka. Bonggol-bonggol tanaman dimanfaatkannya sebagai wujud kreasi kreatif yang seringkali membuatnya selalu tidak puas dan ingin menambah beragam koleksi yang baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN