Mohon tunggu...
Hans Panjaitan
Hans Panjaitan Mohon Tunggu... Pemerhati segala hal

Baik-baik saja

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Pilih Capres yang Sudah Bekerja Atau yang Hanya Berjanji?

10 Januari 2019   15:49 Diperbarui: 13 Januari 2019   05:32 0 0 0 Mohon Tunggu...
Pilih Capres yang Sudah Bekerja Atau yang Hanya Berjanji?
tribunnews

Hari "H" Pemilu 2019 hanya beberapa bulan lagi. Nanti pada hari Rabu 17 April 2019 seluruh rakyat Indonesia yang sudah memiliki hak politik diharapkan mendatangi TPS-TPS untuk menunaikan hak dan kewajiban politiknya sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. 

Pemilu kali ini memang agak ribet, sebab dalam waktu yang bersamaan harus memilih partai politik, anggota DPR/DPRD I/DPRD II/DPD, presiden dan wakil presiden. Bayangkan pemilu yang sama akan diikuti oleh puluhan juta warga negara yang punya status dan latar belakang yang berbeda-beda. Mungkin masih ada warga yang  buta huruf (Latin) ikut berpartisipasi di sana.

Bayangkan bagaimana repotnya. Bahkan warga yang buta secara fisik pun (tunanetra) tetap diberikan hak dan kesempatan yang sama untuk melakukan hak konstitusionalnya tersebut. Singkatnya, di hari pemilu ini, rakyat sangat dibutuhkan oleh para politisi yang sedang berharap mendapatkan suara memadai untuk mengantarkannya ke kursi legislatif atau eksekutif. 

Di hari pemilu rakyat menjadi raja, meskipun hanya dalam beberapa detik saja di TPS. Di masa kampanye, rakyat disanjung dan dielu-elukan para politisi. Semua mengaku siap berjuang untuk rakyat, rela mengabdi untuk rakyat, siap menjadi pelayan rakyat, dan dengan bangga mengatakan bahwa rakyat sudah cerdas. Begitulah politik, penuh basa-basi dan muslihat.

Tapi, tidak semua politisi seperti itu, ada banyak yang memang ingin mengabdi dan memajukan rakyatnya dengan niat baik dan tulus. Tapi kebanyakan mereka-mereka ini bergerak dalam senyap. Sosok dan kiprah mereka tenggelam oleh hingar-bingar para politikus cap tikus yang suaranya kencang menggelegar.  

"Korupsi itu oli pembangunan," kata seorang politikus kualitas tikus. "Kalau saya presiden, korupsi hilang dalam setahun," ujar politikus lain yang di masa kecilnya mungkin doyan bermain di got yang penuh tikus. Semoga rakyat jeli melihat sosok-sosok ini yang kemungkinan muncul lagi nanti dalam daftar calon pilihan.

Pemilu 2019 ini akhirnya lebih bernuansa pilpres ketimbang pemilu legislatif. Dua sosok capres yang bertarung lima tahun lalu: Joko Widodo dan Prabowo Subianto, kembali ke gelanggang dengan cawapres yang berbeda. Jokowi mengusung ulama kharismatis KH Ma'ruf Amin, sementara Prabowo menggandeng pengusaha Sandiaga Uno.

Jangan membeli kucing dalam karung. Itu bunyi ungkapan klasik yang tentu saja ada benarnya. Jangan memilih calon pemimpin yang belum pasti kemampuannya dalam bekerja. Pilpres 2019 ini menghadirkan dua capres yang meskipun pernah bersaing di tahun 2014, namun sekarang di tahun 2019 ini, sudah tampil dengan wajah dan sosok yang jauh berbeda. 

Jokowi adalah presiden petahana yang selama masa bakti 2014-2019 telah membuktikan banyak pencapaian baik dan positif. Mungkin tidak sempurna 100%, namun tetap memberikan harapan dan nilai plus. Artinya, dia maju di Pilpres 2019 ini tidak lagi dengan tangan kosong sebagaimana lima tahun silam. Ibaratnya kini dia tampil sambil memegang pundi-pundi yang sudah terisi.  Pengalaman segudang dan rencana jangka panjang ada dalam pundi-pundi tersebut.

Bahwa Jokowi kini berstatus sebagai calon presiden yang juga petahana, anggap sajalah itu sebagai nilai plus yang tidak mungkin bisa diganggu gugat oleh siapa pun. Bekerja seperti biasa sebagaimana layaknya presiden, tentu sudah merupakan kampanye baginya. Dia hanya bekerja dan bekerja. Dan tidak ada alasan apapun bagi siapa pun untuk menjadikan hal yang lumrah ini sebagai bahan kritikan atau nyinyiran. Kalau masih ada yang nyinyir mungkin dasar emosinya tidak pernah setabil dari dulu hingga kini.

Di Pilpres 2019 ini rakyat sebenarnya tidak perlu pusing menentukan pilihan: mau pilih capres yang sudah (dan sedang) bekerja atau capres yang hanya berjanji dan berjanji? Semua orang bisa berjanji tapi tidak semua orang sanggup memenuhi janjinya tersebut. Pilpres 2019 memang beda dari 2014, di mana pada Pilpres 2014 rakyat harus memilih dua capres yang memang hanya bisa berjanji pada saat itu. 

Sekarang--lima tahun kemudian--salah satu capres sudah membuktikan dirinya, dan tidak lagi hanya sekadar berjanji. Maka sebagai warga yang cerdas kita harus menjatuhkan pilihan kepada capres yang sudah membuktikan diri, bukan yang masih berjanji dan berjanji.

Berjanji itu bukan dosa, asal memang berdasarkan fakta dan tentunya realistis dan terjangkau. Tetapi kalau janji-janji itu ditingkahi fitnah dan kebohongan yang sifatnya membodohi khalayak, hal ini sangat berbahaya bagi masa depan sebuah bangsa dan peradaban. Di tahun-tahun politik ini, rakyat sudah disuguhi banyak statemen khususnya yang cuma berupa janji-janji. 

Banyak statemen yang asal bunyi dan ngawur dilontarkan oknum capres, seperti baru-baru ini tentang tudingan bahwa selang di rumah sakit biasa digunakan berulang kali oleh 40 orang pasien. Pihak-pihak yang terkait telah membantah statemen tersebut, dan memang tudingan itu pun bukannya berdasarkan fakta, tetapi "katanya". Dan bukan sekali-dua kali orang yang bersangkutan melontarkan statemen ngawur. Orang pun bertanya-tanya: ini bagian dari strategi atau memang dasar goblok?

Tapi apa pun itu, lebih aman dan cerdas menjatuhkan pilihan pada sosok yang sudah bekerja dan terbukti, ketimbang yang cuma janji dan janjji.