Pemerintahan

Kalau Setuju Tol Milik Rakyat Jangan Bikin Lagi Hoaks Tol Asing Wahai Fekaes

12 Juni 2018   12:05 Diperbarui: 12 Juni 2018   12:24 1521 0 0
Kalau Setuju Tol Milik Rakyat Jangan Bikin Lagi Hoaks Tol Asing Wahai Fekaes
tangkapan Layar Berita ---edited

Jika sekarang bulan puasa sudah hampir berakhir. Lebaran sudah semakin mendekat. Mudik merayakan Idul Fitri sudah dimulai hari-hari ini. Infrastruktur megah nan bermanfaat yang sudah dikebut Jokowi dan segenap jajarannya mulai dibutuhkan di sini. 

Sangat dibutuhkan untuk kelancaran dan kenyamanan para pemudik yang tak sedikit jumlahnya. Mengingat hari raya Idul Fitri adalah hari raya umat mayoritas di Indonesia yang sangat dinanti-natikan, geliatnya jelas sangat terasa tak seperti hari raya lainnya. Belum lagi para turis domestik dan manca negara yang pergi berlibur memanfaatkan liburan panjang yang ada. Semuanya tumplek blek di jalan. Dari tahun ke tahun penyakitnya ya macet lagi macet lagi.

tangkapan Layar Berita
tangkapan Layar Berita
Tapi tahun ini sungguh berbeda keadaannya. Berkat pembangunan yang terus digenjot Jokowi sejak awal beliau menjabat sebagai Presiden, manfaatnya sudah bisa kita petik sekarang. Berjuta-juta ucapan "Terima kasih Jokowi" mewarnai mudik lebaran tahun ini. Ini semua fakta yang tak dapat disangkali siapapun juga termasuk pihak oposisi. Kinerja Jokowi inilah yang sejak dulu sampai sekarang selalu dinyinyirin pihak lawan. 

Yang inilah, yang itulah padahal sumber data dan informasinya tidak jelas. Dasar mereka mengkritik Jokowi justru dari ucapan provokasi yang dilancarkan pihak lawan politik Jokowi. Salah satunya Mardani Ali Sera, Ketua DPP PKS.

Coba bayangkan. Pantaskah seorang anak bangsa yang mengaku cinta pada negaranya??? Sementara dengan mata kepalanya sendiri Mardani bisa menyaksikan betapa majunya pembangunan yang sudah dilakukan Jokowi beserta jajarannya. Tak ada sedikitpun penghargaan dari seorang Mardani untuk Jokowi, Presiden yang sah di negara ini. Mardani malah memecah belah rakyat untuk ganti Presiden sebelum waktunya. Benar-benar kurang ajar.

Lucunya, saat simpatisan Jokowi sibuk memasang spanduk bertuliskan 'Jalan Tol Pak Jokowi' dalam moment mudik lebaran kali ini, sebagai salah satu wujud kekesalan pada aksi nyinyir yang selalu dipertontonkan Mardani dan kroni-kroninya, Mardani pula yang protes paling kenceng.

"Iya tol itu bukan tol Pak Jokowi, itu tolnya rakyat. Karena dibangun sama rakyat. Jadi nggak kenapa-kenapa, kita masuk tol bayar kan," kata Mardani, Sabtu, 9 Juni 2018.

tangkapan Layar Cuitan
tangkapan Layar Cuitan
Aneh khan jadinya. Orang-orang yang selama ini sibuk nyinyirin kinerja Jokowi termasuk soal pembangunan tol yang katanya dari hutanglah, buang-buang uanglah dan lain-lain dan sebagainya, saat ikut memakai fasilitas negara yang dibangun di atas ludah fitnah mereka terhadap Jokowi, tiba-tiba jadi ngaku-ngaku kalau tol itu punya rakyat. Rakyat yang bagaimana dulu??? Rakyat macam apa kau itu??? 

Rakyat yang tak tahu malu dan tak tahu berterima kasih tentunya. Itulah kalian. Dengan dalih karena masuk tol kan bayar, Mardani merasa menjadi bagian dari rakyat yang memiliki infrastruktur-infrastruktur yang dinyinyirinnya sendiri.

Pernyataan di atas agaknya merupakan refleksi kegetiran, karena barangkali di hati kecilnya mengaku ada sikap yang kontradiktif di pihaknya. Menentang penggelaran infrastruktur oleh pemerintah, tetapi mereka turut pula ingin menikmati hasilnya. Tidak keliru juga jika dikatakan tolnya rakyat, sebenarnya yang menjadi pangkal masalah, kenapa hal-hal positif yang sedang dilakukan pemerintah, terus-terusan diganggu, seolah-olah pemerintah telah mencederai aspirasi rakyat.

Jika sikap mengganggu itu tetap digaungkan kepada pemerintahan yang memiliki legitimasi, dan pada saat yang sama turut larut menikmati hasilnya bersama masyarakat pendukung pemerintah, apakah salah kalau dikatakan tidak tahu berterima kasih? 

Rasa berterima kasih itu bukan karena biaya pembangunan dirogoh dari kocek pribadi Presiden, namun sebaliknya justru jika gangguan yang kerap disuarakan itu tidak terjadi lagi, cukuplah sebagai pertanda terima kasih.

Barangkali oposisi ingin mengatakan tulisan itu harusnya tidak dipasang sebelum masa kampanye, protes itu tidak mungkin pula mereka keluarkan mengingat justru merekalah yang memulainya. Bahkan dengan kalimat yang mengandung provokasi, dan mengambil momentum mudik lebaran pun, mereka memiliki muatan kampanye yang tidak kalah provokatif, yakni membunyikan klakson mobil "tolilet" kepada para pendukungnya.

Lebih jauh spanduk itu juga sebagai jawaban kepada kritikan oposisi yang mengatakan pemerintah jangan terlalu fokus kepada pembangunan infrastruktur. Barangkali pendukung Jokowi ingin mengirim pesan, inilah yang sedang kita nikmati, yakni pembangunan yang telah mengganggu rasa aman oposisi, ternyata kita sama-sama nikmati. Lewat Kantor Staf Presiden, Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP, Eko Sulistyo, Jokowi menegaskan bahwa tol yang dibangun tersebut diperuntukkan bagi semua masyarakat tanpa melihat perbedaan pandangan politik.

Saya tidak ingin masuk dalam perdebatan bagus tidaknya spanduk seperti itu. Di sini saya ingin memaparkan beberapa alasan yang jauh lebih inovatif, yakni larangan kader dan simpatisan PKS lewat jalan tol Jokowi.


Pertama, kamu tahu dulu yang nyinyir bahwa pembangunan jalan tol itu tidak perlu? Bahkan PKS sempat menyebut bahwa pembangunan infrastruktur tidak berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Intinya mereka cerewet sekali dengan pemerintahan Jokowi yang gencar membangun jalan tol, bendungan, bandara dan pelabuhan.

Larangan menggunakan infrastruktur yang dibangun Jokowi adalah cara kita menyadarkan manusia-manusia bebal model PKS. mereka harus tau bedanya ada tol dan tidak ada tol. 

Mereka harus tau rasanya lewat jalan sempit dan macet, dengan lewat tol. Mereka harus tau kalau suatu daerah tidak ada bandara, mereka harus naik mobil melewati jalan-jalan kecil. Itu semua harus diarasakan oleh manusia-manusia PKS karena hanya dengan itulah mereka bisa sadar bahwa pembangunan infrastruktur itu penting. Jadi kalau mereka mau mengkritik, kritik saja kinerja yang lain, asal bukan infrastruktur. Sebab pembangunan infrastruktur ini sangat penting dan mendasar.

Tapi kalau mereka para manusia PKS ini merasa boleh melewati jalan tol Jokowi, memiliki hak yang sama, ya sudah biarkan saja lewat. Tapi sebelum masuk pintu tol, kita perlu pastikan bahwa mereka sadar. Tampar atau cubit. Kalau mereka kesakitan, berarti sadar. Supaya bisa merasakan pembangunan infrastruktur Jokowi dan nggak pura-pura lupa setelahnya.

Kedua, kamu tahu dulu mansia-manusia PKS kerap menyebut bahwa pembangunan infrastrktur itu milik asing, hutang asing dan seterusnya? lalu mengapa sekarang manusia-manusia bebal ini meras jalan tol yang dibangun Jokowi adalah hasil pajak yang mereka bayarkan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2