Mohon tunggu...
Al-Hanaan
Al-Hanaan Mohon Tunggu... Penulis lepas -

Freelance writer Linguist Music addict Calligrapher Photographer www.zoetmeisje.doodlekit.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Yuk, Ciptakan Perdamaian di Jagad Imajiner Komunikasi

14 September 2016   23:09 Diperbarui: 16 September 2016   06:21 121 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yuk, Ciptakan Perdamaian di Jagad Imajiner Komunikasi
medsos-57d97ea5557b61f7394a764e.jpg

Tema blog: Pentingnya Merawat Kerukunan Beragama pada Era Media Sosial

Kebosanan adalah kejahatan paling besar kedua di dunia. Menjadi membosankan adalah kejahatan terbesar pertamanya. - Jean Baudrillard.

Membaca epigram Jean Baudrillard di atas rasanya cocok untuk menggambarkan kehidupan bermedia sosial kita. Kegiatan bermedsos kita tidak melulu karena kebutuhan, melainkan pelarian kehidupan nyata yang membosankan. Generasi sekarang tidak lepas dari pengguna jejaring sosial. Wajar saja generasi kita hari ini disebut generasi gadget. Tak hanya untuk berkomunikasi, belajar pun kita membutuhkan media sosial, entah itu belajar bahasa Inggris, belajar menjahit, termasuk memperdalam ilmu agama.

Konsekuensinya penghuni galaksi simulakra menganggap apa yang ditulis di Internet sudah pasti benar. Banyak hal yang sebetulnya sepele menjadi masalah besar hanya karena diumbar di media sosial. Konon pembakaran vihara di Tanjung Balai pun dipicu oleh provokasi di Facebook.

Simulasi-Simulakra dan Teknologi

Kebenaran adalah apa yang harus ditertawakan. - Jean Baudrillard.

Selamat datang di Galaksi Simulakra!

Inilah galaksi di mana pengguna media sosial biasa bersitegang terhadap berita yang beredar. Simulasi adalah penciptaan model kenyataan tanpa asal-usul realitas. Sedangkan simulakra adalah ruang di mana mekanisme simulasi berlangsung. Seperti film Spiderman,Spiderman adalah tokoh imajiner yang diberi realitas nyata di kota besar di Amerika Serikat. Kota besar ini adalah realitas nyata yang dialihkodekan. Penokohan Spiderman merupakan simulasi realitas. Simulakra itu tidak berbahaya selama itu adalah hiburan. Namun jika yang dijadikan simulakra adalah informasi, jelas itu adalah fitnah karena simulakra tak akan bisa menggantikan realita. Jika informasi dijadikan simulakra, akan menghasilkan hiperrealitas informasi. Hiperrealitas informasi adalah perekayasaan informasi. Hakikat informasi (seharusnya) adalah kebenaran. Kebenaran tidak bisa ditambahi atau dikurangi. Realitas yang berlebihan inilah yang membuat realitas menjadi sebaliknya, yaitu kebohongan. Inilah yang sering kita jumpai di kampung virtual alias dunia maya.

Dalam galaksi simulakra, kepalsuan berbaur dengan keaslian, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Inilah alasan mengapa dalam galaksi simulakra, kebenaran adalah apa yang harus ditertawakan. Keadaan dari hiperrealitas ini membuat masyarakat modern ini menjadi berlebihan dalam pola mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas esensinya. Sama halnya dengan mengkonsumsi informasi yang belum jelas kebenarannya. Malangnya, informasi ini seringkali menimbulkan bentrokan sengit yang memicu perpecahan. Hiperrealitas yang kita terima sebagai kebenaran membuat kita bersitegang. Kebenaran kini ditentukan oleh siapa yang paling populer, paling ngotot, paling banyak jempol, dan paling provokatif.

Perkembangan teknologi juga ikut andil dalam mengaburkan jarak antara yang abstrak dan yang konkret. Jika kita tidak memahami untuk apa teknologi ada, maka kita akan menciptakan simulasi bagi orang lain dan menjelma menjadi manusia hiperrealitas. Manusia hiperrealitas inilah yang menjadi budak teknologi. Mereka adalah penentu kebenaran sebuah informasi yang belum diverifikasi tanpa mengindahkan etika dan moral.

Keliyanan dalam Media Sosial

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x