Hanifah Febriani
Hanifah Febriani

Suka nulis. Dapat dihubungi via hanifebria@gmail.com Ig: hanifebriani

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Tiga Film Pendek Oleh-oleh JAFF 2017

10 Desember 2017   00:15 Diperbarui: 10 Desember 2017   00:25 989 0 0
Tiga Film Pendek Oleh-oleh JAFF 2017
Dokpri

The Nameless Boy (Diego Mahameru)

Seorang anak menjilati ice cream-nya. Ia berdiri di antara ratusan demonstran yang menyeru takbir. Keras sekali takbir itu bergema dan bersaut-sautan. Ujaran-ujaran provokatif amat jelas terdengar untuk membuat suasana menjadi hidup. 

Cuplikan film tersebut sulit untuk tidak mengaitkannya dengan momentum 212. Diego Mahameru sang sutradara mengamini jika film The Nameless Boy memang terinspirasi dari peristiwa 212.

Meski latar yang Ia hadirkan benar-benar terjadi, ia menampik jika  filmnya dikategorikan sebagai film dokumenter. "Ini bukan film dokumenter  karena tokoh-tokoh yang ada di dalamnya kita arahkan. Selain itu di dalamnya banyak manipulasi  dan editing," terangnya.

 Menariknya, ia mengambil sudut pandang peristiwa tersebut dari anak-anak. Hal itu berasal dari kegelisahannya melihat banyaknya anak-anak yang ikut dalam aksi 212. "Selama proses pembuatan film tersebut, pemeran anak tidak berada di dalam masa."ujarnya  menambahi. 

Pranata  Mangsa (Nindi Raras)

Nindi Raras menerjemahkan pergantian musim dalam sebuah film pendek berjudul Pranata Mangsa. Pranata Mangsa diambil dari bahasa jawa yang berarti ketentuan musim.  Pranata Mangsa biasanya dikaitkan dengan aturan main kapan bercocok tanam, kapan datangnya  kemarau, dsb. Ia  terinspirasi membuat film tersebut dari memori masa kecilnya.

Dalam filmnya, Nindi menggambarkan tentang hujan pertama yang amat ditunggu. Pada musim kering, warga antri dengan rapi dan menggemaskan untuk membeli air. Mengapa saya berkata  demikian? Karena dialognya natural sekali, teks dan leluconnya banyak yang berbahasa Jawa.

 Nindi juga menampilkan kebiasaan doa meminta hujan beserta detail-detail lain yang nampak seperti kumpulan fragmen-fragmen terpisah.

 Baginya, siklus manusia ini seperti hukum kebiasaan yang mudah sekali ditebak. 

Joko (Suryo Wiyogo)

joko-5a2c194b2a5823552e356ec4.jpg
joko-5a2c194b2a5823552e356ec4.jpg
Pak Totok adalah pengusaha  dan pemilik toko bangunan. Sepertinya bisnis yang ia geluti  telah mahsyur karena karyawannya  cukup banyak. Tapi ada yang istimewa, ia punya  satu  pekerja  muda yang masih gres dan tampan, namanya Joko.

Film ini asli bikin deg-degan. Film  ini tidak hanya mengeksplor relasi kuasa antara Totok  dan Joko. Setelah menonton film ini, saya juga baru memahami jika toko  bangunan pun juga punya politiknya. 

Detail dan penokohannya dibuat rumit dan ciamik. "Secara psikologis, saya sengaja menciptakan karakter yang kompleks," terang sang sutradara Suryo Wiyogo. Tokoh Pak Totok digambarkan mempunyai pengalaman penyuka sesama jenis yang kemudian ia menikmati itu. Suryo mencoba untuk menggambarkan bahwa hasrat seksual tidaklah memandang gender, usia dan kelas.

Demikian sedikit overview film yang saya tonton pada perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang berlangsung 1-8 Desember 2017 lalu. Ketiganya (mungkin) berdurasi hanya 15-20 menit sehingga dijadikan dalam satu sesi penayangnan. Saya sengaja mencoba untuk memaparkannya karena penayangan film-film sejenis ini tergolong langka. Hanya dalam acara festival saja film seperti ini mendapatkan panggungnya.  Semua petikan di atas saya ambil karena memang dalam acara tersebut terdapat forum Question and  Answer.