Mohon tunggu...
Hanom Bashari
Hanom Bashari Mohon Tunggu... Freelancer - wallacean traveler

Peminat dan penikmat perjalanan, alam, dan ceritanya

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Mengiris Hamparan Laut Teduh di Teluk Kao

31 Agustus 2021   18:58 Diperbarui: 31 Agustus 2021   19:25 119 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mengiris Hamparan Laut Teduh di Teluk Kao
Kapal-kapal nelayan yang umum digunakan masyarakat pesisir Halmahera, salah satunya yang kami gunakan dalam perjalanan ini (@Hanom Bashari)

2008. Halmahera, Maluku Utara.

Berbicara tentang sholat di kapal, bagi saya  banyak pengalaman cukup beragam. Paling enak dan nyaman tentunya di kapal-kapal PELNI. Selain terdapat mushola yang besar dan nyaman, imam yang tetap dengan bacaan yang bagus, serta azan berkumandang setiap waktu sholat sehingga kita yang dalam perjalanan tidak bingung apakah ini sudah mulai waktu sholat atau belum. 

Namun memang tidak semua kapal seperti itu. Adakalanya kita berhadapan dengan waktu dan kondisi yang tidak ideal, sudah begitu tidak ada lagi dispensasi jama'. Salah satunya pernah saya alami di sebuah perahu kecil se-pas badan.

---

Malam itu kami harus tidur cepat. Teman saya Izer telah mengatur segala keperluan transportasi kami untuk berangkat pagi-pagi sekali dari Desa Labi-Labi, tempat kami bermalam saat itu, untuk menuju Desa Lolobata. Kedua desa berada di pesisir mulut Teluk Kao, semenanjung timur laut Pulau Halmahera, Maluku Utara.

"Oke, perahu deng minyak so siap.., besok torang berangkat sekitar jam tiga pagi yaa", terang Izer kepada kami semua.

"Sippp.." Kami tidak banyak berkomentar, hanya mengiyakan dan segera melanjutkan packing segala barang-barang tim dan pribadi. Dalam beberapa hari ini, kami melakukan survei persepsi masyarakat desa dan sedikit mengisi waktu dengan memberikan penyadartahuan singkat di kantor desa dan sekolah setempat mengenai konservasi keanekaragaman hayati Maluku Utara.

Besok kami akan melanjutkan perjalanan dengan misi yang sama di desa berbeda. Sebenarnya terdapat jalan yang menghubungkan Desa Labi-labi dengan Desa Lolobata. Namun cuma jalan setapak. Bapak Desa lebih menyarankan kami untuk menyewa kapal nelayan, karena tidak ada motor ojek yang dapat mengantar kami semua.

Kenapa harus jalan malam, tidak bisakah siang-siang saja? Selain panas kalau siang, memang pagi hari menurut Pak Desa, suasana laut cenderung tenang, sehingga diharapkan perjalanan dapat lebih lancar dan aman.

Setengah tiga pagi buta kami sudah bangun semua. Setelah meminum teh hangat dari ibu desa yang selalu ramah, kami akhirnya berjalan beriringan menuju pantai berpasir putih di sisi dermaga desa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan