Mohon tunggu...
Hana Marita Sofianti
Hana Marita Sofianti Mohon Tunggu... Guru - Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini, Guru , Blogger, Ghost Writer, Founder MSFQ

Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini , Guru, Blogger, Ghost Writer, Founder MSFQ

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Daring yang Berujung Maut dan 6 Tips Jitu untuk Menghindarinya

15 September 2020   22:22 Diperbarui: 15 September 2020   22:33 396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pertemuan tatap muka tapi diadakan di rumah yang ditunjuk sebagai kordinator pun mengalami banyak kendala dilapangan.

Stres iya, pusing iya, bingung iya, kesal juga iya. Tapi mau bagaimana lagi situasi belum membolehkan semua berjalan seperti biasanya.

Jika situasi tidak memungkinkan saya untuk keliling maka saya akan memantau via group chat di aplikasi WhatsApp saja walaupun hanya sebagian dari orang tua yang memilikinya.

Jika ada keluhan dari mereka saya akan memberikan pelayanan dengan bujukan reward atau buat sesuatu yang menarik bagi anak tapi ada hubungannya dengan panduan buku BDR (Belajar Dari Rumah).

Untuk anak seusia dan sekelas PAUD saja tidak usah terlalu diribetkan dan diributkan dalam proses pembelajaran ketika di rumah saja, yang paling pokok adalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan tercapai sesuai usianya.

Sebagai contoh, ketika anak usia 3-4 tahun berbicara sendiri seperti bermain boneka atau peran, maka proses tahapan perkembangan berbahasa anak sudah tercapai apalagi dalam cerita dia mulai menghitung mainan yang di jajarkan satu persatu atau baris berbaris didepannya itu sudah plus terpenuhi dalam tahapan aspek kognitifnya.

Jika pembelajaran di PAUD saja seperti itu mudahnya, maka saya harap di SD Kelas 1 pun tidak usah memberikan tugas yang neko-neko atau terlalu ribet dan tentunya membuat orang tua gagal faham, sehingga mengakibatkan kadar emosi dan pemicu kemarahan naik level.

Tidak semua orang mampu menjadi penyabar bak malaikat di siang bolong. Kenapa demikian? Mungkin latar belakang yang terjadi terkait kasus tersebut adanya hal lain yang membuat emosi jiwa seorang ibu memuncak.

Kejadian mengerikan tersebut patut menjadi contoh umumnya bagi kita semua, khususnya bagi saya juga karena memang jika terlalu banyak persoalan terpendam dan belum selesai maka tingkat emosi kejiwaan kita harus di plong-kan dahulu, barulah dapat mendampingi anak dengan sebaik mungkin.

https://pixabay.com/
https://pixabay.com/
Tips Jitu Untuk Menghindari Daring yang Berujung Maut

Saya selalu mengingatkan orang tua siswa tidak usah terlalu menekan anak jika memang mereka belum mau bahkan belum mampu mencapai titik penuh pencapaian perkembangan anak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun