Mohon tunggu...
Abdul Hamid Al mansury
Abdul Hamid Al mansury Mohon Tunggu... Terbaru

Santri Darul Ulum Banyuanyar Alumni IAI Tazkia Wasekum HAL BPL PB HMI 2018-2020 Ketua Bidang PA HMI Cabang Bogor 2017-2018

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

(Belum) Merdeka Belajar

30 Juli 2020   17:10 Diperbarui: 30 Juli 2020   17:08 161 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
(Belum) Merdeka Belajar
republika.co.id

Sejak H+10 lebaran, Madrasah - tempat keponakan saya belajar - mulai dilaksanakan kembali proses belajar-mengajar setelah sekitar dua bulan diliburkan karena pandemi Covid-19. Kebetulan madrasah itu milik swasta, jadi tidak sepenuhnya diatur oleh pemerintah, masih mengikuti keputusan yayasan. Ia menentukan sendiri hari libur dan aktifnya.

Hampir setiap hari sebelum berangkat dan sesudah pulang sekolah, keponakanku selalu ditanya oleh kedua orang tuanya terkait tugas hafalan mata pelajaran yang diberikan oleh gurunya di madrasah. Pernah suatu hari dia nangis gara-gara tidak hafal dan diberi hukuman oleh gurunya. Dimana "kemerdekaan belajar" yang selalu digaungkan oleh pemerintah saat ini?

Itu mengingatkan penulis sekitar 18 tahun silam saat masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sederajat dengan SD. Ternyata metode pengajarannya masih sama, tidak ada perubahan. Sedangkan ilmu pengetahuan terus berkembang dan teknologi terus maju. Tanpa bermaksud mengeneralisir, mungkin metode menghafal pelajaran disebagian besar sekolah di Indonesia masih menggunakannya.

Bahkan lebih parah lagi pengalaman penulis dulu saat duduk dibangku MI, pernah disuruh menghafal paragraf demi paragraf buku IPA dan disiplin ilmu lainnya seperti menghafal pelajaran agama, matematika perkalian, tambahan, pembagian dan pengurangan dari 1 sampai 10. Guruku tidak memberikan logika matematika, itu semua hanya menambah beban pikiran dan mental, jikalau tidak hafal akan mendapatkan hukuman berdiri didepan sekolah, dicubit atau dipukul. Bukankah setiap ilmu seperti matematika adalah ilmu pasti yang semua bisa dipahami dengan logika?

Allah mengajari manusia pertama (Nabi Adam) dengan nama-nama. Kata yang digunakan dalam al-Quran adalah 'allama (mengajarkan) yang satu akar kata dengan 'alima (mengetahui). Jadi, Allah tidak mengajari Nabi Adam untuk menghafal (Hafidza) nama-nama. Demikian juga wahyu pertama Nabi Muhammad SAW yang diperintahkan untuk iqra' (bacalah) bukan ihfadz (hafalkanlah).

Adagium "At-thariqotu ahammu minal maddah" (metode lebih penting dari pada materi) itu masih relevan digunakan sampai detik ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi itu terus maju dan berkembang, itu menuntut metode pembelajaran juga harus maju dan berkembang. Ingat, kebenaran ilmu pengetahuan itu relatif tidak ada yang mutlak, mungkin apa yang dihafal dimasa lalu belum tentu benar hari ini dan apa yang dihafalkan hari ini belum tentu benar dimasa depan. Begitu juga dengan metode.

Sesuatu yang sia-sia belaka ketika hafal tapi tidak paham. Artinya, mata pelajaran yang dihafal hanya sebatas dimulut dan diatas kertas saat ujian, tidak sampai ke dalam pikiran. Ibarat diberi segelas air untuk diminum dan dicerna oleh pencernaan malah digunakan untuk kumur-kumur.

Sebetulnya menghafal tidak sepenuhnya memiliki sisi negatif, tentu ada juga sisi positifnya. Dalam membangun sebuah pemahaman maka ada beberapa hal yang harus dihafal untuk menarik informasi dengan cepat dari memori ingatan. Sekali lagi, tidak semua harus dihafal hanya yang penting-penting saja sesuai dengan kebutuhan.

Kalau kita memperhatikan anak kecil yang baru bisa berbicara, ia selalu beratanya kepada kedua orang tuanya tentang apa yang ada disekitarnya. Itulah rasa ingin tahu sebagai fitrah manusia.

Rasa ingin tahu adalah fundamental ilmu pengetahuan. Pembaca artikel ini tidak akan membaca tanpa rasa ingin tahu, peneliti tidak akan meneliti tanpa rasa ingin tahu, pelajar tidak akan belajar tanpa rasa ingin tahu dan semua yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan pasti berfondasi pada rasa ingin tahu termasuk kemajuannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN