Mohon tunggu...
Halim Pratama
Halim Pratama Mohon Tunggu... Wiraswasta - manusia biasa yang saling mengingatkan

sebagai makhluk sosial, mari kita saling mengingatkan dan menjaga toleransi antar sesama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bersama Membangun Keberagaman dan Toleransi di Dalam Kampus

17 November 2018   10:03 Diperbarui: 17 November 2018   10:13 369 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kampus - http://blog.unnes.ac.id

Segala sesuatnya jika dilakukan bersama-sama tentu akan lebih mudah dan menyenangkan. Secara tidak langsung, bentuk kebersamaan ini juga terlihat dalam kearifan lokal kita. Budaya gotong royong merupakan bentuk kebersamaan, yang bisa diimplementasikan untuk segala hal. Mulai dari bersih kampung, membantu tetangga yang hajatan, hingga bersama-sama membangun jalan, atau bisa dalam bentuk yang lain. Dalam kebersamaan ada rasa saling menghargai dan menghormati. Dalam kebersamaan juga ada rasa saling melengkapi dan membantu antar sesama. Karena dalam kebersamaan muncul rasa empati.

Dalam lingkungan kampus, kebersamaan juga bisa dilakukan. Dan tentu saja, hal ini bisa sangat menyenangkan. Seperti kita tahu, kampus merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai tempat. Tujuannya cuma satu. Menuntut ilmu. Dalam proses menuntut ilmu tersebut, tentu tidak hanya dengan cara membaca buku saja. Tapi juga harus berinteraksi antar mahasiswa, dosen, rektor dan pihak-pihak lain yang ada di dalam kampus. Organisasi kemahasiswaan, atau berbagai unit kemahasiswaan bisa digunakan untuk belajar apapun dan membangun keberagaman.

Kenapa membangun kebagaman penting? Bukankah Indonesia sudah beragam sejak dulu? Betul. Seiring dengan munculnya kelompok radikal dan intoleran, keberagaman yang sudah ada sejak dulu dan menjadi ciri masyarakat Indonesia ini, mulai dipersoalkan. Menguatnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) setelah larangan masuknya organisasi ekstra kampus, dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memasukkan bibit radikal dan intoleran. HTI yang telah dibubarkan pemerintah, juga sempat menguat di berbagai kampus di Indonesia. Dan mungkin bibit itu sampai sekarang masih ada, meski secara organisasi tidak ada di dalam kampus. Kenyataannya, mahasiswa yang masuk menjadi anggota HTI, juga sempat menjadi viral karena melakukan deklarasi dukungan terhadap khilafah. Ironisnya, deklarasi yang dilakukan ratusan mahasiswa itu dilakukan di salah satu perguruan tinggi negeri.

Tentu kita tidak ingin perguruan tinggi terus disusupi oleh paham-paham radikalisme dan intoleransi. Karena bibit tersebut akan mendekatkan mahasiswa pada perilaku teror. Tidak sedikit mahasiswa yang terpapar radikalisme, memilih bergabung dalam jaringan teror di Indonesia. Bahrun Naim yang diduga menggerakkan serangkaian aksi teror di Indonesia, juga merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Solo. Bahkan, pada Juni 2018 yang lalu, Densus 88 pernah menangkap 3 mahasiswa di Universitas Riau. Keduanya diduga masuk menjadi bagian dari jaringan terorisme. Hasilnya, ketika dilakukan penggeledahan ditemukan 2 bom yang rencananya akan diledakkan di DPRD Riau dan DPR.

Suka tidak suka, mahasiwa masih terus menjadi target korban oleh kelompok radikal. Dan salah satu tempat berkumpulnya para generasi muda adalah perguruan tinggi. Jika kampus tidak dijaga dari pengaruh radikalisme, dikhawatirkan generasi mendatang akan berubah menjadi generasi yang intoleran, yang gemar menyalahkan orang lain, dan gemar melakukan persekusi bahkan tindakan teror. Untuk itulah perlu komitmen dan peranan semua pihak, termasuk organisasi ekstra kampus. Karena pemerintah telah mengeluarkan Permendikti No 55 tahun 2018 tentang pembinaan ideologi kebangsaan dalam kegiatan mahasiswa di kampus, maka organisasi ekstra kampus pun juga harus berkomitmen melindungi mahasiswa dari segala pengaruh bibit radikal dan intoleransi. Ingat, Indonesia adalah keberagaman. Dan kampus adalah bentuk keberagaman Indonesia dalam skala yang lebih kecil. Mari tetap jaga keberagaman, agar kerukunan antar umat tetap terjaga.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan