Mohon tunggu...
Hafid Pradana
Hafid Pradana Mohon Tunggu... History is not Misstory -

Alumni Pendidikan Sejarah UNESA | Freelance Writer | More website : http://wawasan-internet.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

De Grote Postweg: Kontribusi Daendels dalam Pembangunan Jalan Raya di Tanah Jawa

27 November 2018   12:43 Diperbarui: 27 November 2018   12:54 0 0 0 Mohon Tunggu...
De Grote Postweg: Kontribusi Daendels dalam Pembangunan Jalan Raya di Tanah Jawa
Sumber: Fanspage Komunitas Timur Lawu

Pagi hari tanggal 15 November 2018, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar sejarah di Universitas Airlangga Kampus B, Surabaya. Seminar yang diinisiasi oleh Komunitas Timur Lawu yang bekerjasama dengan Departemen Sejarah Universitas Airlangga ini bertajuk "De Grote Postweg: Warisan Budaya dan Sejarah di Sepanjang Jalan Pos Daendels Jawa Timur". 

Dalam seminar kali ini ada 3 pembicara utama yakni Dr. Purnawan Basundoro, Dr. Sarkawi Husain, dan Adrian Perkasa, M.Hum. Sebenarnya, ada satu pembicara lagi yang akan mengisi acara ini yakni Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud) namun yang bersangkutan tidak bisa hadir karena ada agenda penting di Jakarta. 

Acara seminar pagi itu tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Universitas Airlangga saja namun ada beberapa mahasiswa luar lainnya seperti Universitas Negeri Surabaya, Universitas Sebelas Maret, Erasmus University (Belanda), serta beberapa guru dan siswa SMA di Surabaya. Jujur saya sangat tertarik mengikuti acara ini karena membahas suatu fenomena dari sudut pandang kacamata lain. 

Setelah sampai di Gedung FIB saya sempat kebingungan mencari lokasi seminar karena belum pernah mengunjungi Ruang Siti Parwati. Namun setelah sampai di lantai dua ada petunjuk arah yang mengarah ke kanan dari tangga. Sebenarnya acara dimulai pukul 09.00, namun saya telat datang 30 menit karena ada kendala sebelumnya. Sampai di ruang Siti Parwati acaranya ternyata baru dimulai. Syukurlah belum telat :D

Seminar pertama dibuka oleh Dr. Purnawan Basundoro dalam presentasinya yang berjudul "Jalan Raya Pos Dan Dampaknya". Pak Pur (sapaan akrabnya) mengatakan bahwa Jalan Raya Pos dimulai saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman WIllem Daendels pertamakali datang ke tanah Nusantara pada tahun 1808. 

Daerah pertama yang didatangi oleh Daendels pada saat itu adalah Anyer di Serang, Banten pada tanggal 1 Januari 1808. 4 hari kemudian Daendels pergi dan sampai ke Batavia. Dalam buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul "Jalan Raya Pos, Jalan Daendels", Daendels menggagas pembangunan Jalan Raya Pos sewaktu melakukan perjalanan darat dari Bogor ke Semarang. 

Kemudian pada tanggal 5 Mei 1808 Daendels mengambil keputusan dengan membangun jalan dari Bogor ke Karangsambung (Cirebon) sepanjang 250 Km. Jalan tersebut dinamakan Jalan Raya Pos atau yang biasa disebut "De Grote Postweg" Jalan tersebut dibangun dengan lebar 7,5 meter dengan ketentuan setiap 150,960 meter didirikan tonggak sebagai tanda jarak dan tanda kewajiban bagi daerah sekitar (distrik) untuk pemeliharaan. Sedangkan ketentuan lainya adalah setiap jarakk 30-40 Km terdapat Gardu Pos untuk menggantikan kuda yang membawa kereta pos. 

Karena terdapat Gardu Pos maka muncullah tempat tinggal manusia di sekitar situ yang berakibat terbentuknya suatu desa atau kota. Seiring dengan berjalannya waktu maka muncul berbagai konsekuensi adanya Jalan Raya Pos diantaranya adalah kelancaran komunikasi (dalam hal ini sarana kereta pos), kelancaran transportasi serta pengangkutan barang yang lebih mudah dan efisien. 

Purnawan juga mengutarakan bahwa pembangunan Jalan Raya Pos juga mengakibatkan aglomerasi dan pertumbuhan kota di sepanjang jalan tersebut. Seperti misalnya ibukota Kabupaten Bandung yang dulu berada di Dayeuhkolot dipindahkan ke kota Bandung sebelah utawa. Selain itu Daendels juga memindahkan pusat pemerintahan Batavia ke Weltevreden (sekarang adalah kawasan Gambir, Jakarta Pusat).

Dampak Perubahan Secara Ekologis

Selain berdampak pada perubahan pembangunan fisik, pembangunan Jalan Raya Pos juga berdampak pada perubahan lingkungan sekitar. Dr. Sarkawi Husain dalam presentasinya yang berjudul "De Grote Postweg, La Grande Route, The Great Mail Road, Jalan Raya Pos dan Perubahan Ekologi" membandingkan kondisi pada foto tahun 1917 dan 1920 di sebuah jalanan desa. Pada tahun 1917 jalanan masih belum lebar dan terdapat beberapa pepohonan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x