Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Dari Kamar Tidur, Kami Berpartisipasi Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

3 Agustus 2019   22:04 Diperbarui: 3 Agustus 2019   22:28 0 4 2 Mohon Tunggu...
Dari Kamar Tidur, Kami Berpartisipasi Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan
Dengan mengatur keuangan keluarga tetap stabil, kita ikut menjaga stabilitas sistem keuangan/Foto: Sahabat Pegadaian

Dalam survei yang dilakukan pada 500 anak usia 3-8 tahun di Inggris pada tahun 2012 silam, terungkap bahwa hampir 2/3 anak menginginkan orang tuanya mau meluangkan waktu untuk membacakan cerita di kamar sebelum tidur.

Bercerita sebelum tidur akan menstimulasi anak-anak belajar dari karakter dalam cerita dan membantu mereka menghubungkan situasinya dengan kehidupan mereka. Melalui cerita, anak-anak ditunjukkan bagaimana cara memiliki pandangan positif di tengah-tengah kecemasan dan masalah dalam hidup. Ini juga mengajarkan mereka keterampilan berpikir kritis.

Bercerita sebelum tidur punya banyak manfaat. Tetapi memang, bagi orang tua, tidak mudah mendongeng setelah lelah seharian bekerja. Namun, bila tahu betapa nikmatnya mendongeng sembari melihat ekspresi dan respons anak-anak ketika bertanya, lelah itu bakal hilang. Saya sudah membuktikannya.

Sejak dua anak saya berusia 2-4 tahun, saya terbiasa mendongeng sebelum tidur. Meski tidak setiap malam. Saya merasakan, mendongeng itu tidak mudah. Sebab, anak-anak tidak mau bila ceritanya diulang. Karenanya, saya harus cerdik mencari tema cerita yang belum pernah diceritakan. Apalagi, saya juga ingin cerita yang ada pesan baik untuk mereka.

Salah satu cerita yang menjadi favorit mereka adalah kisah Nabi Yusuf. Tentang ketampanan, saudara yang jahat, kasih sayang ayahnya, hingga ketika Nabi Yusuf menjadi pejabat penting di kerajaan. Dikisahkan, Nabi Yusuf mengartikan mimpi raja bahwa ada tujuh ekor sapi betina gemuk yang dimakan tujuh ekor sapi yang kurus serta tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya kering. 

Maknanya, akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan simpanan dan bisa membuat rakyat kelaparan. Sebagai solusi, Nabi Yusuf lantas menyarankan sang raja agar rakyatnya menyimpan bahan pangan saat masa panen. Pada akhirnya, rakyat Mesir bisa selamat menghadapi tujuh musim paceklik karena sebelumnya sudah memiliki persiapan 'tabungan' saat panen.

Lalu, apa kaitan cerita Nabi Yusuf itu dengan upaya menjaga Sistem Stabilitas Keuangan ?

Dari cerita Nabi Yusuf yang saya sampaikan dengan bahasa sederhana kepada anak-anak, terselip beberapa pesan penting perihal urgensi mengantisipasi kejadian tak terduga di masa depan. Termasuk pentingnya membekali diri dengan wawasan cukup sehingga bisa menyiapkan antisipasi bila masa sulit itu akan datang. Sebab, periode enak tidak berlangsung selamanya.

Menabung, Menanamkan Trust pada Perbankan
Bila di zaman Nabi Yusuf, paceklik menjadi sumber kekhawatiran masyarakat karena menyebabkan kelaparan bahkan mengancam stabilitas negara. Kini, tantangan bagi masyarakat adalah menjaga stabilitas keuangan keluarga agar tak sampai terjadi krisis ekonomi keluarga. Dalam lingkup lebih besar, krisis itu bisa berwujud krisis ekonomi negara.

Bedanya, bila pacelik tidak bisa dicegah dan hanya bisa diprediksi karena itu gejala alam, terjadinya krisis ekonomi sejatinya bisa dicegah dengan menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Kabar bagusnya, kita bisa ikut berpartisipasi menjaga SSK melalui beberapa cara.

Belajar dari kisah Nabi Yusuf ketika mengajak masyarakat menyimpan hasil panen untuk menghadapi musim sulit, di era kekinian, solusi itu bisa berwujud bagaimana mengantisipasi "paceklik keuangan" tak terduga yang bisa terjadi pada setiap keluarga. Bisa karena usaha bangkrut ataupun pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN