Mohon tunggu...
Gustaaf Kusno
Gustaaf Kusno Mohon Tunggu...

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Asal Kata "Buset" dan "Biang Kerok"

22 Maret 2015   12:48 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:17 4105 2 1 Mohon Tunggu...

Kita sering bertanya-tanya, asal kata suatu istilah yang kedengaran aneh dan unik. Dalam ilmu linguistik, asal-usul terbitnya suatu kata dinamakan dengan etymology. Tidak mudah menelusuri asal-usul suatu kata, karena tak pernah orang membuat catatan sejarah kelahiran suatu kata di masa lalu. Ada yang berhasil ditemukan etimologi suatu kata setelah melalui pengkajian dari literatur-literatur kuno. Namun toh, ada sebagian kata yang tetap merupakan misteri asal-usulnya. Pada kata-kata semacam ini, para pakar bahasa biasanya membuat semacam hipotesa (praanggapan) yang paling mendekati dan paling masuk di akal. Harapannya tentulah, ada pencinta bahasa yang bisa menemukan missing pieces dari jigsaw puzzle yang masih “bolong-bolong” ini, sehingga hipotesa ini terverifikasi.

Istilah yang ingin saya telusuri asal-usulnya adalah kata (umpatan) “buset” dan “biang kerok”. Di masa penjajahan kolonial, tentara Belanda banyak memperkenalkan kata-kata umpatan yang aslinya tentu dalam bahasa Belanda. Mungkin umpatan serapan yang paling terkenal adalah “perdom” (dari kata verdomme yang artinya ‘terkutuk’). Namun tidak selalu umpatan ini dalam bahasa Belanda, mengingat di abad 18 dan 19, tentara yang ditugaskan ke Hindia Belanda juga meliputi berbagai etnis Eropa yang lain, misalnya Inggris, Perancis dsb. Jadi umpatan bahasa Inggris tak jarang keluar dari mulut soldadu-soldadu ini. Salah satunya adalah “bullshit”. Penduduk asli, mendengar umpatan bullshit ini setiap kali melihat soldadu ini sedang jengkel dan kesal. Karenanya, kata ini pun lma-kelamaan terserap dalam lidah kita menjadi “buset”. Permaknaannya juga tak jauh berbeda, sebab keduanya meluncur dari mulut kita, manakala ada hal-hal yang di luar dugaan dan membuat kita terperanjat.

Di masa pendudukan Jepang, kita juga menyerap sejumlah kata umpatan yang dibawa tentara Dai Nippon ini. Salah satunya adalah umpatan “bakero” yang makna harfiahnya “tolol, bodoh”. Namun seperti umpatan-umpatan lainnya, bakero tidak saja dilontarkan kalau melihat ada pekerjaan bodoh, tetapi juga untuk pekerjaan-pekerjaan yang mereka anggap sengaja diperlambat/disabot oleh bumiputera. Maka, kata ini pun terserap ke dalam kosakata kita menjadi “biang kerok”. Kebetulan sekali kata “biang” bermakna “cikal bakal”, sehingga “biang kerok” bisa dengan pas dimaknai dengan “sumber masalah” (‘kerok’ sendiri tentu tak mempunyai makna apa-apa).

Di zaman pendudukan Jepang, wajib hukumnya bagi semua orang yang bersua dengan tentara Jepang untuk membungkukkan badan dalam-dalam sebatas pinggang yang dinamakan dengan “kere”. Kalau kita lalai atau terlambat melakukan “kere” kepada tentara Jepang ini, tempelengan atau popor senapan ganjarannya. Dengan ganas tentara cebol ini akan berteriak “Kere!” kepada penduduk yang kala itu banyak yang berpakaian dari goni saking melaratnya. Lama-kelamaan, kata “kere” ini terserap dalam bahasa kita untuk merujuk kepada kaum yang terlunta, kaum melarat, kaum tak berpunya. Jepang sudah sekian dekade angkat kaki dari bumi nusantara, namun sejumlah kata masih sering kita kita gunakan, misalnya kata “berjibaku”. Dalam pengertian asalnya “jibaku” bermakna “bunuh diri untuk membela kehormatan” (semacam ‘harakiri’ dan ‘kamikaze’), namun dalam khazanah bahasa kita sedikit berdeviasi menjadi “berjuang pada medan yang sangat sulit dan penuh tantangan.

Inilah, beberapa etimologi yang mungkin menarik untuk kita kaji lebih dalam lagi apabila akan kita tingkatkan status verifikasinya. Mudah-mudahan bermanfaat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x