Gustaaf Kusno
Gustaaf Kusno profesional

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.

Selanjutnya

Tutup

Humor

Onomatopoeia, Dari Kuping Turun ke Lidah

24 Februari 2012   08:34 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:14 3208 3 10
Onomatopoeia, Dari Kuping Turun ke Lidah
13300723081291351811

[caption id="attachment_164840" align="aligncenter" width="608" caption="(ilust docstoc.com)"][/caption]

Onomatopoeia bukanlah istilah medis tentang suatu penyakit, melainkan istilah bahasa yang dapat didefinisikan sebagai kosakata yang dibentuk berdasarkan ‘bunyi’ atau ‘suara’ yang dikeluarkan oleh kata yang bersangkutan. Kosakata ini bisa berbentuk kata benda, kata kerja, kata sifat dan sebagainya. Untuk lebih memperjelas apa yang dimaksud dengan onomatopoeia saya langsung akan memberikan contohnya yaitu kosakata ’tokek’. Satwa yang mirip cicak ini akan mengeluarkan suara ’to-kek...to-kek...to-kek’ pada saat senja akan menjelang. Nama satwa lain yang diberikan berdasarkan ’suara’nya adalah ’tekukur’ dan ’perkutut’. Dan yang tak boleh dilupakan juga burung ’kakaktua’.

Dalam bahasa dunia lainnya onomatopoeia juga dikenal, namun yang unik, nampaknya kuping masing-masing bangsa tidak sama menangkap bunyi atau suara itu. Dalam bahasa Inggris misalnya, ’tokek’ disebutnya dengan ’gecko’ (berarti mereka mendengarnya dengan ’ge-ko..ge-ko...ge-ko....’), lalu burung kakatua dengan ’cockatoo’ (berarti kira-kira masuk di telinga mereka sebagai ’koko-tu...koko-tu...koko-tu...’). Ada juga nama burung yang endemis di negara Barat yang diberi nama ’cuckoo’ (mengeluarkan suara ’ku-ku...ku-ku...ku-ku....’).

Dalam bahasa Indonesia mungkin onomatopoeia ini lebih beragam diciptakan orang. Ada kata ’telur ceplok’ (dari bunyinya waktu dimasukkan ke dalam wajan), ’keripik’ dan ’kerupuk’ (dari bunyinya waktu digigit), ’rokok kretek’ (dari bunyinya waktu rokok ini diisap), ’musik dangdut’ (dari suara gendangnya), gong, ’kantong kresek’ (dari suara yang dikeluarkan waktu membuka kantong plastik ini), ’kampung becek’ (dari suara cek-cek-cek waktu kita melintasi tempat yang tergenang air itu) dan ’kentut’ (dari bunyi ’tuut’ baik yang pendek maupun yang panjang). Yang jenaka dalam bahasa Inggris ’kentut’ ini mempunyai onomatopoeia ’fart’ (yang kira-kira terdengar seperti ’brot’).

Kata kerja yang masuk kelompok onomatopoeia cukup banyak dalam bahasa Indonesia. Ada kata cebur, ketuk, desis, desah, kucur, coblos, dentang, denting, decak (mengeluarkan bunyi ’ck...ck...ck...’), desir, gedor (mengeluarkan bunyi ’dor..dor...dor...’ seperti pada daun pintu yang dipukul keras-keras), muncrat (mengeluarkan bunyi ’crot’), mancur (mengeluarkan bunyi ’cur’) dan mencret (mengeluarkan bunyi ’cret’), tabrak (bunyi ’brak’) dan tubruk (bunyi ’bruk’).

Yang cukup menggelikan ada kata yang bunyinya masih perlu dipertanyakan (masih bisa diperdebatkan), seperti kata ’ompong’ (kemungkinan dari suara ’pong...pong...pong’ pada saat si empunya mulut mengunyah makanan), melompong (juga suara ’pong...pong...pong’ pada tong kosong yang dipukul) dan juga ’kentongan’ (dari bunyi ’tong-tong-tong). Dalam bahasa Inggris sandal jepit dinamakan dengan ’flip flop’. Ini contoh onomatopoeia yang pas sekali, karena pada waktu si pemakai sandal jepit berjalan pasti akan mengeluarkan suara yang khas ’flip-flop... flip-flop’ ini. Kalau seseorang tidur sambil mendengkur maka kita sebut dengan ’mengorok’ (dari suara ’grok...grok...grok...’). Tapi dalam bahasa Inggris dia dinamakan dengan ’snore’ (dari bunyinya ’snor...snor...snor..’). Kalau dalam bahasa kita ada ’cegukan’ (berbunyi ’ceguk...ceguk...ceguk...’), maka dalam bahasa Inggris ada ’hiccup’ (berbunyi ’hik-a...hik-a...hik-a....’).

Dan yang selalu menjadi ’trademark’ blogger yang sedang menahan geli yaitu ’ngakak’ (wk-wk-wk) dan ’terbahak’ ( ha..ha..ha..). Onomatopoeia memang sangat kreatif sesuai dengan imaginasi auditif dari masing-masing bahasa di dunia ini, karenanya boleh kita tamsilkan ’dari kuping turun ke lidah’.