Gus Noy
Gus Noy Arsitek

Buku-buku arsitek kelahiran Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, ini antara lain kumpulan kartun hitam-putih "Potret Diri Oji" (2017, ISBN : 978-602-98452-7-3), kumpulan esai "Siapa Mengontrol Siapa" (2016, ISBN : 978-602-98452-6-6), dan kumpulan puisi "Napak Tilas" (2016, ISBN : 978-602-98452-4-2). Alamat surel : sayagusnoy@yahoo.com.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Pentingnya Disiplin dalam Menulis

14 Juli 2017   21:22 Diperbarui: 15 Juli 2017   09:54 408 11 5
Pentingnya Disiplin dalam Menulis
Ilustrasi: Shutterstock

"Menulis tidak cuma butuh kelincahan bermain kata-kata, tetapi juga suasana hati. Di sini tantangan terbesar seorang penulis, mengalahkan diri sendiri untuk tetap lahir tulisan."

--- Yo Sugianto, status Fb, 4 Desember 2015 ---

Sebagian orang sukses sering memberi petuah bahwa salah satu kunci kesuksesan atau keberhasilan adalah disiplin. Disiplin dalam belajar. Disiplin dalam berlalu lintas. Disiplin dalam bekerja. Disiplin menambah ilmu pengetahuan. Disiplin mengamati perkembangan zaman. Disiplin mengembangkan diri. Dan lain-lain, termasuk dalam proses tulis-menulis.

Proses tulis-menulis di sini bukanlah bagi para jurnalis, panitera, sekretaris, atau profesi sejenis yang bernafkah hidup dari hasil karya tulisan. Sebab, semisal awak jurnalis belum puluhan tahun menjalankan profesi itu, pendisiplinan disebabkan oleh tuntutan pekerjaannya. Mungkin kewajiban menyetor berita sebanyak tiga atau lima, semisal kriminal, dalam satu hari.

Bukan pula bagi pelajar atau mahasiswa yang sedang dirundung kewajiban berupa tugas yang dikerjakan dengan menulis, semisal karya ilmiah. Sebab, kedisiplinan melaksanakan tugas pendidikan merupakan kewajiban. Kalau tidak mau mengerjakan tugas, ya, jelas dampaknya pada hasil akhirnya dalam penilaian.

Tulisan ini hanya menyasar pada kalangan yang belum sekian tahun menggeluti hobi tulis-menulis, baik menulis fiksi maupun non-fiksi. Terkait hobi, tentunya, motivasi menulis masih dalam lingkup mengaktualisasikan pemikiran, baik gagasan, wacana, ulasan, tanggapan maupun sekadar wujud sebuah kontempelasi.   

Bagi kalangan yang sedang serius menggeluti hobi tulis-menulis, kedisiplinan pun penting. Serius, meski berawal dari hobi atau gemar alias kesenangan, juga harus harus disiplin. Disiplin semacam ini dimulai dari diri sendiri karena hobi satu ini memang menjadi pilihannya, dan termotivasi mengembangkan kapasitas diri dalam komunikasi verbal secara lancar dan semakin berkualitas.

Kedisiplinan itu di antaranya, disiplin membaca, memahami bacaan, menuliskan pemikiran, bertata bahasa, dan menghasilkan tulisan dalam waktu-waktu tertentu. Meskipun sekadar tulisan ringan nan santai, kedisiplinan tetap penting. Meskipun tidak berambisi menjadi penulis hebat dan setiap tulisan berdampak dahsyat, kedisiplinan juga sangat penting.

Disiplin tidak mudah jika kata "disiplin" terjebak dalam pemahaman makna yang sempit seakan-akan disiplin itu kaku, statis, dan monoton, yang secara keseluruhan memperlihatkan suatu kegiatan yang sangat mengekang kebebasan. Kalau disiplin dikonotasikan dengan kaku, statis, dan monoton, ya, selamat bersusah-kesah melulu.  Lho mengapa begitu?

Begini. Kegiatan menulis,  menggambar, beryanyi,  memancing, dan kegiatan lainnya merupakan sebuah pilihan. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih, termasuk memilih suatu kegiatan, bukan?

Kebebasan berkaitan erat dengan kesenangan sebab semua orang ingin bebas, dan senang sekali kalau bisa bebas. Kegiatan yang menyenangkan, kata orang, adalah kegemaran atau hobi. Setiap orang memiliki hobi, bukan?

Seseorang yang memiliki hobi atau kegiatan yang menyenangkan sekaligus membebaskan dirinya untuk mengaktualisasikan kemampuan kemanusiaannya (kreativitas), tidak jarang, itulah yang akan dilakukannya secara terus-menerus (kontinyu), walaupun dengan suatu keterbatasan tertentu, semisal alat atau media. Oleh sebab senang dan bebas, tidak jarang pula, justru menghasilkan sesuatu, minimal keriangan dalam dirinya.

Oh iya, tadi ada kata "terus-menerus". Terus-menerus tidak terlepas dari suatu kedisiplinan. Dalam tulis-menulis juga membutuhkan kedisiplinan itu. Disiplin dalam proses. Disiplin dalam pencarian informasi. Disiplin dalam gagasan. Ujungnya, disiplin dalam produksi (hasil). Oleh sebab tulis-menulis merupakan hobi, semua bentuk kedisiplinan itu seringkali tidak terpikirkan, atau tidak menjadi bebas. Bukankah suatu kesenangan selalu dilakukan tanpa terasa adanya beban?

Hobi dan disiplin dalam waktu bersamaan dan berkelanjutan adalah keniscayaan untuk menghasilkan suatu karya tulis-menulis yang baik. Baik di sini bukan saja tulisan sesuai dengan kaidah tulis-menulis melainkan pula sebuah tulisan yang memiliki suatu dampak tertentu, khususnya bagi pembaca tulisan.

Ketika tulis-menulis merupakan sebuah pilihan hobi, kesadaran terhadap diri sendiri sangat diperlukan. Sadar bahwa dirinya menyukai; sadar bahwa dirinya ingin semakin berkembang; sadar bahwa dirinya suka berlatih; sadar bahwa disiplin pribadi akan membawanya ke suatu tahap yang disebut berhasil (sukses).

Keberhasilan suatu kegiatan tulis-menulis adalah produk (tulisan) itu sendiri. Keberhasilan pada tahap ini sudah cukup bagus. Agar bisa bagus dan semakin bagus, tentu saja, harus tekun berlatih atau berproses. Ketekunan ini, oleh sebab kesadaran atas hobi bahkan dilandasi rasa cinta atas pilihan, niscaya kesuksesan akan diraih pada suatu waktu, dan waktu-waktu lainnya.

Oleh karena hobi yang disadari dan dinikmati sebagai suatu kebebasan, kedisiplinan bukan lagi sesuatu yang kaku, statis, atau monoton, melainkan bagian dari proses itu sendiri. Kedisiplinan untuk berproduksi pun dilakukan dengan semangat riang-gembira.

Dengan riang-gembira, biasanya, berdampak pada kelincahan dan keluwesan bermain kata-kata. Dengan riang-gembira, biasanya juga, gagasan selalu mengalir secara lancar. Bukankah riang-gembira merupakan bagian dari pelaksanaan hobi?

Dan, salah satu wujud pendisiplinan diri sendiri yang juga bisa terukur adalah berupa produksi (karya/tulisan) secara kuantitas. Misalnya, membuat target, satu minggu menghasilkan dua-tiga tulisan. Atau, menyisihkan waktu sekitar satu jam per hari untuk menulis, dan tulisan tidak wajib selesai-sempurna. Tidak perlu memberi tahu khalayak mengenai target itu supaya tidak menjadi bumerang yang tidak diinginkan alias menjadi "gugatan" dari khalayak.

Berikutnya, terserah, topiknya apa, jenisnya (genre) apa, dan berapa karakter atau jumlah halamannya. Tidak perlu juga terlalu ngotot untuk menulis bertabur referensi. Nikmati dan produksi.

Agar proses terasa menyenangkan sesuai dengan hobi, topik tulisan bisa variatif. Topik keseharian tentu lebih mudah. Misalnya tentang kebiasaan membersihkan ruang, menanam bunga, memasak, kuliner, jalan-jalan, tidur di depan televisi, dan seterusnya. Mungkin ada manfaatnya dari kebiasaan itu. Mungkin karena dilandasi cinta maka semua terasa riang.

Pendisiplinan berupa produksi ini, di samping upaya mengasah kemampuan, juga merupakan upaya mengalahkan diri sendiri untuk tetap menghasilkan tulisan. Tentu tidak mudah "mengalahkan diri sendiri" karena hobi yang kurang serius seringkali tergoda oleh faktor "suasana hasrat sesaat" (mood).

Tidak sedikit pemula akhirnya kedodoran dalam produksi akibat tidak mood.  Kalaupun masih berproduksi, kemungkinannya adalah jarang, dan tidak mengalami perkembangan apalagi peningkatan kualitas tulisan. Kalau sudah begini, hobi --yang terkait kesenangan dan keseringan---patut dipertanyakan.

Penyebab lainnya, mungkin, motivasi yang tidak murni. Misalnya uang, terkenal, atau tulisan berdampak dahsyat-menggemparkan dalam waktu cepat sesuai dengan keinginannya bahkan ambisinya. Motivasi yang tidak murni ini, sebenarnya, justru sering menjelma sebagai beban yang serius, dan cenderung berujung pada daya tahan "suasana hati" alias tidak mood. Padahal, suatu hobi merupakan kesenangan, dan semua proses dilakukan dalam suasana menyenangkan.

Oleh sebab itu, agar disiplin diri bisa berlangsung sesuai dengan kemampuan diri sendiri, kembalikan lagi proses tulis-menulis dan motivasi kepada hobi yang berakar dari kesukaan dan keseringan melakukan itu. Tidak perlu malu atau gengsi jika tulisan terasa kurang bagus atau kurang sempurna karena, ya, mengesampingkan malu juga merupakan upaya mengalahkan diri sendiri.

Jadi, bagaimana lagi? Ya, menulis saja dengan disiplin diri dalam suasana hati yang riang-gembira.

*******

 Panggung Renung Balikpapan, 2017