Gusblero Free
Gusblero Free profesional

hanya teman berbagi diruang dan waktu yang lain...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Maharani Shima

26 Agustus 2014   03:34 Diperbarui: 18 Juni 2015   02:34 5345 0 0
Maharani Shima
14089735141232549598



Shima, Sihma, atau sering dituliskan sebagai Sima, adalah putri seorang pendeta di wilayah Sriwijaya. Ia dilahirkan tahun 611 M di sekitar wilayah yang disebut Musi Banyuasin. Tahun 628 ia dipersunting oleh pangeran Kartikeyasingha yang merupakan keponakan dari kerajaan Melayu Sribuja. Menyeberangi laut Jawa, melewati pantai utara Jepara, ia kemudian diboyong ke daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (Leluhur Agung), atau Dieng sekarang. Di sinilah kemudian Shima, sebagai pemeluk Hindu Syiwa yang taat, kemudian tinggal.

Ayah Kartikeyasingha adalah Raja Kalingga yang memerintah antara tahun 632-648 M. Tahun 648 M ketika ayahandanya wafat, Kartikeyasingha naik tahta dan memerintah sampai tahun 674 M. Mulai saat itulah peran permaisuri Shima dalam politik mulai kelihatan.

Perkawinan Kartikeyasingha dengan Shima melahirkan dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara). Lalu untuk mempererat persahabatan dengan kerajaan Galuh Purba, yang wilayahnya sampai di sekitar perbatasan sungai Ci Serayu, mereka kemudian menjodohkan anaknya yang bernama Parwati dengan Amara (Mandiminyak), anak Raja Galuh Wretikandayun .

Saat Kartikeyasingha wafat tahun 674, Shima mengambil alih posisi suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Menurut sejarah, Ratu Shima, yang telah menjadi janda itu, kemudian sempat dipinang oleh Sri Jayanasa raja Sriwijaya, namun Ratu Sima menolaknya. Ia tidak bisa mentolerir sikap kerajaan Sriwijaya yang telah melakukan ekspansi besar-besaran menyerbu Melayu Sribuja, kerajaan kakak mertua sang ratu.

Karena alasan itu pada tahun 686 Sriwijaya bermaksud menyerang Kalingga. Mengetahui rencana ini, Tarusbawa, raja Sunda, turun tangan dan mengirim surat kepada Sri Jayanasa bahwa ia tidak setuju dengan rencana itu. Alasannya adalah agar jangan timbul kesan bahwa gara-gara pinangannya ditolak oleh Ratu Sima, maka Sri Jayanasa hendak menyerbu Kalingga. Mau tak mau Sri Jayanasa terpaksa menyetujui usul Tarusbawa, yang juga adalah saudaranya sendiri. Kapal-kapal Kalingga, yang waktu itu sempat ditahan, dilepaskan setelah hartanya dirampas. Tindakan Sriwijaya hanya sekedar mengganggu keamanan laut Kalingga.

Sri Jayanasa Raja Sriwijaya mangkat tahun 692 M dan digantikan oleh Darmaputra (692-704). Sedangkan Ratu Shima mangkat 3 tahun kemudian, yaitu tahun 695 M. Sebelum mangkat, Kerajaan Kalingga dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram (dirajai oleh Parwati, 695 M-716 M). Di bagian selatan disebut Bumi Sambara (dirajai oleh Narayana, adik Parwati, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala, 695 M-742 M).

Sanjaya (cucu Parwati) dan Sudiwara (cucu Narayana) kelak menjadi suami isteri. Perkawinan mereka adalah perkawinan antara sesama cicit Ratu Sima. Anak hasil perkawinan mereka bernama Rakai Panangkaran yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di Jawa Tengah.

Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Kalingga sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha).

Dalam hal bercocok tanam Ratu Shima juga mengaudopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.

Kerajaan Kalingga beratus tahun yang lalu bersinar terang emas penuh kejayaan. Memiliki Maharani Sang Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan. Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadap muka dengannya, apalagi menantang. Situasi ini justru membuat Ratu Shima amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.

Sekali waktu, Ratu Shima menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan menukarkan posisi pejabat penting di lingkungan istana. namun puluhan pejabat yang digantikan ditempat yang tak diharap, maupun yang dipensiunkan, tak ada yang mengeluh barang sepatah kata. semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, titah titisan Sanghyang Maha Wenang.

Berita tentang Ratu Shima yang adil beserta negerinya yang makmur dan rakyatnya yang jujur telah terdengar sampai China dan sampai di telinga Raja Ta-che. Raja Ta-che penasaran kenapa kerajaan Holing (Kalingga) bisa begitu terkenal akan kejujurannya hingga sampai terdengar di China yang terbilang sangat jauh dari Jawa. Akhirnya Raja Ta-che ingin membuktikan kebenaran dari kejujuran rakyat Kalingga.Ia pun mengirim utusann untuk membuktikan hal itu. Utusan Raja Ta-che diperintah untuk menaruh pundi-pundi emas secara diam-diam di tengah jalan dekat keramaian pasar. Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga sampai tiga tahun pundi-pundi itu ternyata tetap di tempat semula tak ada yang menyentuh apalagi memindahkannya.

Hingga suatu hari anak tertua dari Ratu Shima saat berjalan melewati pasar, tak sengaja kakinya menyenggol pundi-pundi tersebut. Salah seorang (pengawas utusan) melihat kejadian tersebut, lalu melaporkan kepada pemerintah kerajaan akan kejadian tersebut. Segera setelah mendapatkan laporan tersebut Ratu Shima langsung memerintahkan hukuman mati kepada pelakunya, yang tak lain adalah anaknya sendiri.

Beberapa Patih kerajaan tidak setuju dengan keputusan Ratu Shima. Mereka mengajukan pembelaan untuk Sang Putra Mahkota. Pembelaan mereka yaitu, Sang Putra Mahkota menyenggol pundi-pundi tersebut karena tidak sengaja dengan kakinya, maka lebih baik cukup kakinya saja yang dipotong, tidak perlu dihukum mati karena tidak ada unsur kesengajaan.

Setelah melalui perdebatan yang panjang, Ratu Shima menyetujui pembelaan dari Patih kerajaan. Sang Putra Mahkota pun akhirnya hanya dihukum potong jari dari kaki yang telah menyenggol pundi-pundi tersebut. Akhirnya uusan Raja Ta-che kembali ke china setelah melihat kebenaran tentang adilnya Ratu Shima yang mau menghukum anaknya yang telah melakukan kesalahan dan kejujuran rakyat Holing (Kalingga) yang benar-benar luar biasa.

Catatan tentang kerajaan Kalingga bisa dirunut dalam Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Prasasti ini bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Dalam Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Serayu (Sarayu, dalam bahasa Devanagari atau Kota Dewa) adalah sungai kuno yang mengalir di daerah yang kini disebut Uttar Pradesh di India. Sungai ini merupakan satu dari tujuh mata air yang disucikan (sungai Gangga, sungai Sindhu, sungai Saraswati, sungai Wipasa, sungai Kausika, sungai Yamuna, dan sungai Serayu).

Sungai Sarayu di India juga memainkan peran penting untuk kota dan kehidupan Ayodhya, dan menurut wiracarita Hindu Ramayana, sungai ini adalah tempat Rama, Awatara ketujuh Wishnu memasukkan dirinya untuk kembali ke bentuk abadinya, bentuk Mahawisnu ketika ia mengundurkan diri dari takhta Kosala. Sarayu juga merupakan sungai, dimana tepinya adalah tempat Raja Rama lahir.

Menurut para sejarahwan candi dieng dibangun pada abad ke-7 Masehi. Perintah membangun candi diberikan oleh Ratu Shima dari Dinasti Sanjaya yang memerintah Kerajaan Kalingga. Tujuannya sebagai tempat pemujaan. Ratu Shima juga mendirikan beberapa candi lain di kawasan Dieng, seperti Candi Gatotkaca di bukit Pangonan, Candi Dwarawati di kaki Gunung Prahu, dan Candi Bima yang merupakan candi terbesar di Dieng. Candi-candi yang berada di luar kompleks tersebut pada umumnya terletak menyendiri dan dikelilingi pepohonan.

Apabila melihat dari namanya, Kerajaan Kalingga kemungkinan didirikan oleh sekelompok orang India yang mengungsi dari sebelah timur India ke Nusantara. Dugaan ini didasarkan pada laporan tentang penghancuran daerah Kalingga di India Raja Harsja. Orang Kalingga yang tersisa melarikan keluar negeri. Mereka berasal Orrisa yang kerajaannya dihancurkan oleh maharaja Asoka.

Kalingga di India adalah sebuah negeri yang bangga akan kemerdekaannya. Negeri ini bisa dikatakan sebuah pengecualian di Bharata Kuna, karena di sana ada konsep Rajadharma, yang berarti kewajiban para pemimpin, yang secara dasar bersatu-padu dengan konsep keberanian dan Ksatriyadharma. Kesejarahan semacam inilah yang nampaknya atau mungkin saja mengilhami Maharani Ratu Shima dalam mengatur pemerintahannya saat itu.

Ting........entahlah!