Sholahuddin Mz
Sholahuddin Mz karyawan swasta

Laki-laki pencari Tuhan. Lahir di Boyolali, Jateng. Saya hanya seorang "mualaf" yang tak pernah lelah belajar mengenai kehidupan. Mencintai kebenaran, tapi membenci semua bentuk pembenaran. Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. "Hidup harus berpihak pada kebenaran" menjadi prinsip hidup saya.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Koran dan Siklus Umur Produk

9 April 2018   13:40 Diperbarui: 12 April 2018   15:23 2005 6 1
Koran dan Siklus Umur Produk
ilustrasi (tricorners.wordpress.com)

Harian Bernas, koran lokal di Jogja yang terbit sejak 1945, pada Rabu (28/2/2018) mengumumkan berhenti terbit. Mulai  Maret koran legendaris ini tidak lagi menyapa pembaca. Koran berhenti terbit karena pendapatan baik dari iklan maupun  sirkulasi terus turun.

Sebelumnya Harian Joglosemar, koran di Solo, juga mengumumkan tidak lagi mencetak koran sejak 1 Januari 2018. Tutupnya dua koran lokal ini makin menambah efek psikologis tentang suramnya masa depan media cetak. Setiap ada media cetak tutup, selalu saja yang disalahkan adalah pihak "ketiga", dalam hal ini adalah munculnya internet sebagai media penyebaran baru informasi.  

Tapi benarkah internet adalah faktor "pembunuh" media cetak? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Setiap orang akan punya persepsi sendiri tentang pertanyaan ini. Yang pasti matinya sebuah perusahaan dan industri selalu ada dua variabel penting. 

Pertama, faktor internal di organisasi perusahaan itu, menyangkut tingkat kesehatan manajamen internal. Kedua, faktor eksternal, berupa perubahan lingkungan bisnis akibat temuan teknologi baru. Teknologi itu kemudian memengaruhi perubahan perilaku konsumen. Dua faktor itu yang memengaruhi daya tahan perusahaan koran di tengah perubahan yang dahsyat ini.

Tak bisa dimungkiri internet memang menjadi tantangan baru bagi industri cetak. Banyak pimpinan perusahaan media cetak yang puyeng memikirkan kondisi ini. Tidak hanya koran kena imbas, tapi juga majalah, dan bahkan industri buku. Teknologi internet menjadi tantangan karena bisa menggantikan kertas sebagai media penyampaian informasi kepada publik secara lebih cepat, murah dengan jangkauan yang lebih luas. 

Keunggulan media massa berbasis internet ini yang kemudian menjadi idola baru masyarakat untuk mendapatkan informasi. Terlebih lagi munculnya media sosial yang makin meminggirkan posisi media cetak pada zaman "now."  Generasi-generasi baru yang sering disebut kaum milenial disebut-sebut ogah membaca koran (meskipun asumsi ini tidak selalu benar).

Kecemasan

Setiap temuan teknologi baru memang selalu memantik kecemasan terhadap eksistensi tradisi maupun teknologi yang sudah ada. Temuan baru itu dikhawatirkan akan menggantikan hal-hal yang sudah mentradisi. Apalagi kalau temuan baru itu diadopsi untuk menggantikan teknologi yang sudah digunakan. 

Industri cetak marak setelah temuan mesin cetak di Eropa oleh Johann Gutenberg pada 1450 pun sempat membuat orang khawatir.  Mesin cetak yang dengan mudah mencetak media massa dan buku secara massal dikhawatirkan bakal menggantikan tradisi lisan yang sudah mengakar sejak manusia diciptakan Tuhan.

Buku Sejarah Sosial Media Dari Gutenberg Sampai Internet karya Asa Briggs & Peter Burke (2006) mengungkapkan hal itu. Meskipun,  dalam buku itu,  juga mengungkapkan perdebatan bahwa sesungguhnya industri cetak takkan menghilangkan tradisi lisan, melainkan akan menjadi pelengkap tradisi lisan. Dan faktanya memang begitu. Tradisi lisan takkan hilang meski tradisi cetak meluas.  Keduanya bisa berjalan beriringan.  

Karena itu kecemasan teknologi internet akan mematikan industri pers cetak semestinya tak perlu disikapi secara berlebihan. Serbuan teknologi internet memang harus diakui dalam banyak hal mengancam praktek-praktek bisnis media cetak.  Seperti internet sebagai media baru penyebaran informasi dan media baru periklanan. Iklan selama ini menjadi nyawa penting bagi industri media cetak. Sementara pasang iklan di media digital secara umum jauh lebih murah ketimbang media cetak.

Dengan adanya beberapa keunggulan itu apakah lantas internet akan melibas begitu saja industri media cetak? Atau dengan kata lain akan mematikan pers cetak? Jawabnya nanti dulu....

Pengalaman temuan teknologi baru yang lebih mudah, murah simpel memang sempat membuat industri tertentu mengalami guncangan hebat. Teknologi video melalui kaset, TV compact disk (CD) dan disusul internet dituduh sebagai biang keladi runtuhnya industri bioskop di Indonesia. Orang lebih suka nonton film di rumah ketimbang pergi ke bioskop. 

Saya ingat sewaktu masih kuliah (era 1990-an) , di Solo begitu banyak gedung bioskop. Konsumen begitu banyak pilihan, dari kelas murah hingga kelas elit.  Tapi dalam tempo tak begitu lama banyak gedung bioskop bertumbangan. Hanya menyisakan sebagian kecil saja bioskop di Solo.

kondisi bertolak belakang kini terjadi. Industri film kembali menggeliat. Gairah orang untuk menonton film di bioskop meningkat. Orang tak puas hanya menonton film di rumah. Sensasinya kurang. Gak bergengsi, tidak bisa melihat situasi di luar....  

Orang pergi ke bioskop tak semata-mata untuk menonton film tapi juga untuk kegiatan leisure, kegiatan mengisi waktu luang untuk bersenang-senang. Apalagi aktivitas menonton film bisa ini "dipamerkan" di media sosial. Sebuah tren gaya hidup baru masyarakat....

Industri batik di sentra-sentra batik di beberapa daerah juga pernah hampir runtuh. Batik-batik tulis yang dibuat dengan sentuhan seni dan ketelitian terancam dengan batik yang dibuat secara massal dengan mesin industri. Tentu saja dengan harga jual lebih murah. Temuan teknologi membatik secara massal mengancam batik-batik tulis. 

Namun beberapa tahun kemudian pamor batik kembali meningkat. Kampung-kampung batik di Solo yang dulu hampir punah kini hidup kembali. Apalagi setelah pemerintah menetapkan  tanggal 2 Oktober sebagai hari batik nasional. Banyak perusahaan yang mewajibkan karyawannya memakai baju batik pada hari-hari tertentu, Jumat, misalnya. Hal ini akan meningkatkan permintaan akan batik. Industri batik mulai menggeliat. Batik tulis yang mahal mengundang sensasi lain, bergengsi, yang kini memang lagi diburu orang.

Theodore Levitt, seorang pakar pemasaran dari Harvard Business School Amerika Serikat  memprediksi, setiap produk itu memiliki siklus umur seperti siklus umur manusia. Fase-fase umur produk itu antara lain masa perkenalan (introduction), masa pertumbuhan (growth), masa kematangan (maturity), serta penurunan (decline).

Kalau melihat dari ciri-cirinya, media cetak saat ini bisa dikategorikan masuk era decline atau mengalami penurunan, terutama penurunan dari sirkulasi (jumlah edar koran) maupun penurunan pendapatan dari iklan. Produk akan masuk era decline karena munculnya pesaing-pesaing baru yang lebih tangguh.Butuh strategi pemasaran yang membutuhkan biaya tidak sedikit agar posisi decline ini tidak berlanjut ke arah kematian produk. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2