Mohon tunggu...
Reba GT
Reba GT Mohon Tunggu... Pekebun | Leibnizan

Peminat Pertanian dan Filsafat

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Imbas Covid-19, Otto Kol Kehilangan Penumpang

5 April 2020   15:12 Diperbarui: 5 April 2020   17:52 329 26 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Imbas Covid-19, Otto Kol Kehilangan Penumpang
Ilustrasi Otto Kol (foto Melinda Rachman)

Direksa wilayah Manggarai Raya, Flores saat ini para punggawa pemerintah setempat sudah merumahkan pegawai kantoran hingga pelajar sekolah. Selain itu, melarang adanya masyarakat membuat keramaian seperti pesta adat, berpergian jauh dan sebagainya.

Imbauan social distancing, physical distancing dan work from home untuk mengantisipasi meluasnya coronavirus sesekini membuat sejumlah sopir Otto Kol di Manggarai Raya kehilangan banyak penumpang.

Otto Kol sendiri adalah sebutan untuk mobil kayu. Lebih tepatnya mobil colt yang dibelakangnya dipasang kayu dan sedemikian dimodifikasi untuk ditumpangi oleh penumpang.

Di tempat saya, Manggarai, Otto Kol dipakai sebagai angkutan umum dari desa ke kota. Menjadi khas karena Otto Kol hanya bisa kita temui di Manggarai saja, ditempat lain tidak ada.

“Hae adek hari ini sonde taksi ke kota ko?” tanyaku

“De kaka, acur su ni. Sepi penumpang” Pekik Egen, salah seorang sopir Otto Kol yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah saya

Egen memahami kondisi saat ini yang membuat masyarakat sekarang banyak dirumah. Lantaran banyak yang takut tertular virus corona. Mengingat harus duduk berdesakan sesaat menaiki Otto Kol.

Yang pasti banyak penumpang yang takut, tapi ada juga yang tidak. Dikarenakan hingga kini reksa wilayah Manggarai Raya masih aman dan negatif kasus Covid-19.

Swafoto Nona-nona bule asal Australia sedang menumpangi Otto Kol (dok.pri)
Swafoto Nona-nona bule asal Australia sedang menumpangi Otto Kol (dok.pri)

Egen sendiri merupakan sopir Otto Kol jurusan Pacar --- Labuan Bajo.

Kalau saya perhatikan juga, sudah tiga hari ini dia tidak lagi taksi ke kota. Sekadar bangun pagi untuk memanasi mesin. Baik Egen, juga Otto Kol dari kampung sebelah juga beberapa hari ini sudah tidak kelihatan batang hidungnya lagi.

Menurut penuturan Egen, pada hari-hari biasa sebelum isu pandemi covid-19 ini merebak sampai ke desa-desa, Otto Kol berangkat pagi dari desa dalam kondisi penuh. Penumpang duduk hingga berdesak-desakkan.

Bahkan saking banyaknya penumpang, ada yang lain duduk diatas bagasi dan bergelantungan ditiang-tiang kayu penyangga bagasi bagian belakang mobil.

Satu kali narik, biasanya dapat Rp 700.000 sampai Rp 800.000. Tapi sekarang ni sonde bisa berharap banyak, tidak pegang uang lagi su sekarang kaka. Sonde bisa beli rokok lagi ni” keluhnya lagi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN