Mohon tunggu...
Agoeng Widodo
Agoeng Widodo Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Seseorang yang sedang belajar, dan sangat memimpikan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Aji Saka Part III (Kesongo)

13 Oktober 2011   12:09 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:00 953 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setelah Jaka Linglung berhasil membunuh bajul putih, maka Aji Saka pun mengakui bahwa dia anaknya. Sejak saat itu, Jaka Linglung pun diajak tinggal di kerajaan Medhangkamulan. Namanya juga seekor ular, maka makanan pokok Jaka Linglung adalah unggas. Semakin hari, tubuh Jaka Linglung semakin besar, dan berarti semakin banyak juga porsi makannya. Hampir setiap hari ada saja  penduduk di sekitar keraton yang melapor kepada Aji Saka, bahwa ternak mereka dimakan oleh Jaka Linglung. Tentu saja hal ini membuat penduduk resah. Akhirnya, Aji Saka memanggil Jaka Linglung. "Wahai putraku Jaka Linglung, akhir-akhir ini kamu telah membuat masyarakat Medhangkamulan resah, karena ternak mereka kamu makan". "Sebagai hukuman atas perbuatanmu, aku perintahkan enkau bertapa di hutan, dan jangan makan apapun kecuali mangsa itu datang sendiri" demikian perintah Aji Saka. Demi menunjukkan bhaktinya kepada orang tua, Jaka Linglung pun segera bertapa di hutan. [caption id="attachment_135543" align="aligncenter" width="800" caption="sumber dari google"][/caption] Hari terus berlalu dan bahkan bulan pun berganti. Jaka Linglung masih bertapa di dalam hutan. Dikisahkan, suatu hari di musim hujan, ada 10 anak menggembalakan ternak di areal hutan. Mereka menggembala sambil bermain dengan riang. Tiba-tiba langit terlihat gelap, dan petir menggelegar. Tak lama hujan turun dengan deras. 10 anak inipun berlarian mencari tempat berteduh. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah goa. Kesepuluh anak gembala tersebut langsung masuk ke mulut goa. [caption id="attachment_135544" align="aligncenter" width="150" caption="ilustrasi dari google"][/caption] Namun dari 10 anak tersebut, ada 1 anak yang menderita penyakit kulit (gudhik) sehingga saat basah terkena hujan menimbulkan bau anyir.  Oleh teman-temannya dia disuruh keluar dari dalam goa, karena baunya mengganggu yang lain. Dengan berat hati anak tersebut keluar dari dalam goa. Saat dia keluar dari goa, tak lama kemudian goa tersebut tiba-tiba menutup. Dan anak tersebut segera lari tunggang langgang demi melihat ternyata yang mereka sangka goa tersebut ternyata mulut ular yang bernama Jaka Linglung. [caption id="attachment_135541" align="aligncenter" width="500" caption="sumber dari google"][/caption] Di tempat ke 9 (songo bahasa Jawa) anak tersebut hilang sini lah maka areal ini kemudian dinamakan Kesongo. Kesongo ini terletak di areal kawasan hutan Perum Perhitani KPH Randhublatung.  Kawasan ini terdiri dari 3 habitat, yakni kawasan lumpur, kawasan rawa, dan kawasan padang rumput. [caption id="attachment_135542" align="aligncenter" width="454" caption="sumber google"][/caption] Lumpur yang ada di wilayah Kesongo ini menyerupai Bledug Kuwu, namun semburan lumpurnya kecil-kecil. Menurut dongeng Bapak saya, di sinilah Jaka Linglung bertapa. Sampai sekarang, penduduk sekitar kawasan ini masih percaya kalau Jaka Linglung memang masih ada. Bahkan sekali waktu terdengar suara bergemuruh di kawasan sini, dan diikuti gempa kecil. Hal itu diyakini dari pergerakan ular yang bernama Jaka Linglung. Percaya atau tidak? Namanya juga Dongeng.

Mohon tunggu...

Lihat Dongeng Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan