Mohon tunggu...
Genre KabupatenTangerang
Genre KabupatenTangerang Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Forum GenRe Kabupaten Tangerang

Forum Genre Kab.Tangerang merupakan Forum Generasi Berencana yang bertujuan menggali, membina dan mengembangkan potensi kreativitas, intelektualitas, Remaja di Indonesia, Khususnya Remaja Di Kabupaten Tangerang. Mendukung dan membantu Pemerintah Republik Indonesia melalui DPPKB & BKKBN dalam menyiapkan ketahanan remaja, mencegah Triad KRR (Seks Pra Nikah, Nikah Dini, Penyalahgunaan Napza) dan peningkatan kualitas remaja untuk menciptakan generasi emas Indonesia Serta Menjadi Forum himpunan PIK R Pusat Informasi Dan Konseling Remaja di Kabupaten Tangerang yang dapat diakses masyarakat dalam menyiapkan masyarakat guna mendukung program generasi berencana.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Pengaruh Pola Asuh Ibu Pada 1000 HPK Anak Dalam Pencegahan Stunting dan Terwujudnya Bonus Demografi

25 September 2021   21:21 Diperbarui: 25 September 2021   21:27 109 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

PENDAHULUAN

Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang masih banyak terjadi pada anak Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018, stunting di Indonesia memiliki prevalensi mencapai 12.780 jiwa (42,6%), sedangkan batasan untuk stunting menurut WHO adalah kurang dari 20% (Kemenkes RI, 2018). Jika masalah gizi ini tidak ditangani maka akan menimbulkan masalah berskala besar dan bangsa Indonesia dapat mengalami lost generation.

Stunting perlu menjadi perhatian khusus karena masalah gizi ini berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada anak. Penderita stunting memiliki risiko gangguan perkembangan kemampuan motorik dan mental, tentu hal ini tidak bisa dibiarkan dan dijadikan sebagai persoalan yang sederhana. Deteksi dini terhadap penyimpangan pertumbuhan pada anak diperlukan guna pemberian terapi lebih awal dengan harapan mengurangi dan mencegah risiko terjadinya stunting.

Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030 (Darojat Nurjono, 2019). Bonus demografi terjadi ketika jumlah usia produktif (15-64) sangat besar dibandingkan proporsi penduduk usia lanjut. Potensi dari bonus demografi bagi negara adalah untuk optimalisasi pembangunan dan kesejahteraan. Di kesempatan bonus demografi ini, Indonesia mempunyai kesempatan yang besar dalam memacu produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan untuk kemakmuran bangsa dan peningkatan kesejahteraan yang terasa hingga berpuluh-puluh tahun yang akan datang.

Pemabangunan suatu negara sejatinya diawali dari pembangunan keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat yang memiliki peranan penting sebagai aset bangsa. Keluarga merupakan salah satu pelaku (subyek) pembangunan suatu negara dan bukan hanya dianggap menjadi sasaran pembangunan. Momentum bonus demografi sudah sepatutnya dipersiapkan dengan maksimal. Maka dari itu perlu adanya upaya dari seluruh pihak terutama fokus dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk mewujudkannya memang tidak seringan membalikkan telapak tangan, diperlukan adanya komitmen yang besar dari pemerintah dalam menyiapkan kebijakan dan strategi pembangunan yang jelas dan tepat. Bersama BKKBN sebagai institusi yang bergerak di bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana mendorong terciptanya keluarga berkualitas yang harapannya akan mencetak generasi yang berkualitas juga.

Stunting itu Genting!

Stunting merupakan salah satu bentuk masalah yang ditandai dengan kurang gizi kronis yang penyebabnya adalah asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kekurangan gizi yang terjadi pada usia dini menyebabkan meningkatnya angka kematian bayi dan anak, penderitanya memiliki postur tubuh yang tidak maksimal dan mudah mengalami sakit. Selain itu, memiliki akibat kemampuan kognitif para penderita juga mengalami penurunan, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang yang akan dirasakan oleh Indonesia. Persepsi yang sering muncul di kalangan masyarakat adalah menganggap tumbuh pendek sebagai faktor dari keturunan. Persepsi ini yang menjadikan masalah stunting ini tidak mudah diturunkan maka diperlukan kontribusi besar dari berbagai pihak.

Kekurangan gizi akan terjadi begitu saja sejak bayi berada di dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, tetapi kondisi stunting baru terlihat ketika bayi sudah berusia 2 tahun. Penderita stunting ini akan mengalami berbagai masalah saat beranjak dewasa. Dalam jangka panjang berbagai macam penyakit degeneratif memiliki kemungkinan untuk menyerang penderita stunting, seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes melitus, dan gagal ginjal. Keturunan yang dihasilkan dari penderita stunting berpotensi juga mengalami kehidupan dengan kondisi stunting bahkan ini akan terjadi pada dua keturunan selanjutnya. Oleh karena itu, stunting ini merupakan masalah yang serius bahkan menjadi masalah global. Jika hal ini tak diatasi dengan baik, maka suatu negara akan mengalami lost generation dan berdampak buruk pada masa depan suatu bangsa.

Penyebab Fenomena Stunting
Stunting disebabkan karena berbagai faktor yang bisa dicetuskan pada berbagai masa pertumbuhan, masa pra-konsepsi (sebelum kehamilan), masa fertilisasi, masa kehamilan, hingga usia balita dan usia sekolah. Stunting memiliki hubungan erat dengan kekurangan nutrisi yang terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) yang terhitung sejak masa konsepsi hingga anak berusia dua tahun. Periode 1000 HPK menjadi simpul kritis sebagai awal terjadinya pertumbuhan stunting. Di periode ini, otak anak mengalami perkembangan setara dengan volume otak orang dewasa. Pendidikan ibu mengenai pola asuh yang diterapkan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Praktek pengasuhan yang kurang baik akibat kurangnya

pengetahuan sang ibu mengenai gizi dan kesehatan di masa kehamilan dan melahirkan memberikan pengaruh besar terjadinya pertumbuhan stunting. Balita yang diasuh oleh ibu yang mempunyai pola asuh yang buruk 3,8 kali lebih berisiko mengalami kejadian stunting. Sebanyak 60% menunjukkan anak usia 0-6 bulan belum mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, padahal ASI menjadi sumber nutrisi yang baik dalam membentuk daya tahan tubuh anak, dan 2 dari 3 anak berusia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Balita yang mendapatkan MPASI yang monoton atau tidak variatif dan frekuensi pemberian makan yang tak sesuai dengan anjuran dapat mengakibatkan penurunan kualitas zat gizi dan menyebabkan stunting (Loya & Nuryanto, 2017). Variasi jenis makanan yang dimaksud adalah ragam bahan makanan yang menerapkan prinsip gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak untuk optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan. Variasi makanan dapat berupa nasi, lauk pauk, buah, sayur, dan susu yang kaya akan zat gizi (DEPKES, 2011).

Selain pola asuh ketika bayi lahir, ibu juga harus memperhatikan kondisi saat masa kehamilan. Ibu yang memiliki riwayat kekurangan energi kronik selama kehamilan memiliki risiko lebih mengalami stunting pada calon anaknya nanti. Kekurangan energi kronik ini membuat ibu hamil tidak memiliki cadangan gizi yang kuat sesuai kebutuhan fisiologis kehamilan. Saat sang ibu yang sedang hamil mengalami gangguan nutrisi akan menyebabkan cardiac output yang memenuhi syarat. Dengan kejadian itu, aliran darah ke plasenta menurun dan membuat plasenta menjadi kecil dari ukuran normal. Plasenta yang berukuran lebih kecil akan mengurangi suplai zat-zat gizi dari ibu ke janin dan pada akhirnya pertumbuhan janin menjadi terhambat (Ranuh & Soetjiningsih, 2013) walaupun gen dalam janin memiliki potensi untuk tumbuh secara normal (Baker, 2007).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan