Mohon tunggu...
Rachmad Gempol
Rachmad Gempol Mohon Tunggu...

RACHMAD YULIADI NASIR, Jurnalis Independent. Mesjid Deah Bitay Aceh Turkiye Jl.Teungku Di Bitay No.1\r\nBitay Jaya Baru Banda Aceh 23235. SMS: 088260020123\r\n

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Khasanah Wayang dalam Budaya Bangsa Indonesia

28 November 2012   03:43 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:34 0 0 1 Mohon Tunggu...

JAKARTA-GEMPOL, Wayang merupakan karya seni yang memiliki keunikan yang luar biasa. Dari sebuah pergelaran wayang, kita tidak hanya memperoleh tontonan, namun juga mendapatkan tuntunan. Dengan keindahannya, wayang menjadi media hiburan. Namun wayang juga bisa menjadi sarana penyebaran informasi efektif untuk mendidik masyarakat melalui penyampaian pesan-pesan, terutama pesan nilai-nilai moral. Wayang Indonesia sepatutnya menjadi salah satu warisan dunia. Hal ini kemudian diakui oleh oleh United Nations Education Social and Culture Organization (UNESCO) pada tanggal 7 November 2003 yang lalu bahwa Wayang Indonesia merupakan Karya Agung Budaya Dunia atau Masterpiece of the Oral Intangible Heritage of Humanity. Di masa yang lalu, wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang yang menceritakan tentang kehidupan manusia. Dulu, nenek moyang kita meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat, sehingga saat itu (barangkali sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi bayangan atau dalam bahasa Jawanya “wewayangan”. Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen. Namun, setelah agama-agama besar masuk ke Indonesia, wayang berubah peran menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, sehingga muncullah banyak lakon yang disesuaikan dengan konteks ajarannya yang mengusung dan bermetamorfosis dengan realita jamannya. Di era modern ini, wayang merupakan sebuah kesenian. Wayang merupakan warisan budaya klasik yang mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yang berarti sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita yang terbeber jelas dalam hati si penggambar. Wayang juga bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan karakter manusia yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang. Pelataran lapangan Monas menjadi saksi bisu kegiatan Wayang summit 2012 selama dua hari, 24-25 November 2012, masyarakat Ibukota Jakarta ikut juga menyaksikan wayang semalam suntuk. Wayang Summit 2012 menjadi bagian dalam rangka memelihara dan melestarikan budaya bangsa. Perhelatan multi event mengenai Wayang itu mempertemukan tokoh, pakar dan seniman dalang serta pertunjukan wayang dari pelosok nusantara dan mancanegara. Wayang Summit 2012 juga memberikan penghargaan kepada 4 orang Pemerhati Wayang yakni H. Ekotjipto, SH. (Ketua PEPADI, Amb), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum Senawangi), Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijaksanaan Senawangi) dan Elsabeth Proust (Total E & P Indonesia). Penghargaan juga diberikan dalam bentuk wayang kepada 5 wakil dalang, yakni Fedelis Kithome dari Kenya, Tang Dayu dari China, dalang cilik Canggih, Ki Wawan Ajen dan Ki Dalang Sukarlana. Wayang Summit 2012 menggelar pergelaran Wayang Dunia yang menampilkan Wayang dari Amerika, Iran, China dan Kenya. Sementara itu Pergelaran Wayang Nusantara menampilkan Wayang Beber Pacitan menghadirkan dalang Mesran Guna Asmara dan dalang kontemporer Tri Ganjar Wicaksono, Wayang Kulit Dalang Bocah (Tri Atmodjo), Wayang Kulit Palembang (Ki Sukartana), Wayang Golek Ajen (Ki Wawan Ajen), Wayang Kulit Palembang (Kgs. Wirawan Rusdi), Wayang Suket (Slamet Gundono), Wayang Golek Menak Jogja (Dr. Junaidi, S.Kar., M.Hum.), Wayang Orang Bharata dan Wayang Kulit Purwa Solo dengan dalang Ki Manteb Soedharsono yang memainkan lakon Bima Bangkit. Acaranya benar-benar mantep...

KONTEN MENARIK LAINNYA
x