Mohon tunggu...
Gatot Swandito
Gatot Swandito Mohon Tunggu... Administrasi - Gatot Swandito

Yang kutahu aku tidak tahu apa-apa Email: gatotswandito@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik

Serangan Kilat Antasari yang Tidak Sanggup Dipatahkan SBY dan Cuitan "Wahai Rakyatku ..." yang Mengakhiri Dinasti Cikeas

16 Februari 2017   11:06 Diperbarui: 16 Februari 2017   11:38 4249
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Kurang dari 24 jam sebelum TPS dibuka pada 15 Februari 2017 pukul 07.00 WIB, Antasari Azhar melancarkan “serangan” mematikannya ke arah SBY. Kepada media, Antasari mengaku didatangi pengusaha media Hary Tanoesoedibyo yang menemuinya sebagai utusan Cikeas yang menyampaikan pesan kepada Antasari agar tidak melanjutkan proses hukum terhadap Aulia Pohan.

Serangan Antasari yang hanya berselang sehari sebelum Pilkada 2017 digelar ini memberi konstribusi atas rontoknya perolehan suara Paslon Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Antasari beralasan waktu serangannya disesuaikan dengan tanggal kematian Nasruddin Zulkarnaen yaitu 14 Maret 2009.

Apa pun itu, serangan dadakan Antasari itu tidak tidak sanggup dihadapi oleh kubu Cikeas yang dimotori oleh SBY. Baik lewat media arus utama, media abal-abal, media sosial, tidak ada satu pun yang mematahkan tuduhan Antasari yang sudah memviral pada Selasa sore.

Bukannya, mematahkan serangan Antasari, kubu Cikeas pendukung Paslon AHY-Sylvi lebih banyak menyerang balik Antasari dengan mengumbar sisi negatif dari masa lalu Antasari. Selain itu mereka memosisikan diri sebagai korban fitnah Antasari. Sementara, tuduhan konspirasi Antasari kepada Cikeas yang masih berupa teori tersebut tidak dipatahkan dengan anti-teori-nya. Akibatnya, calon pemilih menerima tuduhan Antasari
 sebagai sebuah kebenaran.

Pada hari yang sama, Ibas mencuitkan “Wahai Rakyatku ...”. Sama seperti serangan Antasari, kicauan “Wahai Rakyatku ....” juga memviral. Berbeda dengan serangan Antasari yang masih coba dilawan oleh kubu Cikeas, kicauan Ibas ini nyaris tidak ada yang membelanya.

Wajar kalau tidak terlihat seorang pun dari kubu Cikeas yang membela Ibas, karena kicauan Ibas tersebut merupakan blunder fatal. Dan, pembelaan atas sebuah blunder justru akan menghasilkan blunder lainnya.

Blunder fatal “Wahai Rakyatku ...” yang dikicaukan Ibas membuat calon banyak calon pemilih menjadi muak. Bagaimana mungkin anak “kemarin sore” mengatakan “Rakyatku” kepada bangsa Indonesia? Mungkin Ibas tidak pernah berpikir kalau secara konstitusi tidak ada seorang pun yang berkedudukan di atas rakyat. Maka sebutan “Rakyatku” dianggap sebagai ucapan yang merendahkan rakyat sekaligus menunjukkan ketinggian hati pencuitnya.

Kemudian netizen pun balik bertanya, “Memangnya siapa loe?” Pertanyaan balik netizen kepada Ibas itu tidak salah. Netizen, bahkan rakyat Indonesia, menganggap Ibas berhasil menjadi siapa-siapa karena membawa-bawa bapaknya. Tanpa SBY sebagai bapaknya, Ibas bukanlah siapa-siapa.

Cuitan Ibas ini kemudian dikaitkan dengan sosok Agus Harimurti YudhoyonoMuncul pertanyaan, kalau Agus bukan anak SBY, apakah Agus akan diajukan oleh Partai Demokrat sebagai Cagub DKI Jakarta? Gegara kicauan “Wahai Rakyatku ...” inilah pikiran pemilih pun terbuka.

Mereka mulai merenung,”Bagaimana mungkin mantan prajurit TNI berpangkat mayor dan tanpa pengalaman birokrasi berani maju sebagai cagub kalau bukan karena ia anak dari seorang SBY?

Pengguna internet di Jakarta sekitar 70 %. Mereka juga aktif di medsos. Dua peristiwa yang terjadi pada satu hari jelang Pilkada DKI 2017 sedikit banyaknya mempengaruhi pilihan warga Jakarta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun